MARKET DATA

Pembeli di Pasar Tanah Abang Hilang Satu per Satu, Pedagang Teriak

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia
12 May 2026 17:35
Pedagang di pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
Foto: Pedagang di pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar Tanah Abang yang dulu dianggap sebagai pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara, tampaknya kini gelar tersebut sudah pudar dan era kejayaannya sudah berakhir. Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia, Selasa (12/5/2026), tampak suasana mulai sepi dan tidak seramai saat beberapa hari sebelum lebaran.

Seperti contohnya di kawasan Pusat Grosir Metro Tanah Abang (PGMTA), di mana beberapa hari sebelum lebaran, tampak ramai. Kini, hanya ada kesibukan dari para pedagang dan kurir angkut. Di depan kawasan tersebut pun tampak sepi.

Di lantai ini, pedagang sudah cukup banyak yang menjual dagangannya dengan cara melakukan live melalui TikTok atau Shopee Live. Bahkan di lantai 3 hingga 6 Blok A dan B, kondisinya makin sepi dan terlihat ada beberapa ruko yang sudah ditutup.

Dari Blok A dan Blok B, bergeser ke Blok F yang juga tampak sepi pengunjung. Bahkan, ruko-ruko pakaian di dekat Stasiun Tanah Abang, yang dulunya ramai dipadati pengunjung, kini hanya sedikit yang terlihat dan kebanyakan dari pedagang maupun kuli angkut.

Beberapa pedagang mengungkapkan era kejayaan Tanah Abang tampaknya sudah berakhir, dari sebelumnya dipenuhi oleh ibu-ibu yang ingin berbelanja pakaian, kini hanya terlihat pedagang yang sedang meratapi nasib.

Surono salah satunya, pedagang batik dan pakaian muslim pria ini mengaku kondisi Tanah Abang sudah sangat jauh dari kejayaannya.

"Era kejayaan Tanah Abang sejatinya sudah berakhir, dulu para ibu-ibu berbondong-bondong ke sini, sekarang tinggal sedikit yang masih mau ke sini," kata Surono saat ditemui CNBC Indonesia, Selasa (12/5/2026).

Tak hanya para pembeli yang semakin berkurang, pedagang pun juga makin berkurang. Ia mengatakan pedagang di Blok A Tanah Abang sejatinya sudah berkurang hingga 30%.

"Pedagang, terutama yang lama-lama sudah beralih jualan lain, ya berkurang 30% lah ya, apalagi yang di atas (lantai 7), bisa lebih dari 50%," terangnya.

Limei, pedagang pakaian anak-anak mengungkapkan jumlah pembeli semakin berkurang dan kini tersisa pembeli langganannya. Bahkan, langganannya pun sudah mengurangi jumlah pembelian.

"Kalau pembeli yang bukan langganan, sudah semakin sedikit, yang langganan masih ada dan berkurang, tapi beli barangnya makin berkurang, dari sebelumnya bisa 1 karung, sekarang cuma setengah karung. Ada juga yang sebelumnya beli lusinan, sekarang cuma beli setengah lusin," kata Limei saat ditemui CNBC Indonesia, Selasa (12/5/2026).

Bahkan, penurunan pembeli membuat omzetnya turun hingga sebagian dari penjualannya, atau sekitar 50%.

"Omzet, wah sudah turun banget, ada kali 50%, ya ada separonya lah," lanjutnya.

Pedagang di pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)Foto: Pedagang di pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

Limei melanjutkan, pelanggan langganannya mulai mengurangi jumlah pembelian karena biasanya mereka membeli di tokonya untuk dijual kembali. Namun karena juga sepi, sehingga mereka pun mengurangi jumlah pembeliannya.

"Langganan saya kan beli di sini, nanti buat dijual lagi, kebanyakan di luar Jabodetabek ya, tapi karena jualan mereka juga lesu, akhirnya beli di sini enggak banyak-banyak lagi," terangnya.

Senada dengan Limei, Rahmat, pedagang perlengkapan tidur juga mengungkapkan penjualan terus menurun hingga omzetnya sudah berkurang hingga 30%.

"Sejak Covid-19 lah mulai sepinya, tapi mulai 2025, makin sepi dan tahun ini, ya mau pasrah tapi bagaimana ya, pokoknya omzet sudah turun 30%," kata Rahmat.

Bahkan sebelum Covid-19 atau saat masih ramai, Ia sempat membuka dua gerai bersebelahan, karena membuka satu gerai saat itu tidak cukup. Sayangnya sejak Covid-19, Ia tak sanggup untuk menyewa satu gerai dan terpaksa ditutup.

"Dulu sebelum Covid-19, kami buka 2 gerai, di sini sama di sebelahnya, cuma gara-gara ada Covid-19, dan setelah itu Tanah Abang makin sepi, ya kami terpaksa hanya buka 1 ruko saja, karena sudah enggak kuat," terang Rahmat.

Rahmat menambahkan, dirinya mengaku tidak membuka toko jika hari-hari tertentu terlihat lebih sepi dari biasanya. Bahkan kini, Ia juga lebih cepat menutup tokonya.

"Kadang kalau pasar lagi sepi-sepinya, ya kami enggak buka, tapi ya jarang sih, kalau kami enggak buka sering-sering, yang ada penghasilan dapat dari mana," ujarnya.

(chd/wur) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Buru Baju Lebaran, Gamis Bini Orang Masih Jadi Tren di Tanah Abang?


Most Popular
Features