MARKET DATA
Internasional

Breaking News: AS-Iran Mau Deal, Selat Hormuz Dibuka-Gencatan Senjata

luc,  CNBC Indonesia
24 May 2026 11:30
Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (4/5/2026). (REUTERS/Stringer)
Foto: Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (4/5/2026). (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan makin dekat mencapai kesepakatan besar yang berpotensi meredakan ketegangan perang di Timur Tengah. Salah satu poin utama dalam rancangan kesepakatan tersebut adalah perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, hingga pelonggaran sanksi yang memungkinkan Iran kembali menjual minyaknya secara bebas ke pasar global.

Laporan itu pertama kali diungkap Axios dengan mengutip seorang pejabat AS yang mengetahui jalannya negosiasi. Jika tercapai, kesepakatan tersebut akan menjadi perkembangan diplomatik paling signifikan sejak konflik antara AS, Israel, dan Iran meletus pada Februari lalu.

Dalam rancangan kesepakatan tersebut, Selat Hormuz yang selama berbulan-bulan menjadi pusat ketegangan global disebut akan kembali dibuka penuh untuk lalu lintas kapal internasional tanpa pungutan biaya tambahan.

Selama periode 60 hari itu, Iran juga disebut akan membersihkan ranjau yang sebelumnya dipasang di perairan Selat Hormuz agar kapal-kapal dapat kembali melintas dengan aman.

"Selama periode 60 hari, Selat Hormuz akan dibuka tanpa pungutan biaya dan Iran akan setuju membersihkan ranjau yang mereka pasang di selat tersebut agar kapal dapat melintas secara bebas," demikian isi laporan Axios, dilansir Minggu (24/5/2026).

Sebagai imbalannya, pemerintah AS disebut akan menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta memberikan sejumlah pengecualian sanksi agar Teheran dapat kembali menjual minyak secara bebas ke pasar internasional.

Kesepakatan ini dinilai sangat penting bagi Iran yang ekonominya terpukul berat akibat perang dan pembatasan ekspor energi selama beberapa bulan terakhir. Di sisi lain, Washington juga menghadapi tekanan domestik akibat lonjakan harga energi global yang dipicu penutupan Selat Hormuz.

Tak hanya menyangkut energi dan jalur pelayaran, draf kesepakatan itu juga mencakup isu program nuklir Iran yang selama ini menjadi sumber utama konflik dengan Barat.

Menurut laporan tersebut, Iran akan berkomitmen untuk tidak pernah mengejar kepemilikan senjata nuklir. Selain itu, Teheran juga disebut bersedia membuka negosiasi mengenai penghentian program pengayaan uranium serta penghapusan stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi yang dimilikinya.

"Draf kesepakatan juga mencakup komitmen dari Iran untuk tidak pernah mengejar senjata nuklir dan untuk bernegosiasi mengenai penghentian program pengayaan uranium serta penghapusan stok uranium yang diperkaya tingkat tinggi," tulis Axios.

Dua sumber yang mengetahui proses negosiasi mengatakan Iran bahkan telah memberikan komitmen verbal kepada AS melalui mediator terkait sejauh mana konsesi yang bersedia diberikan Teheran dalam isu pengayaan uranium dan material nuklirnya.

"Iran memberikan komitmen verbal kepada AS melalui mediator mengenai cakupan konsesi yang bersedia mereka lakukan terkait penghentian pengayaan uranium dan penyerahan material nuklir," kata dua sumber tersebut kepada Axios.

Dalam proposal itu, AS juga disebut bersedia membuka pembicaraan lebih lanjut terkait pencabutan sanksi ekonomi dan pembebasan dana Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri.

"AS juga akan setuju untuk bernegosiasi mengenai pencabutan sanksi dan pencairan dana Iran selama periode 60 hari," demikian isi laporan tersebut.

Meski demikian, hingga kini Gedung Putih belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut. Reuters melaporkan pihak Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar mengenai isi kesepakatan yang sedang dinegosiasikan itu.

Jika benar tercapai, kesepakatan tersebut berpotensi mengubah arah konflik Timur Tengah yang selama berbulan-bulan mengguncang pasar energi global dan memicu kekhawatiran pecahnya perang regional yang lebih luas.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran vital dunia yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global. Penutupan jalur itu oleh Iran sejak perang pecah telah memicu gejolak harga energi internasional dan tekanan ekonomi di berbagai negara.

 

(luc/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Breaking News: Negosiasi Damai Perang AS-Iran Batal Pekan Ini


Most Popular
Features