Nuklir Rusia Mendadak Bergerak, Mengarah ke Mana?
Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia dan Belarusia menggelar latihan militer nuklir bersama pada Senin (18/5/2026) di tengah meningkatnya ketegangan dengan aliansi NATO dan mandeknya pembicaraan pengendalian senjata nuklir dengan Amerika Serikat (AS). Langkah ini mempertegas eskalasi rivalitas geopolitik Moskow dengan Barat yang terus memburuk sejak perang Ukraina pecah lebih dari empat tahun lalu.
Kementerian Pertahanan Belarusia menyatakan latihan tersebut melibatkan simulasi pengiriman amunisi nuklir dan persiapan penggunaannya bersama pihak Rusia. Latihan itu juga melibatkan pasukan rudal dan kekuatan udara kedua negara.
"Selama latihan, direncanakan untuk mempraktikkan isu-isu terkait pengiriman amunisi nuklir dan persiapan penggunaannya dalam kerja sama dengan pihak Rusia," tulis kementerian tersebut dalam pernyataannya di media sosial, sebagaimana dikutip AFP.
Meski demikian, Minsk menegaskan latihan itu tidak ditujukan kepada negara tertentu dan tidak mengancam keamanan kawasan.
"Latihan yang dijadwalkan ini tidak diarahkan terhadap negara ketiga dan tidak menimbulkan ancaman terhadap keamanan di kawasan," lanjut pernyataan tersebut.
Latihan ini berlangsung setelah Rusia tahun lalu menempatkan rudal hipersonik terbaru mereka, Oreshnik, di wilayah Belarus. Rudal tersebut memiliki kemampuan membawa hulu ledak nuklir dan disebut-sebut menjadi salah satu senjata strategis terbaru Moskow dalam menghadapi NATO.
Penempatan Oreshnik di Belarus dinilai meningkatkan tensi antara Rusia dan Barat, terutama karena Belarus berbatasan langsung dengan sejumlah negara anggota NATO di Eropa Timur.
Situasi makin memanas setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pekan lalu memerintahkan penguatan pasukan di perbatasan utara dengan Belarus. Kyiv menuding Rusia sedang menyiapkan potensi ofensif baru dari wilayah Belarus, seperti yang pernah dilakukan pada awal invasi tahun 2022.
Zelensky mengatakan Moskow berusaha menyeret Belarus lebih jauh ke dalam konflik Ukraina.
Sejak melancarkan invasi penuh ke Ukraina pada Februari 2022, Rusia memang kerap menggunakan retorika nuklir di tengah meningkatnya dukungan militer Barat kepada Kyiv. Presiden Rusia Vladimir Putin berulang kali mengingatkan dunia mengenai kekuatan arsenal nuklir Rusia, yang oleh negara-negara Barat dianggap sebagai upaya intimidasi agar mereka tidak terlalu jauh ikut campur dalam perang.
Pekan lalu, Rusia juga menguji coba rudal balistik antarbenua Sarmat yang mampu membawa hulu ledak nuklir. Uji coba itu dilakukan beberapa bulan setelah berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Rusia dan AS.
Berakhirnya perjanjian New START pada Februari lalu secara resmi membebaskan dua negara pemilik senjata nuklir terbesar di dunia tersebut dari berbagai pembatasan terkait arsenal strategis mereka.
Rudal Sarmat sendiri disebut Kremlin sebagai salah satu senjata paling kuat yang pernah dikembangkan Rusia. Moskow mengklaim rudal itu mampu menembus seluruh sistem pertahanan rudal Barat.
Belarusia, negara Eropa Timur yang dipimpin Alexander Lukashenko selama lebih dari 30 tahun, diketahui menjadi sekutu dekat Putin baik secara ekonomi maupun militer. Ketergantungan Minsk terhadap Moskow makin besar sejak Belarusia menghadapi sanksi Barat akibat dukungannya terhadap invasi Rusia ke Ukraina.
Latihan nuklir bersama ini pun dipandang sebagai sinyal terbaru bahwa Rusia dan Belarusia tengah memperkuat koordinasi militer strategis mereka di tengah kebuntuan diplomatik dengan Barat dan belum adanya tanda-tanda perang Ukraina akan segera berakhir.
Â
(luc/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]