Tok! Usai Iran, Trump Incar Negara Ini-Jatuhkan Sanksi ke Presiden
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat kembali meningkatkan tekanan terhadap Kuba dengan menjatuhkan sanksi baru kepada Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, sejumlah anggota keluarganya, serta beberapa anggota keluarga Castro yang masih memiliki pengaruh besar di negara komunis tersebut.
Di antara mereka yang menjadi sasaran sanksi adalah putra dan cucu mantan Presiden Kuba, Raúl Castro. Meski tidak lagi memegang jabatan resmi, Raúl Castro masih dipandang sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam struktur kekuasaan Kuba.
Selain Díaz-Canel, pemerintah AS juga menjatuhkan sanksi kepada istrinya dan anak tirinya. Langkah tersebut turut menyasar Kementerian Angkatan Bersenjata Revolusioner Kuba serta sejumlah entitas lainnya yang dianggap terkait dengan pemerintahan Havana.
Kebijakan terbaru itu muncul di tengah kampanye tekanan yang makin agresif dari Presiden AS, Donald Trump, terhadap negara tetangganya tersebut.
Meski Kuba telah berada di bawah embargo perdagangan Amerika Serikat sejak 1962, pemerintahan Trump dalam beberapa bulan terakhir mengambil langkah-langkah yang jauh lebih keras dibandingkan sebelumnya. Washington telah memangkas pasokan bahan bakar ke pulau tersebut dan bahkan beberapa kali melontarkan ancaman untuk mengambil alih Kuba.
Pemerintah AS beralasan bahwa rezim komunis Kuba merupakan ancaman bagi keamanan warga Amerika dan kepentingan nasional AS.
Trump berulang kali menyatakan bahwa Kuba bisa menjadi rezim berikutnya yang tumbang setelah tergulingnya pemimpin sosialis Venezuela, Nicolás Maduro, pada Januari lalu serta kampanye militer yang dipimpin AS terhadap Iran.
Dalam pernyataannya pada Kamis (4/6/2026), Trump kembali mengaitkan Kuba dengan perkembangan konflik di Timur Tengah.
"Kami akan menangani Republik Islam Iran, dan segera setelah itu selesai, dalam perjalanan pulang, kami hanya akan singgah sebentar," kata Trump, merujuk pada Kuba, dilansir Reuters.
Meski demikian, Trump membantah bahwa sanksi terbaru tersebut bertujuan mempercepat keruntuhan pemerintahan Kuba.
Langkah baru Washington ini mengikuti sejumlah tindakan sebelumnya, termasuk dakwaan pembunuhan yang diajukan AS terhadap Raúl Castro serta sanksi terhadap konglomerat militer yang mengendalikan sebagian besar perekonomian Kuba.
Sebenarnya Washington telah lebih dahulu menyasar Díaz-Canel tahun lalu dengan melarang dirinya dan keluarganya memasuki wilayah Amerika Serikat.
Pemerintah Kuba langsung merespons keras kebijakan terbaru tersebut.
Dalam unggahan di platform X, Díaz-Canel menuduh Trump berusaha "memperkuat blokade dan skenario konflik antara Kuba dan Amerika Serikat." Ia juga menegaskan rakyat Kuba tidak akan menyerah menghadapi tekanan Washington.
Díaz-Canel berjanji bahwa rakyat Kuba akan "melawan gempuran imperialis."
Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodríguez, juga mengecam langkah AS.
Menurutnya, sanksi yang ia sebut sebagai tindakan "keji" akan dihadapi dengan "persatuan dan tekad yang lebih besar dari rakyat kami."
Sementara itu, Trump mengatakan tujuannya bukan menghancurkan Kuba, melainkan melihat negara tersebut menjadi lebih baik.
Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, ia mengatakan hanya ingin Kuba menjadi "negara yang dikelola dengan baik dan mampu memberi makan rakyatnya." Namun Trump juga menggambarkan kondisi ekonomi Kuba saat ini dalam situasi yang sangat buruk.
"Tetapi negara itu kelaparan, tidak memiliki energi, tidak memiliki minyak, tidak memiliki uang, tidak memiliki apa-apa," katanya.
Meski melontarkan kritik keras, Trump juga menyebut Kuba memiliki potensi ekonomi yang besar. Ia mengatakan Kuba memiliki "sebidang tanah yang indah" dan menambahkan, "Anda bisa memiliki resor-resor yang indah."
(luc/luc) Add
source on Google [Gambas:Video CNBC]