MARKET DATA
Internasional

Perang Menggila, Arab Saudi Diam-Diam Serang Langsung Wilayah Iran

luc,  CNBC Indonesia
13 May 2026 05:29
Sebuah bendera Arab Saudi berkibar di atas gedung konsulat di Istanbul pada 17 Oktober 2018. - Konsul Arab Saudi untuk Istanbul Mohammed al-Otaibion pada 16 Oktober 2018 meninggalkan kota Turki menuju Riyadh dengan penerbangan terjadwal, kata laporan
Foto: Sebuah bendera Arab Saudi berkibar di atas gedung konsulat di Istanbul pada 17 Oktober 2018. (AFP via Getty Images/OZAN KOSE)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Timur Tengah ternyata berkembang jauh lebih luas dari yang selama ini diketahui publik. Arab Saudi dilaporkan diam-diam melancarkan serangan militer langsung ke wilayah Iran sebagai balasan atas rentetan serangan rudal dan drone yang menghantam kerajaan tersebut selama perang Iran-AS-Israel berlangsung.

Informasi itu diungkap oleh dua pejabat Barat yang mengetahui persoalan tersebut serta dua pejabat Iran. Jika benar, aksi ini menjadi pertama kalinya Arab Saudi diketahui melakukan operasi militer langsung di tanah Iran, sekaligus menandai perubahan besar sikap Riyadh yang kini dinilai jauh lebih agresif menghadapi rival utamanya di kawasan.

Dilansir Reuters, Rabu (13/5/2026), serangan itu disebut dilakukan Angkatan Udara Arab Saudi pada akhir Maret lalu. Salah satu pejabat Barat menggambarkan operasi tersebut sebagai "serangan balasan setimpal sebagai respons ketika Arab Saudi diserang."

Namun hingga kini belum diketahui secara pasti target apa saja yang diserang Arab Saudi di Iran.

Pemerintah Saudi juga tidak secara gamblang membenarkan laporan itu. Saat dimintai komentar, seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Saudi tidak menjawab langsung apakah kerajaan memang melakukan serangan ke Iran, sementara Kementerian Luar Negeri Iran juga belum memberikan tanggapan.

Adapun perang yang berlangsung selama 10 pekan terakhir telah mengguncang keseimbangan keamanan di Teluk. Selama ini Arab Saudi sangat bergantung pada perlindungan militer Amerika Serikat, namun konflik terbaru menunjukkan sistem pertahanan payung AS ternyata tidak sepenuhnya mampu melindungi kerajaan dari serangan Iran.

Konflik Melebar ke Negara-Negara Teluk

Serangan Saudi terhadap Iran memperlihatkan bahwa perang yang dimulai sejak serangan udara AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari kini telah menyeret lebih banyak negara di Timur Tengah ke dalam konflik secara langsung.

Sejak operasi militer itu dimulai, Iran disebut menyerang seluruh negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menggunakan rudal dan drone. Sasaran serangan tidak hanya pangkalan militer AS, tetapi juga bandara sipil, infrastruktur minyak, hingga fasilitas umum.

Iran juga menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan energi dunia, memicu gangguan besar terhadap rantai pasok global.

Tidak hanya Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) juga disebut ikut melakukan serangan militer terhadap Iran. Wall Street Journal melaporkan aksi tersebut pada Senin.

Gabungan langkah Saudi dan UEA menunjukkan bahwa monarki-monarki Teluk yang selama ini menjadi sasaran serangan Iran kini mulai membalas secara langsung.

Meski demikian, pendekatan kedua negara berbeda. UEA dinilai mengambil sikap lebih keras dan agresif terhadap Teheran serta jarang melakukan diplomasi terbuka.

Sebaliknya, Arab Saudi disebut tetap berusaha mencegah eskalasi lebih jauh sambil menjaga komunikasi dengan Iran, termasuk melalui duta besar Iran di Riyadh.

Pejabat senior Kementerian Luar Negeri Saudi juga menegaskan posisi resmi kerajaan yang tetap mengedepankan upaya meredakan konflik.

"Kami menegaskan kembali posisi konsisten Arab Saudi yang mendukung de-eskalasi, pengendalian diri, dan pengurangan ketegangan demi stabilitas, keamanan, dan kemakmuran kawasan serta rakyatnya," katanya.

Serangan Dibalas Diplomasi

Menurut pejabat Iran dan Barat, Arab Saudi memberi tahu Iran mengenai serangan tersebut. Setelah itu terjadi komunikasi diplomatik intensif disertai ancaman Riyadh untuk melakukan balasan lebih besar bila serangan terhadap wilayahnya terus berlanjut.

Langkah itu kemudian menghasilkan kesepahaman informal antara kedua negara untuk menurunkan tensi konflik.

Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, menilai pola tersebut menunjukkan kedua negara memahami risiko besar jika perang terus membesar.

Ia mengatakan serangan balasan Saudi yang diikuti kesepakatan de-eskalasi memperlihatkan adanya "pengakuan pragmatis di kedua pihak bahwa eskalasi yang tidak terkendali membawa biaya yang tidak dapat diterima."

Menurutnya, situasi itu bukan berarti kedua negara saling percaya, melainkan sama-sama memiliki kepentingan untuk mencegah konflik berubah menjadi perang regional penuh.

"Bukan karena saling percaya, tetapi karena adanya kepentingan bersama untuk membatasi konfrontasi sebelum berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas," katanya.

Kesepahaman informal itu mulai berlaku pada pekan sebelum Washington dan Teheran menyetujui gencatan senjata pada 7 April.

Salah satu pejabat Iran juga membenarkan adanya kesepakatan deeskalasi dengan Riyadh.

Ia menyebut langkah itu bertujuan untuk "menghentikan permusuhan, melindungi kepentingan bersama, dan mencegah peningkatan ketegangan."

Hubungan Saudi-Iran sendiri selama puluhan tahun diwarnai rivalitas tajam antara kekuatan Sunni dan Syiah terbesar di Timur Tengah. Keduanya mendukung kelompok berbeda dalam berbagai konflik regional.

Namun pada 2023, China berhasil memediasi rekonsiliasi kedua negara yang berujung pada pemulihan hubungan diplomatik dan gencatan senjata antara Saudi dengan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran.

Dengan Laut Merah tetap terbuka untuk pelayaran, Arab Saudi masih mampu melanjutkan ekspor minyak selama konflik berlangsung, berbeda dengan sebagian besar negara Teluk lainnya. Hal itu membuat kerajaan relatif lebih terlindungi dari dampak perang.

Hindari "Tungku Kehancuran"

Dalam artikel opini di Arab News akhir pekan lalu, mantan kepala intelijen Saudi Pangeran Turki al-Faisal menggambarkan strategi kerajaan selama perang berlangsung.

Ia menulis, "ketika Iran dan pihak lain mencoba menyeret kerajaan ke tungku kehancuran, kepemimpinan kami memilih menanggung rasa sakit yang disebabkan oleh negara tetangga demi melindungi nyawa dan harta benda rakyatnya."

Serangan Saudi disebut muncul setelah ketegangan meningkat selama berminggu-minggu.

Pada konferensi pers di Riyadh tanggal 19 Maret, Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan mengatakan kerajaan "memiliki hak untuk mengambil tindakan militer jika dianggap perlu."

Tiga hari kemudian, Arab Saudi menetapkan atase militer Iran dan empat staf kedutaan lainnya sebagai persona non grata.

Serangan Iran Menurun

Sumber Barat mengatakan komunikasi diplomatik dan ancaman Saudi untuk mengambil pendekatan lebih keras seperti UEA akhirnya membuat Iran mengurangi serangan langsung ke kerajaan tersebut.

Data Reuters menunjukkan jumlah serangan drone dan rudal ke Arab Saudi turun drastis. Pada periode 25-31 Maret tercatat lebih dari 105 serangan, namun antara 1-6 April jumlahnya turun menjadi sedikit di atas 25 serangan.

Sumber Barat juga menilai proyektil yang ditembakkan menjelang gencatan senjata lebih banyak berasal dari Irak, bukan langsung dari Iran. Hal itu dianggap sebagai sinyal bahwa Teheran mulai membatasi serangan langsung, meskipun kelompok sekutunya masih aktif.

Arab Saudi bahkan memanggil duta besar Irak pada 12 April untuk memprotes serangan yang berasal dari wilayah Irak.

Meski komunikasi Saudi-Iran tetap berjalan, ketegangan kembali muncul di awal masa gencatan senjata lebih luas antara Iran dan AS. Kementerian Pertahanan Saudi melaporkan adanya 31 drone dan 16 rudal yang menyerang kerajaan pada 7-8 April.

Lonjakan serangan tersebut membuat Riyadh kembali mempertimbangkan aksi balasan terhadap Iran dan Irak.

Di tengah situasi itu, Pakistan mengirim jet tempur untuk menenangkan Saudi sekaligus mendesak semua pihak menahan diri ketika jalur diplomasi mulai bergerak.

 

(luc/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article 11 Update Terbaru Perang Timur Tengah: Sanksi Baru AS-Seruan Khamenei


Most Popular
Features