MARKET DATA
Internasional

Israel Paksa Warga Palestina Gusur Rumah, Demi Proyek 'Raja Yahudi'

tps,  CNBC Indonesia
21 May 2026 05:30
Kondisi kerusakan pada sebuah masjid usai terbakar usai serangan yang menurut warga Palestina setempat dilakukan oleh pemukim Israel di desa Deir Istiya, dekat Salfit di Tepi Barat yang diduduki Israel, Kamis (13/11/2025). (REUTERS/Ali Sawafta)
Foto: Kondisi kerusakan pada sebuah masjid usai terbakar usai serangan yang menurut warga Palestina setempat dilakukan oleh pemukim Israel di desa Deir Istiya, dekat Salfit di Tepi Barat yang diduduki Israel, Kamis (13/11/2025). (REUTERS/Ali Sawafta)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di wilayah Yerusalem Timur yang diduduki Israel kian memuncak setelah sejumlah warga Palestina terpaksa menghancurkan rumah mereka sendiri dengan menggunakan buldozer dan alat berat dalam beberapa pekan terakhir. Langkah tragis tersebut terpaksa diambil demi menghindari denda fantastis dari pemerintah kota Yerusalem yang berniat menggusur paksa kawasan permukiman tersebut demi membangun sebuah taman hiburan berbasis alkitabiah.

Mengutip laporan The Guardian pada Rabu (20/05/2026), salah seorang warga lingkungan al-Bustan bernama Jalal al-Tawil mengungkapkan rasa sakit yang mendalam saat menyaksikan traktor sewaannya merobohkan sisa-sisa rumah yang dibangun oleh mendiang ayahnya. Al-Tawil terpaksa menghancurkan bangunan bersejarah keluarga tersebut secara mandiri karena tidak sanggup membayar denda penggusuran sebesar 280.000 shekel atau setara US$ 72.000 (Rp 1,27 miliar) jika proses pembongkaran dilakukan langsung oleh petugas pemerintah kota Israel.

"Ini adalah sesuatu yang sangat berat, ini adalah sesuatu yang pahit," ujar Jalal al-Tawil.

"Pilihan ini seperti diberikan opsi antara melakukan bunuh diri atau dibunuh secara paksa," tambahnya.

Lebih dari 57 rumah di al-Bustan dilaporkan telah hancur dalam dua tahun terakhir, di mana kawasan tersebut akan disulap menjadi taman bertema biblika bernama Kings Garden yang diklaim sebagai tempat rekreasi Raja Salomo tiga milenia lalu. Peneliti senior dari lembaga advokasi Ir Amim, Aviv Tatarsky, menilai bahwa megaproyek arkeologi ini sengaja dirancang untuk menghapus keberadaan etnis Palestina dari peta geografi dan sejarah Yerusalem demi menciptakan narasi sejarah tunggal Yahudi yang artifisial.

"Israel tidak bersedia mengakui realitas multi-etnis dan multi-kultural di Yerusalem, dan mereka menghapuskan warga Palestina terlebih dahulu," kata Aviv Tatarsky.

"Jika penggusuran ini selesai, warga Israel yang datang ke taman hanya akan melihat cerita fiksi tanpa mengetahui adanya komunitas yang dihancurkan di bawahnya," lanjut Tatarsky.

Tekanan penggusuran oleh otoritas Israel dirasakan kian masif sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, pecahnya perang Gaza, serta kembalinya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS). Seorang ayah dari enam anak, Mohammad Qwaider, mengaku bahwa dirinya baru saja merobohkan sebagian rumahnya demi menenangkan tim perencana kota, meski petugas pemerintah daerah setempat tetap datang dan mengancam akan meratakan seluruh sisa bangunan yang ada.

"Ada anjing liar yang berkeliaran di lingkungan ini pada malam hari yang merasa lebih aman dan terjamin daripada kami," ucap Mohammad Qwaider.

"Jika mereka meruntuhkan rumah kami, kami akan mendirikan tenda dan kami tidak akan pernah pergi meninggalkan tanah ini," tegas Qwaider.

Penderitaan serupa dialami oleh pemimpin komunitas al-Bustan, Fakhri Abu Diab, yang kini terpaksa tinggal di sebuah kabin portabel bersama istrinya di atas puing-puing rumah keluarga empat generasi mereka yang dihancurkan pada tahun 2024 lalu. Selain kehilangan memori masa kecilnya, Abu Diab bahkan masih diwajibkan membayar denda bulanan kepada pemerintah kota atas biaya pembongkaran rumahnya, termasuk biaya logistik makanan polisi Israel yang menjaga operasi tersebut.

"Mereka menghancurkan masa lalu kami, ingatan kami, mimpi kami, masa kecil kami, dan masa depan kami," tutur Fakhri Abu Diab.

"Mungkin Anda melihat saya duduk dan berbicara dengan Anda sekarang, tetapi dari dalam lubuk hati, saya benar-benar terbakar," ungkap Abu Diab.

Di sisi lain, pihak Otoritas Kota Yerusalem berdalih bahwa proyek taman tersebut dibangun untuk kepentingan seluruh penduduk kota karena wilayah al-Bustan diklaim tidak pernah dizonasi sebagai kawasan pemukiman legal. Istri Abu Diab yang berprofesi sebagai guru dan pekerja sosial, Amina Abu Diab, menyatakan kekhawatiran terbesarnya terhadap masa depan anak-anak di lingkungan tersebut yang kini kehilangan rasa aman akibat hilangnya tempat tinggal mereka.

"Sebuah rumah adalah impian anak-anak tentang masa depan, dan jika seseorang datang untuk meruntuhkannya, mereka menghancurkan mimpi tersebut," jelas Amina Abu Diab.

"Lalu apa yang akan dipikirkan anak-anak terhadap kita jika kita sendiri tidak bisa melindungi diri kita dan mereka," pungkas Abu Diab.

(tps/tps) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Uni Eropa Ngamuk! Akhirnya Beri Hukuman ke Warga Israel di Sini


Most Popular
Features