MARKET DATA
Internasional

Iran Makin Berani-Trump Hilang Kendali, AS Takluk di Timur Tengah?

luc,  CNBC Indonesia
27 May 2026 11:30
U.S. President Donald Trump looks on at the White House in Washington, D.C., U.S., May 8, 2026. REUTERS/Elizabeth Frantz
Foto: REUTERS/Elizabeth Frantz

Jakarta, CNBC Indonesia - Respons Amerika Serikat (AS) dan Iran terhadap rentetan serangan terbaru di sekitar Selat Hormuz memperlihatkan arah baru konflik yang semakin rumit. Di tengah status gencatan senjata yang seharusnya masih berlaku, Washington terlihat makin berhati-hati untuk menghindari perang terbuka, sementara Teheran terus menunjukkan sikap menantang dan mengeklaim mampu menekan kepentingan strategis AS di kawasan.

Ketegangan terbaru pecah setelah Iran menuding AS melakukan "pelanggaran terang-terangan" terhadap gencatan senjata lewat serangan ke lokasi peluncuran rudal dan kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz. Di sisi lain, militer AS bersikeras bahwa gencatan senjata masih berjalan meski operasi militer tetap dilakukan.

Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) menuduh kapal-kapal Iran mencoba memasang ranjau di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia. Tuduhan itu dinilai sangat provokatif karena muncul di tengah upaya negosiasi damai paling serius sejauh ini antara kedua negara.

Namun, CENTCOM tetap menegaskan bahwa operasi yang dilakukan bersifat terbatas.

"Komando Pusat AS terus mempertahankan pasukan kami sambil menahan diri selama gencatan senjata yang masih berlangsung," kata juru bicara tersebut, dilansir CNN International, Rabu (27/5/2026).

Menurut analisis CNN, pernyataan itu dinilai mencerminkan pola baru Washington yang berusaha mempertahankan gencatan senjata meski Iran terus melakukan tindakan yang dianggap agresif. Sejumlah analis melihat pemerintahan Presiden AS Donald Trump kini semakin terdesak untuk segera mengakhiri perang, sebuah kondisi yang justru melemahkan posisi tawar Washington dalam perundingan.

Serangan terbaru sendiri terjadi Senin lalu ketika militer AS melancarkan apa yang disebut sebagai "serangan untuk membela diri" terhadap lokasi peluncuran rudal dan kapal di dekat Selat Hormuz. Tak lama kemudian, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeklaim berhasil "menembak jatuh drone AS dan memaksa drone serta jet tempur AS melarikan diri" sebagai bentuk "respons timbal balik".

Meski Iran tampil keras, respons Washington jauh lebih hati-hati. Selain tetap menyebut gencatan senjata masih berlangsung, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dua kali menghindari jawaban langsung saat ditanya soal serangan tersebut dalam kunjungannya ke India.

Pada kesempatan pertama, Rubio berbicara umum soal negosiasi damai. Sementara pada kesempatan kedua, ia menyinggung pentingnya Selat Hormuz tetap terbuka bagi lalu lintas global.

Situasi ini mengingatkan pada serangkaian insiden pada awal Mei lalu. Saat itu, Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengungkap Iran telah sembilan kali menembaki kapal komersial, menyita dua kapal kontainer, serta melakukan "lebih dari 10" serangan terhadap pasukan AS.

Namun, ia langsung menurunkan tensi pernyataannya dengan menyebut seluruh aksi tersebut masih "di bawah ambang untuk memulai kembali operasi tempur besar pada titik ini".

Ia juga menggambarkan insiden tersebut hanya sebagai "serangan kinetik tingkat rendah".

Ketika Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth ditanya apakah gencatan senjata sudah berakhir, ia langsung membantah.

"Gencatan senjata belum berakhir," ujarnya saat itu.

Hegseth bahkan sempat memberi kesan bahwa ketegangan di Selat Hormuz terpisah dari perang utama. Ia meminta Iran "bertindak bijaksana" dan memastikan aksi militernya tidak melewati "ambang batas" pelanggaran gencatan senjata.

Beberapa hari kemudian, AS kembali menyerang fasilitas militer Iran yang disebut bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal perang AS di Selat Hormuz. Namun Presiden Donald Trump kembali meremehkan eskalasi tersebut.

"Gencatan senjata terus berjalan. Itu masih berlaku," kata Trump kepada ABC News pada awal Mei.

Ia bahkan menyebut serangan AS itu hanya sebagai "sekadar sentuhan ringan".

Seperti yang terjadi sekarang, Iran saat itu juga menyatakan gencatan senjata telah dilanggar dan mengklaim meluncurkan serangan balasan.

Persoalan terbesar lainnya adalah Selat Hormuz yang hingga kini belum sepenuhnya dibuka. Padahal saat mengumumkan gencatan senjata pada 7 April lalu, Trump secara tegas menyatakan penghentian serangan hanya berlaku jika Iran segera membuka jalur tersebut.

"Tunduk pada persetujuan Republik Islam Iran untuk membuka Selat Hormuz secara PENUH, SEGERA, dan AMAN, saya setuju menghentikan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu," tulis Trump di media sosial saat itu.

Namun pembukaan "PENUH dan SEGERA" seperti yang diminta Trump tidak pernah benar-benar terjadi. Pemerintahan AS sempat mencoba menampilkan optimisme dengan menyebut ada kemajuan pembukaan jalur pelayaran, tetapi hingga kini-tujuh minggu setelah gencatan senjata berlaku-Selat Hormuz masih mengalami hambatan serius.

Dengan terus meremehkan tindakan Iran dan mempertahankan narasi bahwa gencatan senjata masih berjalan, pemerintahan Trump dinilai menunjukkan kecemasan besar untuk menghindari perang berkepanjangan dan segera mencapai kesepakatan.

Trump juga disebut beberapa kali mengabaikan tenggat yang ia tetapkan sendiri bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan, serta enggan memulai kembali operasi militer skala besar meski terus melontarkan ancaman keras.

Kondisi itu dinilai melemahkan posisi negosiasi Washington. Iran diyakini melihat Trump justru lebih terburu-buru mengakhiri perang dibanding Teheran sendiri.

Perbedaan respons terhadap serangan terbaru disebut semakin memperkuat keyakinan Iran tersebut.

 

(luc/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Breaking: Trump Ngamuk! AS-Iran Saling Serang di Selat Hormuz


Most Popular
Features