Heboh Negara NATO Jadi "Bajak Laut", Rampok Rusia
Jakarta, CNBC Indonesia - Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengecam keras tindakan militer Prancis yang menyita sebuah kapal tanker minyak di perairan internasional. Pihak Rusia bahkan menyebut aksi sepihak tersebut sebagai tindakan yang mendekati aksi bajak laut, meskipun pemerintah Paris memuji langkah itu sebagai bentuk penegakan sanksi terhadap Moskow.
Mengutip laporan RT, kapal tanker minyak mentah bernama Tagor tersebut disergap dan dinaiki oleh komando pasukan khusus Prancis di Samudra Atlantik. Operasi militer ini dilancarkan dengan mendapat dukungan penuh dari Inggris serta beberapa negara lainnya.
Presiden Prancis Emmanuel Macron Kkemudian mengumumkan langsung operasi tersebut pada hari Senin, sembari menunjukkan rekaman video penyergapan. Macron mengklaim bahwa kapal tersebut "menimbulkan risiko lingkungan serta keselamatan".
Ia juga mengatakan bahwa kapal itu terlibat dalam tindakan penghindaran sanksi internasional. Ini terkait pembatasan perdagangan luar negeri Rusia yang diterapkan sejumlah negara Barat sejak perang Rusia-Ukraina di 2022.
Peskov menolak mentah-mentah klaim Macron yang menyebut bahwa pasukan Prancis telah bertindak sesuai dengan hukum internasional yang berlaku. "Rusia akan menarik pelajaran dari pengalaman negatif ini saat menyesuaikan langkah-langkah yang kami ambil demi memastikan keselamatan pengiriman kami," tegas Peskov, dikutip Rabu (3/6/2026).
Sebenarnya, negara-negara Barat pendukung Ukraina sudah menuduh Rusia menggunakan "armada bayangan atau shadow fleet". Armada ini digunakan untuk menyembunyikan dan mempertahankan arus perdagangan internasional Rusia yang ingin dibatasi Barat demi melemahkan Moskow dan membantu Ukraina.
Di sisi lain, Ukraina sendiri diyakini tengah menjalankan kampanye sabotase terhadap kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan-pelabuhan Rusia. Sabotase ini juga menyasar kapal-kapal yang digunakan oleh pihak ketiga, seperti Konsorsium Pipa Kaspia.
Bulan lalu, sebuah kapal tanker LNG yang tiba di pelabuhan Baltik Rusia di Ust-Luga dari Antwerp, Belgia, ditemukan telah dipasangi bom tempel. Pemerintah Moskow menyatakan bahwa penemuan bom tersebut berhasil menggagalkan apa yang mereka sebut sebagai upaya Ukraina untuk memicu ledakan besar di dekat terminal ekspor pelabuhan.
Sementara itu, berdasarkan data pelacakan maritim publik, kapal Tagor berlayar di bawah bendera Madagaskar dan sebelumnya sempat mengunjungi terminal minyak di dekat pelabuhan Murmansk di Rusia bagian utara. Kapal tersebut dilaporkan telah berhenti memancarkan data transponder sejak lebih dari seminggu yang lalu, saat berlayar di lepas pantai Norwegia.
Pemerintah Prancis sebenarnya pernah melakukan operasi serupa pada Maret lalu ketika angkatan lautnya mencegat Deyna, sebuah kapal tanker minyak yang dituduh Paris sebagai bagian dari "armada bayangan Rusia" saat berlayar di Laut Mediterania setelah bertolak dari Murmansk. Kapal Deyna tersebut akhirnya dibebaskan pada pertengahan April setelah pemiliknya membayar denda kepada otoritas Prancis akibat adanya ketidaksesuaian dokumen administrasi.
Inggris sendiri menjadi salah satu pihak yang paling vokal dalam mendukung peningkatan pencegatan terhadap kapal-kapal yang mengangkut minyak Rusia, meskipun London cenderung menghindari tindakan langsung di lapangan. Pada Maret lalu, kantor Perdana Menteri (PM) Inggris di Downing Street No. 10 mengklaim bahwa kajian hukum telah memberikan lampu hijau bagi pasukan Inggris untuk menaiki dan memeriksa kapal-kapal semacam itu.
(tps/sef) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]