MARKET DATA
Internasional

Xi Jinping Warning Trump di China, Ada Apa?

sef,  CNBC Indonesia
15 May 2026 05:30
Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump berjabat tangan pada jamuan makan malam kenegaraan di Balai Besar Rakyat di Beijing, China, 14 Mei 2026. (REUTERS/Evan Vucci)
Foto: Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump berjabat tangan pada jamuan makan malam kenegaraan di Balai Besar Rakyat di Beijing, China, 14 Mei 2026. (REUTERS/Evan Vucci)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden China Xi Jinping tiba-tiba memperingatkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Dikutip dari AFP, Jumat (15/5/2026), Xi me-warning Trump supaya tak ikut campur soal Taiwan, berujar salah langkah dapat mendorong kedua negara ke dalam "konflik"

"Masalah Taiwan adalah isu terpenting dalam hubungan China-AS," kata Xi, menurut pernyataan yang diterbitkan oleh media pemerintah China tak lama setelah pertemuan dilakukan kedua pemimpin itu Kamis, di Beijing, yang berlangsung selama dua jam 15 menit itu.

"Jika salah penanganan, kedua negara dapat berbenturan atau bahkan berkonflik, mendorong seluruh hubungan China-AS ke dalam situasi yang sangat berbahaya," tambah Xi.

Sebenarnya Trump tiba di China dengan pujian untuk tuan rumahnya. Trump menyebut Xi sebagai "pemimpin hebat" dan "teman" seraya menyampaikan undangan untuk mengunjungi Gedung Putih pada bulan September.

Namun Xi sendiri menegaskan ke Trump bahwa kedua negara "harus menjadi mitra dan bukan saingan". Ia juga langsung menyoroti isu Taiwan, yang diklaim Beijing sebagai wilayahnya.

"Bisakah China dan Amerika Serikat melampaui apa yang disebut 'Perangkap Thucydides' dan membentuk paradigma baru untuk hubungan kekuatan besar?" tanya Xi merujuk ke teori yang dikemukakan oleh sarjana Harvard Graham Allison, yang menggambarkan kecenderungan menuju perang, ketika kekuatan yang sedang "naik daun"dianggap mengancam bisan menggantikan kekuatan yang sudah mapan dan membentuk "paradigma baru hubungan negara-negara besar".

"Mencapai kebangkitan besar bangsa China dan menjadikan Amerika hebat kembali dapat berjalan beriringan... dan memajukan kesejahteraan seluruh dunia," kata Xi, merujuk pada gerakan MAGA Trump.

Sementara itu, editor buletin China Neican, Adam Ni, mengatakan "bahasa blak-blakan" Xi Jinping sebagai "hal tidak biasa datang dari pemimpin itu sendiri". Analis dari Universitas Nasional Singapura Chong Ja Ian menyebut China "memberi sinyal keinginan untuk kompromi AS mengenai Taiwan" seraya "menunjukkan bahwa mereka melihat beberapa peluang untuk meyakinkan Trump".

Trump sendiri tidak berkomentar kepada wartawan tentang Taiwan pada hari Kamis. Tetapi Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada CNBC International bahwa Presiden akan mengatakan lebih banyak "dalam beberapa hari mendatang".

Perlu diketahui, kunjungan Trump ke Beijing adalah kunjungan pertama Presiden AS dalam hampir satu dekade, dengan sambutan meriah. Xi Jinping menyambut Trump dengan karpet merah di Balai Agung Rakyat yang mewah, dengan iringan musik militer, salvo 21 tembakan meriam, dan sejumlah anak sekolah yang melompat dan meneriakkan "selamat datang!".

Sementara itu, Taiwan, memberikan tanggapan dengan juru bicara kabinet Michelle Lee mengklaim bahwa "ancaman militer China adalah satu-satunya sumber ketidakamanan di Selat Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik yang lebih luas". AS sebenarnya mengakui kebijakan Satu China, tetapi telah mempertahankan hubungan yang kuat dengan pemerintah Taiwan, setelah menyetujui penjualan senjata senilai puluhan miliar dolar selama beberapa dekade, dengan US$11 miliar pada bulan Desember.

(sef/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article 5 Poin Penting Pertemuan Xi Jinping dan Trump di China


Most Popular
Features