MARKET DATA

Rupiah Keok Terus Dihantam Dolar AS, Pengusaha Wanti-wanti Bakal PHK

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
13 May 2026 11:45
Warga melakukan penukaran mata uang rupiah ke dolar AS di Money Changer Valuta Artha Mas, Jakarta, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Foto: Warga melakukan penukaran mata uang rupiah ke dolar AS di Money Changer Valuta Artha Mas, Jakarta, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian dunia usaha setelah nilai tukar mata uang Garuda menyentuh level Rp17.500 per dolar AS, level terlemah sepanjang sejarah. Hal ini dinilai mulai memberi tekanan terhadap aktivitas bisnis nasional, terutama sektor yang bergantung pada impor bahan baku dan logistik.

"Nilai tukar rupiah terus melemah, meski sempat sedikit menguat. Rupiah kini kembali mencatatkan level pelemahan terdalam sepanjang sejarah, yakni mencapai Rp17.500 per dolar AS. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh faktor eksternal dan domestik," ujar Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Sarman Simanjorang dalam keterangannya Rabu (13/5/2026).

Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga mulai mempengaruhi psikologi pelaku usaha. Dunia usaha kini menghadapi ketidakpastian dalam menjaga stabilitas operasional dan arus kas perusahaan. Tekanan kurs akan meningkatkan biaya produksi dan operasional perusahaan karena kenaikan harga bahan baku impor serta logistik.

"Pelemahan nilai rupiah ini akan mempengaruhi cash flow dan biaya operasional maupun produksi karena kenaikan ini akan menggeret kenaikan bahan baku impor dan logistik. Jika pelemahan ini terus berlanjut maka daya tahan pelaku usaha akan terbatas dan dikhawatirkan terjadi penyesuaian harga di tingkat konsumen," sebutnya.

Penyesuaian harga di tingkat konsumen berpotensi mempengaruhi daya beli masyarakat dan mendorong kenaikan inflasi. Di saat yang sama, pelaku UMKM menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi tekanan tersebut karena kenaikan biaya produksi dan distribusi belum tentu bisa langsung diteruskan ke harga jual.

Warga melakukan penukaran mata uang rupiah ke dolar AS di Money Changer Valuta Artha Mas, Jakarta, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Foto: Warga melakukan penukaran mata uang rupiah ke dolar AS di Money Changer Valuta Artha Mas, Jakarta, Rabu (6/5/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

"Jika kenaikan harga produk mengalami penyesuaian tentu akan mempengaruhi daya beli masyarakat dan inflasi. Pelaku usaha UMKM juga akan semakin tertekan karena harga bahan baku, logistik, dan distribusi naik, sementara untuk menaikkan harga penuh risiko karena takut tidak laku," ujarnya.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, dunia usaha mulai melakukan berbagai langkah, mulai dari efisiensi biaya produksi, penggunaan bahan baku lokal, hingga penyesuaian ukuran produk tanpa menaikkan harga jual, tujuannya agar tetap bisa diterima pasar.

"Dunia usaha sudah mencari upaya mitigasi dalam bentuk inovasi penghematan biaya operasional dan produksi, mencoba bahan baku dalam negeri sekalipun tidak semua sektor dapat melakukannya, termasuk mengurangi ukuran produk tanpa menaikkan harga," kata Sarman.

Ia mengingatkan pelemahan rupiah yang berkepanjangan berisiko menekan omzet perusahaan dan mendorong langkah efisiensi tenaga kerja.

"Jika pelemahan nilai tukar ini berkepanjangan dikhawatirkan omzet pelaku usaha semakin tertekan dan akhirnya melakukan rasionalisasi pekerja. Tentu ini sesuatu yang kita hindari. Kami mendukung penuh berbagai upaya, usaha, dan langkah pemerintah agar penguatan nilai tukar rupiah ini segera terjadi," tutupnya.

(fys/wur) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Dolar AS Tembus Rp17.000, Pengusaha Mulai Andalkan Bahan Baku Lokal


Most Popular
Features