MARKET DATA
Internasional

Data Intelijen Terbaru: Trump Ternyata Kalah di Perang AS-Iran

tfa,  CNBC Indonesia
13 May 2026 15:45
U.S. President Donald Trump looks on at the White House in Washington, D.C., U.S., May 8, 2026. REUTERS/Elizabeth Frantz
Foto: REUTERS/Elizabeth Frantz

Jakarta, CNBC Indonesia - Laporan intelijen terbaru membantah klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump soal kehancuran besar militer Teheran. Iran disebut masih mempertahankan sebagian besar kemampuan rudalnya di kawasan strategis Selat Hormuz.

Mengutip laporan The New York Times, penilaian intelijen rahasia AS pada awal bulan ini menyebut Iran masih menguasai dan mengoperasikan 30 dari 33 situs rudal di sepanjang Selat Hormuz. Lokasi tersebut dinilai mampu menargetkan kapal perang hingga tanker minyak AS yang melintasi jalur pelayaran vital dunia itu.

Laporan ini sekaligus mematahkan narasi Trump yang sebelumnya. Trump menyatakan kekuatan militer Iran telah "hancur" akibat kampanye pengeboman gabungan AS-Israel yang berlangsung sejak 28 Februari hingga gencatan senjata berlaku pada 8 April lalu.

Menurut laporan tersebut, Iran juga masih mempertahankan sekitar 70% peluncur rudal bergeraknya serta 70% stok rudal sebelum perang pecah. Kondisi ini menunjukkan kemampuan militer Teheran belum lumpuh sepenuhnya meski dihantam serangan udara intensif selama berminggu-minggu.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur energi paling strategis di dunia. Sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair global melintas di kawasan sempit tersebut setiap harinya.

Iran sebelumnya sempat menutup akses Selat Hormuz bagi apa yang mereka sebut sebagai "kapal musuh" sebagai respons atas serangan AS dan Israel. Setelah itu, Teheran terus menegaskan haknya untuk mengontrol lalu lintas maritim di kawasan tersebut serta memungut bea dari kapal yang melintas.

Situasi ini memperbesar kekhawatiran pasar global terhadap potensi gangguan pasokan energi dunia apabila konflik kembali meledak.

Di sisi lain, negosiasi antara Washington dan Teheran juga masih menemui jalan buntu di mana kedua negara dilaporkan saling menolak proposal perdamaian terbaru pada akhir pekan lalu karena dianggap tidak dapat diterima. Trump bahkan disebut telah menerima pengarahan terkait opsi serangan tambahan terhadap Iran apabila pembicaraan gagal mencapai titik temu.

Washington menuntut Iran membongkar program nuklir dan rudal balistiknya. Namun, Teheran menolak keras permintaan tersebut dan menegaskan program pengayaan uranium mereka hanya ditujukan untuk kepentingan sipil.

Iran juga mengajukan sejumlah syarat perdamaian, termasuk penghentian perang Israel melawan Hizbullah di Lebanon, pencabutan sanksi ekonomi, pembayaran ganti rugi, hingga pengakuan atas "kedaulatan" Iran di Selat Hormuz.

(sef/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Breaking: Trump Rancang Serangan Udara Baru ke Iran


Most Popular
Features