MARKET DATA

RI Belum Punya, Ini Daftar Negara Kuasai Teknologi Harta Karun Langka

Firda Dwi Muliawati,  CNBC Indonesia
18 May 2026 21:40
Logam Tanah Jarang
Foto: Logam Tanah Jarang

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesian Mining Institute (IMI) menyoroti tantangan yang dihadapi Indonesia dalam menguasai teknologi pengolahan Logam Tanah Jarang (LTJ) atau rare earth elements (REE). Meskipun pemerintah mulai berkomitmen untuk mengembangkan LTJ, posisi Indonesia saat ini dinilai masih tertinggal jauh dibandingkan dengan sejumlah negara yang telah memiliki teknologi pemrosesan berskala ekonomi.

Chairman IMI Irwandy Arif menjelaskan bahwa pengembangan industri LTJ di dalam negeri masih berada pada tahap yang sangat awal. Ia memaparkan beberapa negara yang kini menjadi pemain utama dunia dalam penguasaan teknologi pemurnian mineral strategis tersebut mulai dari China, India, hingga tetangga terdekat, Malaysia.

"Jadi kalau kita bicara logam tanah jarang di Indonesia ini sebenarnya belum ada yang pengalaman, Pak. Jadi kita masih pada tahap awal," jelas Irwandy dalam Webinar Badan Industri Mineral (BIM): Prospek dan Masa Depan Mineral Logam Tanah Jarang Indonesia, dikutip Senin (18/5/2026).

Irwandy memaparkan bahwa dominasi teknologi pengolahan LTJ saat ini masih dikuasai oleh China. Negeri Tirai Bambu tersebut tidak hanya menguasai sisi penambangan, tetapi juga memonopoli hampir seluruh proses pemisahan dan pemurnian global melalui perusahaan seperti Shenghe Resources Holding Co dan China Northern Rare Earth.

"68 sampai 70% produksi tambang logam tanah jarang dunia dari Tiongkok. Lebih 90% persisnya kurang lebih 91% itu proses pemurnian dan pemisahan global dikuasai oleh mereka juga. Timur Tengah memiliki minyak tetapi Tiongkok memiliki logam tanah jarang," papar Irwandy.

Selain China, India telah memiliki fasilitas pengolahan melalui perusahaan Indian Rare Earths yang menggunakan teknologi caustic cracking. Di wilayah Asia Tenggara, Malaysia telah lebih dulu maju sebagai pusat pengolahan LTJ global melalui pengoperasian pabrik milik perusahaan asal Australia, Lynas Rare Earths (sebelumnya bernama Lynas Corporation), di Pahang.

"Lynas Corporation yang dari Australia yang punya pabrik di Malaysia, ini salah satu yang pernah dirintis diupayakan untuk kerja sama dengan Timah tapi kemudian belum berhasil. Itu sebenarnya kita lihat ini lokasinya di Pahang, Malaysia," jelasnya.

Negara lain yang juga telah memiliki peta jalan teknologi yang matang adalah Kanada melalui Medallion Resources yang sudah masuk tahap pra-komersial, ada pula Australia lewat Hastings Technology Metals yang kini bersiap melakukan konstruksi. Sementara itu, Indonesia saat ini baru memiliki rintisan pengolahan dalam skala laboratorium dan beberapa pilot plant berskala kecil.

"Sampai dengan saat ini Indonesia belum memiliki teknologi pengolahan atau pemrosesan logam tanah jarang yang mencapai skala ekonomi. Ada beberapa yang mencoba untuk sampai ke skala laboratorium tentunya sudah ada, dan ada yang sudah sampai ke skala pilot di Tanjung Ular misalnya di Bangka," kata Irwandy.

Hingga kini, tantangan utama bagi Indonesia adalah fasilitas pengolahan dan pemurnian yang masih sangat terbatas. Pemerintah melalui Badan Industri Mineral (BIM) dan PT Perminas saat ini sedang diinstruksikan Presiden untuk mempercepat riset penguasaan teknologi agar nilai ekonomi LTJ dapat dirasakan oleh negara.

"Nilai ekonomi mineral belum dapat dimaksimalkan karena belum mempunyai teknologi hilirisasi yang memadai. Ini yang tantangan utamanya. Tetapi di samping tantangan utama ada peluang strategis yaitu penguasaan teknologi pemrosesan LTJ yang risetnya sedang dilakukan oleh BIM atas penugasan dari Presiden," tandasnya.

Potensi Logam Tanah Jarang di RI

Irwandy Arif menjelaskan, LTJ merupakan kumpulan dari 17 unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki sifat magnetik dan kimia unik. Ia menyebutkan bahwa mineral tersebut diklasifikasikan ke dalam dua kelompok besar, yakni logam tanah jarang ringan dan logam tanah jarang berat.

Kelompok 17 unsur tersebut mencakup skandium (Sc), yttrium (Y), lantanum (La), serium (Ce), praseodimium (Pr), neodimium (Nd), prometium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), diprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), tulium (Tm), ytterbium (Yb), dan lutesium (Lu).

Adapun, pembagian kategori berat dan ringan didasarkan pada konfigurasi elektron orbital, di mana kelompok berat cenderung lebih langka dan memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi.

"Di logam tanah jarang ini kemudian dikelompokkan pada dua bagian yaitu logam tanah jarang yang berat, heavy rare earth element dan yang ringan. Yang ringan itu elektron tak berpasangan lebih banyak sedangkan yang berat itu lebih langka dan bernilai tinggi serta kemudian berdasarkan sifat magnetik dan kimia yang berbeda," papar Irwandy, dalam Webinar Badan Industri Mineral (BIM): Prospek dan Masa Depan Mineral Logam Tanah Jarang Indonesia, dikutip Senin (18/5/2026).

Di Indonesia, keberadaan LTJ pada umumnya ditemukan sebagai mineral ikutan dari aktivitas penambangan komoditas lain seperti timah, nikel, dan bauksit. Beberapa jenis mineral yang mengandung LTJ di tanah air meliputi monasit, xenotim, dan zirkon yang banyak ditemukan pada endapan timah aluvial di Kepulauan Bangka Belitung.

Selain sebagai mineral ikutan, pemerintah baru-baru ini mengidentifikasi keberadaan cadangan logam tanah jarang tipe primer di wilayah Mamuju, Sulawesi Barat. Temuan tersebut menjadi fokus perhatian baru karena kadarnya yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mineral ikutan, sehingga membuka peluang bagi Indonesia untuk membangun industri pengolahan mineral strategis sendiri.

"Ada satu tempat di Indonesia yaitu di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat yang mengandung mineral logam tanah jarang primer. Jadi bukan mineral ikutan," jelas Irwandy.

Berdasarkan data penelitiannya, temuan di Mamuju menunjukkan kadar total LTJ yang sangat tinggi mencapai 4.500 hingga 6.000 ppm, jauh melampaui kadar di Bangka Belitung yang berkisar 1.000 hingga 2.391 ppm. Sementara itu, wilayah Sumatera Utara juga memiliki potensi dengan kadar 2 hingga 1.400 ppm yang berasal dari pelapukan batuan granit.

"Tingkat pasokan yang terbesar itu adalah katalis, kaca, dan pemolesan. Jadi yang terbesar 31% itu serium. Yang kedua itu lantanum untuk katalis dan baterai NiMH. Kemudian 25% baru namanya ND. ND itu untuk magnet permanen," tuturnya.

Pemanfaatan LTJ untuk magnet permanen menjadi sektor yang paling strategis karena menjadi komponen utama motor traksi kendaraan listrik, turbin angin, hingga cakram keras komputer. Volume penggunaan magnet berbasis LTJ diproyeksikan akan terus meningkat dari porsi 29% pada tahun 2023 menjadi 41% pada tahun 2034 mendatang.

(ven/wia) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article RI Garap Logam Tanah Jarang, Ini Daftar Negara Pemilik Teknologinya


Most Popular
Features