MARKET DATA

Seskab Teddy Balas Dino Patti Djalal soal Presiden ke Luar Negeri

Emir Yanwardhana,  CNBC Indonesia
02 June 2026 06:20
Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya menyampaikan keterangan dengan kunjungan kenegaraan yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto di Instagram Sekretariat Kabinet. (Tangkapan Layar Instagram/sekretariat.kabinet)
Foto: Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya menyampaikan keterangan dengan kunjungan kenegaraan yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto di Instagram Sekretariat Kabinet. (Tangkapan Layar Instagram/sekretariat.kabinet)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menjawab kritikan dari mantan Wakil Luar Negeri Dino Patti Djalal atas kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri. Beberapa hal yang dikritik terkait anggaran biaya hingga jumlah kunjungan ke luar negeri.

Perihal biaya ke luar negeri, menurutnya dana pribadi presiden yang digunakan jika melebihi anggaran yang ditetapkan negara. Terkait jumlah rombongan presiden juga menurutnya saat ini berkurang dari masa pemerintahan sebelumnya.

"Jadi pertama, masalah biaya bila ke luar negeri. Ini sudah dijelaskan beberapa kali, jadi segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo," kata Teddy, mengutip Instagram Sekretariat Kabinet, Senin malam, dikutip Selasa (2/6/2026).

"Jumlah rombongan Presiden Prabowo itu sudah berkurang besar-besaran, lebih dari separuh, dari periode sebelumnya," kata Teddy memberikan gambaran jumlah rombongan kepresidenan bisa mencapai 120 orang, sedangkan saat ini hanya 50-60 orang maksimal.

Adapun terkait jadwal kunjungan ke luar negeri, Teddy menjelaskan bahwa memang ada agenda yang disiapkan dari satu tahun sebelumnya. Namun ada juga jadwal yang mendesak karena suatu kebutuhan di luar negeri, terlebih kondisi dunia yang sangat dinamis.

Teddy juga menjelaskan permasalahan protokoler dan frekuensi ke luar negeri dalam 1,5 tahun terakhir ini disebabkan kebutuhan untuk membangun hubungan diplomasi antar pemimpin negara. Pasalnya setelah Prabowo menjabat sebagai presiden dunia dihadapi krisis akibat konflik yang bertubi-tubi, seperti ada perang di Ukraina, Timur Tengah, hingga Venezuela.

"Jadi setiap pemimpin harus bangun hubungan yang dekat antar pemimpin dunia, dan kita tidak bisa mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Kita harus panen hubungan yang baik, lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita minta bantuan, dan begitu pula sebaliknya. Itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antar pemimpin, baik secara langsung diliput media ataupun tertutup. Itulah diplomasi," kata Teddy.

Dia juga menepis bahwa kunjungan presiden ke luar negeri disebut 'gagah-gagahan seremonial'. Menurutnya dari kunjungan itu sudah banyak hasil kongkrit yang dihasilkan.

"Jadi salah besar kalau dibilang hanya gagah-gagahan seremonial. Jadi kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini," tuturnya.

(sef/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Seskab Teddy Klarifikasi soal Presiden Prabowo Sering ke Luar Negeri


Most Popular
Features