Chaos! Mahasiswa Bentrok dengan Polisi, Protes Kebijakan Presiden
Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang penolakan terhadap kebijakan penghematan anggaran pemerintahan Presiden Cile, José Antonio Kast, memuncak pada Rabu (3/6/2026) waktu ketika ribuan mahasiswa, guru, dan aktivis sosial turun ke jalan di ibu kota Santiago. Aksi yang awalnya berlangsung damai berubah menjadi bentrokan dengan aparat kepolisian di tengah kemarahan publik terhadap pemangkasan anggaran pendidikan dan kebijakan penghematan negara yang tengah dijalankan pemerintah.
Demonstrasi besar-besaran tersebut menjadi salah satu unjuk rasa terbesar sejak Kast menjabat sebagai presiden pada 11 Maret lalu. Massa menuduh pemerintah mengorbankan sektor pendidikan dan layanan publik demi memenuhi target pengetatan fiskal yang ambisius.
Sejak dilantik, Kast yang dikenal sebagai pemimpin berhaluan ultrakonservatif telah berjanji memangkas belanja publik sekitar US$6 miliar dalam kurun 18 bulan guna memperbaiki kondisi fiskal negara. Sebagai bagian dari program penghematan tersebut, pemerintah menerapkan pemotongan anggaran hampir 3% di seluruh kementerian.
Langkah itu memicu kritik luas, tidak hanya dari partai-partai oposisi tetapi juga dari sejumlah kelompok di dalam koalisi pemerintahan sendiri. Banyak pihak menilai kebijakan tersebut berisiko memperburuk kualitas layanan publik, terutama di sektor pendidikan.
Aksi protes pada Rabu diselenggarakan oleh organisasi mahasiswa nasional, Confederation of Chilean Students. Demonstrasi itu juga mendapat dukungan dari berbagai kelompok masyarakat lainnya, termasuk serikat guru, organisasi pelajar sekolah menengah, dan kelompok-kelompok feminis.
Massa memadati jalan-jalan utama Santiago sambil membawa spanduk dan meneriakkan tuntutan agar pemerintah membatalkan pemangkasan anggaran pendidikan. Namun situasi mulai memanas ketika bentrokan pecah antara demonstran dan polisi.
Menurut laporan dari lokasi kejadian, aparat menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan kerumunan. Di sisi lain, sebagian demonstran melemparkan batu dan berbagai benda lainnya ke arah petugas keamanan.
Kerusuhan tersebut menyebabkan sejumlah ruas jalan utama di ibu kota terblokir. Beberapa stasiun kereta bawah tanah juga terpaksa ditutup untuk alasan keamanan dan guna menghindari gangguan yang lebih luas terhadap aktivitas masyarakat.
Presiden Serikat Guru Cile, Mario Aguilar, menuding pemerintah sengaja menciptakan kondisi yang memicu konfrontasi.
"Pemerintah berupaya memprovokasi ini, menciptakan situasi ini untuk membenarkan represi," kata Aguilar, dilansir ABC News.
Selain menentang pemotongan anggaran pendidikan, para demonstran juga menyuarakan penolakan terhadap rancangan undang-undang Rekonstruksi Nasional yang sedang didorong pemerintah.
Paket kebijakan yang luas tersebut dirancang untuk mengurangi pengeluaran negara, mendorong investasi, serta memperkuat pertumbuhan ekonomi Cile. Pemerintah memandang langkah itu sebagai bagian penting dari strategi pemulihan ekonomi dan penyehatan fiskal.
Rancangan tersebut dikenal luas dengan sebutan "mega-reform" bill karena cakupan kebijakannya yang sangat besar dan berdampak pada berbagai sektor.
Pada akhir Mei lalu, rancangan undang-undang tersebut telah memperoleh persetujuan dari majelis rendah parlemen Cile dan kini akan memasuki tahap pembahasan di Senat.
Bagi para pengunjuk rasa, paket reformasi tersebut dipandang sebagai ancaman terhadap hak-hak sosial dan layanan publik yang selama ini dinikmati masyarakat.
Salah seorang peserta aksi, mahasiswa berusia 21 tahun bernama Magdalena Correa, mengatakan para demonstran tidak akan menghentikan perlawanan mereka meskipun pemerintah terus melanjutkan agenda reformasi fiskalnya.
"Mereka ingin membungkam kami, tapi kami tidak akan berhenti," ujar Correa. "Mereka membawa hak dan sumber daya kami dan kami harus melawan balik," lanjutnya.
Hingga Rabu malam waktu setempat, pihak kepolisian maupun pejabat pemerintah belum memberikan komentar resmi mengenai bentrokan yang terjadi selama demonstrasi tersebut.
Meski demikian, jurnalis The Associated Press yang berada di lokasi menyaksikan sedikitnya selusin orang ditangkap selama kerusuhan berlangsung. Selain itu, sejumlah orang juga dilaporkan mengalami luka-luka akibat bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan.
(luc/luc) Add
source on Google [Gambas:Video CNBC]