MARKET DATA

Simak, Ini Bedanya LPG, CNG dan LNG

ven,  CNBC Indonesia
20 May 2026 10:10
Petugas mengirim Compressed Natural Gas (CNG) ke rumah makan (Resto) yang berada di Bekasi, Jawa Barat, Senin (18/5/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Petugas mengirim Compressed Natural Gas (CNG) ke rumah makan (Resto) yang berada di Bekasi, Jawa Barat, Senin (18/5/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai mendorong pemanfaatan gas bumi sebagai alternatif energi untuk mengurangi ketergantungan impor Liquefied Petroleum Gas (LPG). Namun, di tengah upaya tersebut masih banyak masyarakat yang bingung membedakan LPG, Compressed Natural Gas (CNG) dan Liquefied Natural Gas (LNG).

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan bahwa ketiga jenis energi tersebut sebenarnya memiliki karakteristik yang berbeda. Baik dari sisi kandungan, bentuk, hingga metode distribusinya.

"Jadi kalau LNG sama CNG itu kontennya sama, sama-sama mayoritas C1 dan sedikit C2. Tapi kalau LPG dia C3 dan C4. Nah lapangan kita itu sedikit yang menghasilkan LPG," kata Laode dalam acara Podcast dikutip Selasa (19/5/2026).

Menurut Laode, gas LPG didominasi propana (C3) dan butana (C4), sehingga dalam kondisi normal berbentuk cair. Sementara CNG dan LNG didominasi metana (C1) sehingga secara alami berbentuk gas.

"Jadi LPG itu C3, C4 fasenya cair kita sedikit sehingga pada tahun 93, 94 kita sudah mulai memikirkan walaupun implementasinya itu di atas tahun 2000 untuk menggantikan minyak tanah menjadi LPG," ujarnya.

Selain kandungan, perbedaan utama antara CNG, LPG, dan LNG terletak pada keadaan fisiknya dan tekanan penyimpanannya. CNG disimpan dalam bentuk gas pada tekanan tinggi, sementara LPG dalam bentuk cair pada tekanan dan suhu moderat. LNG, di sisi lain, diangkut dalam bentuk cair pada suhu sangat rendah.

Sebagaimana diketahui, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah tengah mengkaji pengembangan CNG ukuran 3 kilogram sebagai alternatif pengganti LPG subsidi.

Menurut Bahlil, langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG yang terus membebani devisa negara.

"CNG ini untuk 3 kilogram, masih kita melakukan exercise dan uji coba terhadap tabungnya. CNG ini diharapkan dalam rangka mencari salah satu alternatif terhadap substitusi impor kita yang besar," kata Bahlil usai cara pelantikan di Kementerian ESDM, dikutip Kamis (7/5/2026).

Bahlil menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi domestik impor LPG Indonesia saat ini mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun. Kondisi ini membuat pemerintah harus mengeluarkan devisa yang cukup besar setiap tahunnya.

"Bayangkan kita impor per tahun itu 8,6 juta ton untuk konsumsi. Di saat bersamaan, devisa kita setiap tahun hanya untuk membeli LPG saja, sekitar Rp 130 sampai Rp 140 triliun. Apalagi kalau harga minyak dunia seperti sekarang, itu pasti lebih besar lagi. Dan subsidi kita, itu Rp 80 sampai Rp 87 triliun," ujarnya.

(ven) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article RI Siapkan Gas Pengganti LPG & Lebih Murah 30%, Ternyata Ini Alasannya


Most Popular
Features