Usai Trump, Xi Jinping & Putin Bertemu Hari Ini! Apa yang Dibahas?
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan tiba di Beijing, China, Selasa (19/5/2026) ini. Ia datang untuk pertemuan puncak dengan Presiden China Xi Jinping.
Dalam pernyataan kementerian, KTT dilakukan untuk memperdalam kemitraan strategis yang membentang dari Skandinavia hingga Asia Tenggara. Kekuatan ekonomi China yang dilengkapi dengan produksi minyak Rusia yang besar, kemungkinan akan menjadi fokus utama pembicaraan minggu ini.
Lalu apa saja yang dibahas?
Pembahasan pertemuan memang belum dijabarkan. Namun ada beberapa fakta-fakta pertemuan seperti dimuat AFP.
1.Kedatangan yang ke-25 Kali
Putin adalah pengunjung tetap China dan telah bertemu Xi Jinping puluhan kali. Kedua pemimpin sering menelepon untuk menyampaikan pesan, baik selamat (termasuk yang bersifat pribadi) ataupun belasungkawa.
Menurut Kementerian Luar Negeri China, Minggu ini menandai perjalanan ke-25 Putin. Ia terakhir kali mengunjungi China pada bulan September sebagai tamu kehormatan Xi Jinping dalam parade militer besar-besaran.
Putin mengatakan pekan ini bahwa ia yakin bahwa dirinya dan Xi Jinping akan "melakukan segala upaya untuk memperdalam kemitraan Rusia-China". Beijing menggambarkan hubungannya dengan Moskow sebagai hal yang "kokoh".
"Ini adalah pengingat bagi Washington bahwa ini adalah hubungan yang solid selama lebih dari 30 tahun," kata analis King's College London, Natasha Kuhrt.
"Citra itu adalah prioritas bagi Putin, yang menyebut Xi sebagai sahabat karib," tambah analis lain dari Institut Studi Internasional Shanghai, Zhao Long.
"Moskow menginginkan jaminan bahwa Rusia masih menempati posisi istimewa dalam perhitungan strategis China," katanya.
2.Hubungan Perdagangan China dan Rusia
Menurut data dari Mercator Institute for China Studies (MERICS), perdagangan bilateral telah meningkat pesat sejak invasi Rusia ke Ukraina. Bahkan hingga lebih dari dua kali lipat level yang terlihat pada tahun 2020.
Lebih dari 70% impor China dari Rusia terdiri dari bahan bakar mineral. Sementara itu, ekspor minyak Rusia ke China meningkat sekitar 30% sejak tahun 2022.
Namun, impor dari Rusia hanya menyumbang sekitar 5% dari impor China pada tahun 2025, menurut data bea cukai Beijing. Sebaliknya, China menyumbang lebih dari sepertiga impor Rusia dan lebih dari seperempat ekspornya pada tahun 2025, menurut kantor berita Rusia TASS.
3.Lawan & Teman yang Sama
Kedua negara memiliki perbatasan yang membentang sepanjang 4.000 kilometer (km). Baik China dan Rusia memiliki kesamaan dalam penentangan terhadap tatanan dunia yang didominasi oleh Amerika Serikat (AS) dan Barat.
Mereka juga merupakan mitra lama Iran dan Korea Utara (Korut). Ini terlihat dalam pernyataan sikap China dan Rusia ke Iran dalam perang melawan AS-Israel atau bantuan Korut ke Rusia dalam menghadapi perang Moskow-Kyiv serta bantuan China ke Korut terkait Covid-19.
4.Beberapa Hari Setelah Trump
Kunjungan Putin ini merupakan kunjungan ke luar negeri pertamanya tahun ini. Hal tersebut terjadi beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengunjungi Beijing.
Para ahli mengatakan bahwa pertemuan yang berurutan ini "signifikan" meskipun jadwalnya telah ditetapkan jauh sebelumnya. Urutan kunjungan tersebut menunjukkan bahwa Xi Jinping jelas dapat memberi tahu Putin tentang poin-poin penting dari pertemuan dengan Trump.
"China dan Rusia memang sering berkoordinasi secara strategis sebelum dan sesudah interaksi dengan kekuatan besar lainnya, yang dengan sendirinya mencerminkan tingkat kepercayaan timbal balik yang tinggi," kata Zhao.
"Namun, waktunya tidak boleh ditafsirkan secara berlebihan," tambahnya.
Xi sendiri mengadakan panggilan telepon dengan para pemimpin AS dan Rusia pada hari yang sama di bulan Februari. Ia berbicara pertama kali dengan Putin melalui video sebelum menelepon Trump beberapa jam kemudian.
5.Perang Rusia-Ukraina
Invasi Rusia ke Ukraina selama empat tahun termasuk dalam daftar isu pelik yang dibahas Trump dan Xi Jinping pekan lalu. Hal ini diakui Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One setelah meninggalkan ibu kota Beijing.
Namun, meskipun mencapai kesimpulan tentang Ukraina adalah prioritas bagi Putin, China diyakini kemungkinan besar tidak akan menjadi arsitek utama proses penyelesaian. Mereka diyakini lebih akan membahas isu internasional lain dan regional yang menjadi perhatian yang sama.
"Isu-isu internasional dan regional yang menjadi perhatian bersama," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China pada hari Senin.
China secara teratur menyerukan pembicaraan untuk mengakhiri pertempuran, tetapi tidak pernah mengutuk Rusia karena mengirim pasukan ke Ukraina dan menampilkan dirinya sebagai pihak netral. Beijing juga membantah menyediakan senjata dan komponen militer untuk industri pertahanan Moskow.
6.Pipa Gas Baru
China diketahui menjadi pembeli bahan bakar fosil Rusia terbesar di dunia. Ini menjadikannya mitra ekonomi utama Moskow, meski menghadapi sanksi Barat terhadap minyak dan gas akibat perang Ukraina.
Diketahui, kedua negara sedang berdiskusi tentang pembangunan pipa gas alam utama "Power of Siberia 2" dari Rusia ke China melalui Mongolia. Ini menjadi alternatif darat untuk minyak mentah yang diimpor melalui laut dari Timur Tengah.
"Bagi Putin, hubungan ini jelas lebih penting dari sebelumnya, terutama dalam hal ekonomi," kata Kuhrt.
source on Google [Gambas:Video CNBC]