MARKET DATA
Internasional

Trump-Netanyahu Ketahuan Ribut, Begini Kata Para Analis

tfa,  CNBC Indonesia
03 June 2026 14:40
Foto kolase Donald Trump dan Benjamin Netanyahu. (AP Photo)
Foto: Foto kolase Donald Trump dan Benjamin Netanyahu. (AP Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Laporan mengenai ketegangan hubungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menjadi sorotan. Namun, sejumlah analis menilai berbagai kebocoran informasi terkait perselisihan keduanya lebih merupakan bagian dari strategi komunikasi politik ketimbang mencerminkan perubahan nyata dalam kebijakan Washington terhadap Israel.

Media Axios melaporkan bahwa Trump sempat menyebut Netanyahu "sangat gila" dan memarahinya terkait eskalasi operasi militer Israel di Lebanon. Namun, para pengamat menegaskan bahwa yang lebih penting bukanlah isi percakapan tertutup para pemimpin, melainkan kebijakan yang diterapkan di lapangan.

"Yang benar-benar penting adalah apa yang sebenarnya terjadi dalam praktiknya," kata Direktur Kebijakan National Iranian American Council Action (NIAC) Ryan Costello kepada Al Jazeera, dikutip Rabu (3/6/2026).

Laporan mengenai ketegangan antara pemimpin AS dan Israel sebenarnya bukan hal baru. Pada masa pemerintahan Joe Biden, sejumlah media juga beberapa kali mengabarkan adanya hubungan yang memburuk antara Gedung Putih dan Netanyahu, terutama di tengah perang Gaza yang dimulai pada Oktober 2023. Namun, dukungan AS terhadap Israel tetap berlanjut tanpa perubahan berarti.

Manajer Advokasi organisasi hak asasi manusia DAWN, Isabelle Hayslip, menilai narasi bahwa Trump bersikap keras terhadap Netanyahu tidak sejalan dengan realitas kebijakan yang terjadi. Menurutnya, pemerintah Israel tetap memperoleh dukungan yang diinginkan dari Washington.

"Laporan yang menggambarkan Trump mengangkat telepon dan meneriaki Netanyahu bertentangan dengan hasil kebijakan yang menunjukkan Netanyahu mendapatkan persis apa yang diinginkannya," ujar Hayslip.

Kontroversi ini muncul ketika Trump menghadapi tekanan politik terkait perang melawan Iran yang diluncurkan bersama Israel pada Februari lalu. Konflik tersebut memicu gangguan di Selat Hormuz, mendorong kenaikan harga energi global, serta meningkatkan tekanan inflasi di AS.

Di saat yang sama, upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik masih mengalami kebuntuan. Eskalasi militer Israel di Lebanon bahkan dinilai berisiko menggagalkan gencatan senjata rapuh yang mulai berlaku pada April lalu.

Meski Trump sebelumnya mengklaim telah berbicara dengan Netanyahu dan perwakilan Hizbullah mengenai penghentian tembak-menembak, pemerintah Israel tetap menegaskan operasi militernya di Lebanon selatan akan terus berlanjut sesuai rencana.

Para pendukung Palestina dan sejumlah kelompok hak asasi manusia berpendapat operasi militer Israel di Gaza maupun Lebanon tidak akan berlangsung tanpa dukungan politik, diplomatik, dan militer dari AS. Sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023, Washington telah memberikan bantuan militer hampir US$25 miliar kepada Israel.

Peneliti senior Center for International Policy, Negar Mortazavi, menilai kebocoran mengenai percakapan tegang antara Trump dan Netanyahu kemungkinan bertujuan meredakan kritik publik terhadap keterlibatan AS dalam konflik kawasan Timur Tengah.

"Ini bisa menjadi cara untuk meredam kemarahan atas perang yang tidak populer, ilegal, dan tidak perlu ini," kata Mortazavi.

Namun, ia menegaskan bahwa retorika dan laporan anonim tidak cukup untuk mengukur arah kebijakan suatu negara. Menurutnya, yang terpenting adalah apakah terdapat perubahan nyata di lapangan setelah berbagai laporan tersebut muncul.

Sementara itu, Costello memiliki pandangan berbeda. Ia menilai kebocoran tersebut mungkin ditujukan kepada Iran sebagai sinyal bahwa Trump tetap berupaya memisahkan negosiasi dengan Teheran dari tindakan militer Israel di Lebanon.

Mortazavi juga mengingatkan bahwa konflik antara AS, Israel, dan Iran tidak hanya berlangsung di medan perang, tetapi juga di ranah informasi. Menurutnya, berbagai pihak berusaha membentuk persepsi publik melalui narasi, disinformasi, setengah kebenaran, hingga kebocoran strategis yang sengaja disebarkan kepada media.

(tfa/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Trump dan Netanyahu Ribut di Telepon, Begini Percakapannya


Most Popular
Features