Trump Bikin Bingung, Sebut Perang Iran Kelar Berujung Kena Tampar DPR
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, menghadapi kontradiksi politik yang makin sulit diabaikan terkait perang melawan Iran. Di satu sisi, pemerintahannya berulang kali menyatakan konflik tersebut pada dasarnya telah berakhir.
Namun di sisi lain, Trump masih mengaku sedang menjalankan negosiasi terakhir untuk mengakhiri perang yang sama. Sembari mengecam anggota Kongres yang berupaya menghentikan keterlibatan militer AS.
Perdebatan itu kembali mengemuka setelah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS pada Rabu meloloskan resolusi yang memerintahkan presiden menarik pasukan Amerika dari konflik dengan Iran. Resolusi tersebut disahkan dengan selisih tipis, 215 suara berbanding 208.
Pemungutan suara itu menjadi pertama kalinya salah satu kamar di Kongres berhasil meloloskan langkah semacam itu sejak dimulainya Operasi Epic Fury pada 28 Februari lalu, operasi militer yang menandai keterlibatan langsung Amerika Serikat dalam perang melawan Iran.
Sehari setelah pemungutan suara, Trump melancarkan kritik keras melalui platform Truth Social. Ia menyebut langkah DPR tersebut sebagai tindakan yang "tidak patriotik" dan menyalahkan apa yang disebutnya sebagai sindrom kebencian terhadap Trump.
Namun, mengutip analisis The Guardian Sabtu (5/6/2026), fakta bahwa empat anggota Partai Republik ikut mendukung resolusi tersebut menunjukkan bahwa keraguan terhadap perang Iran tidak hanya datang dari kubu Demokrat. Keempat anggota DPR dari Partai Republik yang membelot memiliki latar belakang politik yang berbeda-beda.
Thomas Massie dari Kentucky dikenal sebagai politisi berhaluan libertarian dan pendukung kuat konstitusi. Sejak hari pertama perang, Massie secara konsisten menentang keterlibatan militer AS.
Ia bahkan telah kalah dalam pemilihan pendahuluan dari kandidat yang didukung Trump, sehingga menurut banyak pengamat politik, ia tidak lagi memiliki banyak pertimbangan politik untuk menjaga hubungan dengan presiden.
Sementara itu, Warren Davidson dari Ohio merupakan lulusan Akademi Militer West Point, mantan anggota pasukan elite Army Ranger, serta pernah menjadi anggota Freedom Caucus yang konservatif. Davidson sempat menolak perang bersama Massie pada Maret, kemudian kembali mendukung posisi pemerintah sebelum akhirnya kembali berbalik mendukung resolusi penghentian perang.
Tokoh Republik lain yang ikut mendukung resolusi adalah Brian Fitzpatrick dari Pennsylvania. Mantan agen FBI yang mewakili daerah pinggiran Philadelphia itu selama ini dikenal sebagai politikus moderat. Ia menjelaskan keputusannya dengan alasan hukum yang menurutnya sederhana.
"Anda harus mengikuti hukum, atau Anda harus mengubah hukum," kata Fitzpatrick. "Anda tidak bisa melanggar hukum. Itu bukan pilihan."
Sementara itu, Tom Barrett dari Michigan sebelumnya menolak resolusi serupa pada Maret. Saat itu ia mengatakan Trump telah "mendapatkan kesempatan untuk menyelesaikan konflik ini dengan cepat".
Namun pada Mei, Barrett mengubah sikapnya. Ia menyebut tekanan ekonomi yang dirasakan para konstituennya sebagai alasan utama perubahan pandangannya terhadap perang.
Keempat legislator tersebut akhirnya bersatu dalam pemungutan suara yang berlangsung Rabu malam.
Pemerintah Bersikeras Perang Sudah Berakhir
Menariknya, pemungutan suara itu berlangsung ketika pemerintahan Trump justru berkali-kali menyatakan perang dengan Iran telah selesai. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan kepada Kongres pekan ini bahwa Operasi Epic Fury telah "berakhir".
Pemerintah AS juga menegaskan bahwa operasi militer yang masih berlangsung saat ini hanya berupa serangan yang "sepenuhnya bersifat defensif". Namun berbagai indikator menunjukkan situasi konflik masih berdampak besar terhadap ekonomi global dan domestik Amerika Serikat.
Harga bensin rata-rata nasional kini mendekati US$4,24 per galon. Di California, harga bensin bahkan hampir mencapai US$6 per galon.
Selain itu, Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% aliran minyak dunia masih secara efektif tertutup, meskipun perang telah berlangsung lebih dari tiga bulan sejak serangan pertama terhadap Iran. Kontradiksi itu makin terlihat dalam unggahan Trump sendiri.
Dalam unggahan yang sama saat mengecam DPR, Trump menulis bahwa dirinya tengah menjalankan "negosiasi terakhir untuk mengakhiri perang dengan Republik Islam Iran". Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan karena perang yang menurut pemerintah telah selesai ternyata masih memerlukan negosiasi untuk diakhiri.
Data survei juga menunjukkan bahwa penjelasan pemerintah tidak sepenuhnya diterima masyarakat AS. Survei Economist/YouGov pada Mei menemukan bahwa 59% warga Amerika tidak menyetujui cara Trump menangani konflik Iran, di mana hanya 31% yang menyatakan mendukung kebijakan tersebut.
Sementara itu, survei Reuters/Ipsos menunjukkan sekitar dua pertiga warga AS mengaku kenaikan harga bahan bakar telah memperburuk kondisi keuangan rumah tangga mereka. Lembaga riset ekonomi Moody's Analytics memperkirakan konflik Iran telah membebani rumah tangga Amerika sekitar US$100 miliar secara agregat akibat meningkatnya biaya energi.
Â
(luc/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]