MARKET DATA

Dolar AS Tembus Rp17.600, Bos Mebel Bilang RI Perlu Belajar dari China

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
18 May 2026 12:25
Toko Mebel di Klender Sepi Bak Kuburan. (CNBC Indonesia/Chandra Dwi)
Foto: Toko Mebel di Klender Sepi Bak Kuburan. (CNBC Indonesia/Chandra Dwi)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan rupiah hingga menembus level Rp17.600 per dolar AS menjadi peringatan serius bagi industri nasional. Kalangan pengusaha mebel menyebut gejolak kurs menunjukkan industri dalam negeri masih rentan terhadap tekanan global akibat tingginya berbagai biaya produksi domestik.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pelaku industri belajar langsung ke sejumlah kawasan industri di China seperti Shandong dan Xiamen.

Pelajaran terbesar dari China bukan hanya soal teknologi maupun skala pabrik yang besar, melainkan kedisiplinan ekosistem industri yang mampu menjaga efisiensi dari hulu hingga hilir.

"Yang paling terasa di sana bukan hanya soal skala industri, tetapi kedisiplinan ekosistem produksi, efisiensi logistik, penguasaan mesin, kecepatan supply chain, dan produktivitas tenaga kerja," kata Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur kepada CNBC Indonesia, Senin (18/5/2026).

"Hal-hal seperti inilah yang sebenarnya harus diperkuat di Indonesia agar industri kita lebih tahan menghadapi gejolak kurs maupun tekanan global," tukasnya.

Industri yang memiliki produktivitas tinggi dan rantai pasok efisien akan lebih mampu bertahan saat dolar AS melonjak. Efisiensi tersebut membuat kenaikan biaya produksi tidak terlalu membebani pelaku usaha.

"Ketika sebuah industri memiliki produktivitas tinggi, logistik efisien, mesin modern, dan supply chain cepat, maka biaya produksinya menjadi jauh lebih kompetitif. Dalam kondisi kurs dolar naik sekalipun, tekanan terhadap biaya masih bisa diredam karena ada efisiensi di banyak sisi," katanya.

Sebaliknya, pelemahan rupiah akan cepat terasa berat bagi industri yang masih dibebani berbagai inefisiensi. Mulai dari logistik mahal, pasokan bahan baku lambat, bunga tinggi, hingga regulasi yang berubah-ubah disebut menjadi masalah utama.

Abdul Sobur mengatakan bagaimana pemerintah dan dunia usaha bergerak dalam membangun industri. Kawasan industri, pelabuhan, energi hingga pendidikan vokasi disebut dipersiapkan secara serius untuk menopang produktivitas.

"Kami melihat di China ada mentalitas industrial governance yang sangat kuat. Pemerintah pusat hingga daerah bergerak relatif selaras untuk memastikan industri tumbuh. Kawasan industri dipersiapkan serius, pelabuhan efisien, infrastruktur terhubung, energi dijaga, vokasi diperkuat, perizinan dipercepat, bahkan pengembangan teknologi dan mesin mendapat dukungan nyata. Dunia usaha dibuat fokus bertumbuh dan meningkatkan produktivitas," katanya.

Indonesia sebenarnya memiliki modal besar untuk bersaing, mulai dari bahan baku hingga pasar domestik yang kuat. Namun, tantangan klasik seperti biaya logistik dan produktivitas tenaga kerja dinilai masih menjadi hambatan utama. Pelemahan rupiah seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat fondasi industri nasional agar tidak terus bergantung pada faktor eksternal.

"Karena itu HIMKI melihat momentum pelemahan rupiah ini harus menjadi pengingat bahwa daya saing industri nasional tidak bisa hanya bergantung pada faktor eksternal seperti kurs atau booming komoditas. Yang jauh lebih penting adalah membangun good governance industri secara menyeluruh, mulai dari kepastian regulasi, efisiensi birokrasi, penguatan teknologi, pendidikan vokasi, sampai budaya produktivitas nasional," katanya.

Sebagai informasi, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin dalam pada perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah pada pukul 10.20 WIB melemah 1,15% ke level Rp17.660/US$. Tekanan tersebut lebih dalam dibandingkan posisi pembukaan pagi ini, ketika rupiah dibuka melemah 0,97% di posisi Rp17.630US$.

Posisi rupiah saat ini juga semakin menjauh dari penutupan perdagangan terakhir pekan lalu, Rabu (13/5/2026), sebelum libur panjang. Saat itu, rupiah ditutup menguat 0,17% ke level Rp17.460/US$.

(dce) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Dolar Rp17.400, Prabowo Panggil Purbaya Cs hingga Menkeu Era Soeharto


Most Popular
Features