MARKET DATA
Internasional

Perang Baru Arab-Israel Semakin Parah, Sudah Tewaskan 3 Ribu Orang

tps,  CNBC Indonesia
20 May 2026 05:30
Tim penyelamat bekerja di lokasi serangan Israel terhadap sebuah mobil di daerah Jiyeh, selatan Beirut, Lebanon, Rabu (13/5/2026). (AFP/FADEL ITANI)
Foto: Tim penyelamat bekerja di lokasi serangan Israel terhadap sebuah mobil di daerah Jiyeh, selatan Beirut, Lebanon, Rabu (13/5/2026). (AFP/FADEL ITANI)

Jakarta, CNBC Indonesia - Korban tewas dalam pertempuran terbaru antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon kini telah melampaui 3.000 jiwa. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan pada Senin (18/05/2026) bahwa eskalasi mematikan ini terus memakan korban jiwa dari kedua belah pihak tanpa ada tanda-tanda akan mereda.

Mengutip Arab News, Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan bahwa jumlah korban tewas saat ini telah mencapai 3.020 orang akibat rangkaian serangan udara Israel. Dari total korban yang meninggal dunia tersebut, terdapat 292 wanita dan 211 anak-anak yang ikut menjadi korban jiwa.

Pertempuran ini pertama kali pecah pada 2 Maret lalu ketika kelompok militan Hizbullah melepaskan tembakan ke arah Israel. Aksi tersebut terjadi tepat dua hari setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara ke wilayah Iran, yang memicu aksi saling serang tiada henti hingga hari ini meskipun sempat ada kesepakatan gencatan senjata yang rapuh.

Sejak konflik memanas, militer Israel langsung melancarkan invasi darat ke Lebanon selatan serta membombardir ibu kota Beirut dan wilayah sekitarnya. Pihak Tel Aviv menegaskan bahwa operasi militer tersebut sengaja ditargetkan untuk melumpuhkan upaya Hizbullah yang mencoba mempersenjatai diri kembali.

Hizbullah, yang juga merupakan entitas politik paling kuat di Lebanon, secara tegas menolak semua tekanan untuk meletakkan senjata. Kelompok ini bahkan mengabaikan desakan keras yang datang dari dalam pemerintahan Lebanon sendiri untuk segera melakukan perlucutan senjata.

Akibat pertempuran yang terus meluas, lebih dari satu juta warga Lebanon terpaksa angkat kaki dari rumah mereka dan menjadi pengungsi. Sebagian besar dari mereka kini terpaksa bertahan hidup di dalam tenda-tenda darurat yang didirikan di sepanjang jalan raya dan wilayah pesisir pantai di kota Beirut.

Di sisi lain, Israel juga terus kelimpangan dalam membendung serangan pesawat tanpa awak atau drone yang sering diluncurkan oleh Hizbullah. Serangan drone tersebut menargetkan pasukan darat Israel yang berada di dalam wilayah Lebanon maupun kota-kota perbatasan di wilayah Israel utara.

Masih Jauh dari Kata Damai

Meskipun pembicaraan bersejarah di Washington antara Lebanon dan Israel berhasil membuahkan kesepakatan gencatan senjata pada 17 April lalu dan telah diperpanjang hingga Juni, serangan militer Israel ke Lebanon tetap terjadi setiap hari. Hingga saat ini, tentara Israel masih menduduki sebagian besar wilayah Lebanon selatan.

Namun, Hizbullah sama sekali tidak terlibat dalam pembicaraan damai tersebut dan menyatakan penolakannya. Kelompok militan ini justru memilih untuk mendukung sekutu utamanya, Iran, dalam negosiasi terpisah dengan Amerika Serikat yang dimediasi oleh Pakistan.

Hubungan kedua negara tetangga ini memang telah resmi berada dalam status perang sejak negara Israel pertama kali didirikan pada tahun 1948 silam. Namun, proses negosiasi diplomatik dilaporkan tetap berjalan di tengah desingan peluru dan ledakan bom yang terus membayangi.

Juru bicara militer Israel berbahasa Arab, Avichay Adaree, mengeluarkan perintah evakuasi darurat kepada penduduk di beberapa kota yang dekat dengan kota pesisir Tyre pada hari Senin. Evakuasi paksa ini diperintahkan tepat beberapa jam sebelum jet tempur Israel melancarkan gelombang serangan udara baru.

"Penduduk di beberapa kota dekat pesisir Tyre harus segera mengosongkan rumah dan wilayah mereka sebelum jet tempur kami melancarkan pemboman udara terhadap sasaran militer yang ada di kawasan tersebut," kata Adaree dalam pernyataan resminya.

Sementara itu, kelompok militan Jihad Islam Palestina mengonfirmasi bahwa salah satu pejabat penting mereka tewas dalam serangan udara Israel yang menyasar rumahnya pada tengah malam. Pejabat tersebut gugur bersama dengan anak perempuannya di kota Baalbek yang terletak di dekat perbatasan Suriah.

Para pejabat Israel menyatakan bahwa fokus utama mereka saat ini adalah melucuti seluruh persenjataan milik Hizbullah. Pihak Israel menggambarkan negosiasi yang sedang berlangsung ini sebagai langkah awal menuju potensi normalisasi hubungan diplomatik penuh antara kedua negara di masa depan.

"Fokus utama dari operasi militer dan diplomasi saat ini adalah memastikan perlucutan senjata total milik Hizbullah, di mana pembicaraan damai yang berjalan sekarang menjadi fondasi penting menuju potensi normalisasi hubungan diplomatik penuh dengan Lebanon kelak," ujar perwakilan pejabat Israel.

Sebaliknya, para pejabat Lebanon menegaskan bahwa mereka hanya mengupayakan kesepakatan keamanan atau armistis yang membatasi kesepakatan tanpa sampai ke tahap normalisasi hubungan. Perundingan dari pihak Lebanon difokuskan pada penarikan penuh pasukan militer Israel dari tanah Lebanon, seraya tetap menjaga komitmen internal mereka terkait penolakan pelucutan senjata kelompok yang didukung Iran tersebut.

(tps/tps) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Breaking News! Israel Klaim Bunuh Pemimpin Hizbullah Naim Qassem


Most Popular
Features