MARKET DATA

Begini Purbaya Respons Soal Fenomena Aneh di Warteg

chd,  CNBC Indonesia
05 June 2026 16:48
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan pemaparan dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Juni 2026 di kantor pusat Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa saat menyampaikan pemaparan dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Juni 2026 di kantor pusat Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat (5/6/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa buka suara soal munculnya fenomena turunnya daya beli di beberapa warteg, di mana masyarakat sudah mulai mengurangi pembelian lauk pauk yang cenderung mahal.

Purbaya pun mengaku heran dengan adanya fenomena tersebut, karena secara data agregat dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan masih cukup baik.

"Nanti saya cek lagi, tapi harus hati-hati. Saya baru dengar sekarang tuh ada fenomena lesunya daya beli di warteg," kata Purbaya di Kementerian Keuangan, Jumat (5/6/2026).

Pihaknya akan melakukan investigasi terkait perubahan pola konsumsi masyarakat di warteg, di mana saat ini masyarakat cenderung melakukan penghematan dengan menu lauk yang lebih murah.

"Saya sih akan investigasi, betul enggak kondisinya seperti itu. Tapi harus hati-hati. Karena kalau data yang lain kan kelihatan yang agregat tuh tumbuhnya kencang semua. Belanja juga tumbuhnya masih kencang," lanjutnya.

Purbaya melanjutkan, di desa, konsumsi masih cukup tinggi, ditandai dengan masih ramainya beberapa rumah makan.

"Tapi kalau kita jalan ke kampung-kampung, semuanya rame loh. Kemarin saya makan cabai hijau masih rame," ujar Purbaya.

Dia pun meminta agar lebih berhati-hati untuk menerjemahkan data, terutama yang langsung terjadi di masyarakat.

"Jadi hati-hati menerjemahkan data. Saya bukannya anti, tetap saya akan periksa. Tapi jangan sampai simpulkan satu atau dua di tempat, terus artinya semuanya seperti itu. Belum tentu. Saya pernah dikritik sama profesor-profesor saya, ketika melakukan hal seperti itu," tegasnya.

Jika nantinya hasil investigasi menunjukkan benar adanya perubahan konsumsi, Purbaya akan memberikan stimulus ke perekonomian.

"Kalau memang benar ada fenomena itu, di warteg ada perubahan konsumsi, saya akan tambah lagi stimulus kepada perekonomian, itu akan memberi daya beli tambahan ke masyarakat," terang Purbaya.

Sebelumnya, beberapa pedagang warteg makin resah karena menurunnya daya beli masyarakat, terlihat dari perilaku masyarakat yang kini mengurangi lauk pauk efek harga bahan makanan makin mahal.

Pembeli mulai hanya membeli lauk pauk di bawah Rp15.000 hingga Rp20.000, seperti tempe-tahu, telur balado, dan aneka gorengan. Pembeli juga menyiasati lebih banyak menggunakan sayuran.

Sedangkan lauk seperti ayam goreng, rendang daging sapi, semur sapi, cumi-cumi hitam, dan udang (goreng dan balado) pun mulai jarang dibeli.

Pembeli juga mulai banyak membeli menu warteg seharga Rp10.000-an, dan sudah mulai jarang ditemui yang membeli lebih dari Rp20.000.

Hal ini lantaran adanya kenaikan harga bahan pangan dan harga barang lainnya, sehingga masyarakat cenderung mulai mengurangi konsumsi.

(chd/haa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Muncul Fenomena Aneh di Warteg, Sinyal Ekonomi RI Tak Baik-Baik Saja?


Most Popular
Features