Bukti Baru Perang AS-Iran Benar-Benar "Makan Korban" Amerika Sendiri
Jakarta, CNBC Indonesia - Inflasi konsumen di Amerika Serikat (AS) melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun pada April 2026, seiring dampak ekonomi dari konflik Iran yang terus mengguncang pasar energi global.
Data terbaru dari US Bureau of Labor Statistics menunjukkan indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) naik 3,8% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada April. Angka ini meningkat dibandingkan inflasi Maret yang tercatat sebesar 3,3%. Kenaikan inflasi terutama dipicu lonjakan harga energi setelah konflik antara AS, Israel, dan Iran memperburuk ketegangan di Timur Tengah.
Serangan balasan Iran terhadap sekutu regional Washington disebut telah menghambat jalur distribusi energi global, termasuk di Selat Hormuz. Sebagai informasi, sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam dunia melewati Selat Hormuz dalam kondisi normal.
Gangguan di jalur strategis tersebut mendorong harga energi global melesat tajam dalam beberapa pekan terakhir. Data BLS menunjukkan indeks harga energi di AS naik 17,9% pada April dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut menjadi kenaikan tertinggi di antara seluruh kategori pengeluaran konsumen.
Tidak hanya energi, harga pangan juga mengalami kenaikan signifikan. Inflasi makanan tercatat naik 3,2% secara tahunan pada April, sementara harga kebutuhan bahan makanan pokok (groceries) mengalami kenaikan tercepat sejak 2023.
Di sisi lain, inflasi inti atau core CPI naik menjadi 2,8% pada April dari sebelumnya 2,6% pada Maret. Inflasi inti di AS tidak memasukkan komponen makanan dan energi yang cenderung volatil.
Sebenarnya sejak menjabat Presiden AS Donald Trump telah berjanji untuk menurunkan inflasi. Inflasi juga akan menjadi masalah besar bagi Partai Republik pada pemilu paruh waktu di bulan November.
"Konsumen tidak hanya menghadapi kejutan besar di SPBU, tapi juga tagihan listrik mereka, karena harga listrik naik tajam bulan lalu," kata ekonom utama AS di Oxford Economics, Bernard Yaros, memperingatkan bahwa harga bensin yang tinggi menunjukkan bahwa harga pompa bensin akan kembali mengangkat inflasi bulan depan, sebagaimana dimuat AFP.
"Donald Trump berjanji untuk menurunkan biaya 'pada hari pertama'. Sebaliknya, dia terus membesarkan mereka (inflasi). Pertama, tarifnya yang kacau mendorong harga menjadi lebih tinggi. Sekarang, perangnya dengan Iran semakin mendorong mereka," tegas oposisi, Senator Demokrat Elizabeth Warren mengecam Trump.
Sementara itu, kenaikan inflasi ini berpotensi memperumit langkah bank sentral, Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan suku bunga ke depan. Pasalnya, tekanan harga akibat energi dinilai dapat memperlambat upaya bank sentral AS membawa inflasi kembali ke target jangka panjangnya.
"Mengingat inflasi bergerak ke arah yang salah dan pasar tenaga kerja bertahan, sangat kecil kemungkinannya The Fed akan mampu menurunkan suku bunga dalam waktu dekat," kata analis Chris Zaccarelli dari Northlight Asset Management.
source on Google [Gambas:Video CNBC]