Iran Akhirnya Sadar Punya Senjata Baru, Harga Minyak Bisa Panas Terus
Jakarta, CNBC Indonesia - Iran dinilai memperoleh sumber pengaruh baru terhadap ekonomi global setelah menunjukkan kemampuannya mengganggu lalu lintas energi di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia. Sejumlah analis menilai pengaruh Teheran atas selat strategis tersebut akan bertahan jauh melampaui konflik yang tengah berlangsung dengan Amerika Serikat dan Israel.
"Yang telah ditunjukkan Iran adalah bahwa mereka memiliki kekuatan untuk menutup Selat Hormuz dan tetap menutupnya, bahkan di tengah bombardir besar-besaran AS dan Israel. Dan itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa diambil dari mereka," kata Analis Senior Eurasia Group Gregory Brew, seperti dikutip CNN International, Jumat (5/6/2026).
Ia bahkan menyebut kemampuan tersebut sebagai "opsi nuklir baru" bagi Iran.
Meski peluang tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran masih terbuka, para ahli menilai hal itu tidak serta-merta menghapus daya tawar baru Iran di sektor energi. Sebelum konflik pecah, sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan gas alam cair (LNG) global melintasi Selat Hormuz, sehingga setiap gangguan di kawasan itu langsung berdampak pada pasar energi internasional.
Dampaknya tidak hanya dirasakan sektor energi. Ketidakpastian keamanan di Selat Hormuz juga berpotensi mengganggu pasokan berbagai komoditas penting lain, mulai dari pupuk, bahan bakar pesawat, helium hingga aluminium. Upaya diversifikasi jalur pasokan energi dan pengurangan ketergantungan terhadap Timur Tengah diperkirakan akan meningkatkan biaya bagi banyak negara.
Iran sendiri mulai memperkuat kendalinya atas jalur pelayaran tersebut. Bulan lalu, Teheran membentuk Persian Gulf Strait Authority (PGSA) yang bertugas mengawasi aturan baru transit kapal, termasuk inspeksi dan kemungkinan pengenaan biaya bagi kapal yang melintas.
Di sisi lain, AS menjatuhkan sanksi terhadap PGSA dan melarang perusahaan pelayaran membuat kesepakatan dengan Iran untuk memperoleh jalur aman. Washington juga mengancam sanksi sekunder bagi perusahaan yang membayar biaya transit kepada Teheran. Namun sejumlah pedagang minyak dan operator kapal dilaporkan tetap menjalin kesepakatan dengan Iran demi menjaga pasokan minyak global yang makin ketat.
Wakil Presiden Senior Wood Mackenzie Alan Gelder mengatakan prioritas utama pasar saat ini adalah memastikan arus kapal melalui Selat Hormuz kembali normal. "Yang penting adalah aliran melalui selat tersebut kembali dalam volume yang signifikan. Itu akan mulai menghilangkan guncangan energi," ujarnya.
Wood Mackenzie memperingatkan bahwa apabila Selat Hormuz tetap tertutup hingga akhir tahun, harga minyak Brent berpotensi mendekati US$200 per barel. Menurut Kepala Ekonom Wood Mackenzie Peter Martin, kondisi tersebut dapat mengubah guncangan energi menjadi krisis ekonomi global.
Gelder memperkirakan biaya transit sekitar US$2 juta per kapal tanker, setara Rp36 miliar, hanya akan menambah sekitar US$1 per barel pada harga minyak. Namun analis geopolitik Rystad Energy Jorge Leon menilai dampaknya bisa lebih besar. Menurutnya, pasar akan membebankan premi risiko geopolitik sebesar US$10-US$20 per barel.
"Kami yakin Iran akan mempertahankan semacam pengaruh atas Selat Hormuz ke depannya. Risiko gangguan lebih lanjut di selat tersebut nyata," kata Leon. Ia menambahkan harga minyak kemungkinan tidak akan kembali ke level US$60 per barel seperti awal tahun, bahkan hingga 2027.
Kekhawatiran tersebut telah mendorong negara-negara Teluk mempercepat pembangunan jalur ekspor alternatif. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab telah memanfaatkan jaringan pipa yang menghindari Selat Hormuz, sementara Abu Dhabi juga sedang mengembangkan pipa tambahan. Namun bagi negara seperti Qatar, Kuwait, dan Bahrain, alternatif tersebut dinilai lebih mahal dan rumit karena membutuhkan proyek infrastruktur lintas negara bernilai miliaran dolar.
Meski demikian, para analis menilai Timur Tengah tetap akan menjadi pusat pasokan energi dunia dalam beberapa tahun ke depan. Karena itu, kemampuan Iran untuk mengancam lalu lintas di Selat Hormuz akan terus menjadi faktor penting yang memengaruhi harga energi global.
"Ekonomi global harus mengakui kenyataan itu. Pada akhirnya, keamanan Hormuz dan Teluk Persia akan sangat bergantung pada tindakan dan keputusan yang diambil Iran," kata Brew.
(tfa/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]