Trump Uring-uringan, Gencatan Senjata Iran "Hidup Segan Mati Tak Mau"
Jakarta, CNBC Indonesia - Upaya Amerika Serikat dan Iran untuk mempertahankan gencatan senjata kembali berada di ujung tanduk setelah Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengecam balasan proposal damai dari Teheran. Ketegangan terbaru itu memperlihatkan bahwa jarak antara kedua negara masih sangat lebar, meski perang yang berlangsung sejak akhir Februari sempat mereda dalam beberapa pekan terakhir.
Pernyataan Trump muncul ketika Selat Hormuz, jalur vital yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, masih belum sepenuhnya pulih dari blokade Iran. Kondisi tersebut terus menekan pasar energi global dan memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Di tengah kebuntuan diplomatik, Iran tetap bersikeras bahwa tuntutannya sah, sementara Washington menilai respons Teheran justru mengancam kelangsungan gencatan senjata yang berlaku sejak 7 April lalu. Situasi itu diperparah oleh bentrokan sporadis di sekitar Selat Hormuz dan Lebanon selatan yang menunjukkan konflik belum benar-benar berakhir.
Presiden Donald Trump pada Senin (11/5/2026) waktu setempat mengatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran kini berada dalam kondisi kritis atau hidup segan mati tak mau setelah membaca respons Iran terhadap proposal damai yang diajukan Washington untuk mengakhiri perang.
Iran dalam responsnya meminta penghentian perang di seluruh front, termasuk Lebanon, tempat sekutu AS, Israel, masih bertempur melawan kelompok Hezbollah yang didukung Teheran. Selain itu, Iran juga menuntut kompensasi atas kerusakan perang, penghentian blokade laut AS, jaminan tidak ada lagi serangan, serta dimulainya kembali penjualan minyak Iran.
Teheran juga menegaskan kembali kedaulatannya atas Selat Hormuz, jalur strategis yang saat ini ditutup bagi sebagian besar pelayaran internasional dan sebelumnya menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Trump menilai respons Iran justru membahayakan keberlangsungan gencatan senjata yang telah berjalan sejak awal April.
"Menurutku ini yang terlemah saat ini, setelah membaca artikel sampah yang mereka kirimkan kepada kami. Aku bahkan belum selesai membacanya," kata Trump.
Sebelumnya, AS mengusulkan penghentian pertempuran lebih dulu sebelum memulai pembicaraan mengenai isu yang lebih sensitif, termasuk program nuklir Iran.
Namun Iran mempertahankan posisinya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan tuntutan negaranya merupakan hal yang sah.
"Permintaan kami sah," ujarnya.
Ketua parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf juga memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Iran siap merespons tegas setiap bentuk agresi baru.
Trump sendiri berulang kali mengancam akan mengakhiri gencatan senjata sejak kesepakatan itu mulai berlaku 7 April lalu. Meski demikian, ia juga berupaya meredam kekhawatiran publik setelah sejumlah bentrokan laut terjadi pekan lalu.
Di pasar energi, harga minyak mentah Brent naik 2,7% ke sekitar US$104 per barel akibat kebuntuan yang membuat Selat Hormuz tetap nyaris tertutup. Sebelum perang dimulai pada 28 Februari, jalur sempit itu menjadi lintasan utama sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global.
Gangguan akibat penutupan hampir total Selat Hormuz memaksa sejumlah produsen energi memangkas ekspor mereka. Survei Reuters juga menunjukkan produksi minyak OPEC pada April turun ke level terendah dalam lebih dari dua dekade.
Data pelayaran dari Kpler dan LSEG menunjukkan lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz kini hanya bergerak sangat terbatas dibandingkan sebelum perang. Pekan lalu, hanya tiga tanker minyak yang diketahui keluar dari jalur tersebut, dengan alat pelacak mereka dimatikan untuk menghindari potensi serangan Iran.
Sementara itu, sebuah kapal LNG kedua dari Qatar dilaporkan sedang mencoba melintasi selat beberapa hari setelah kapal pertama berhasil menyeberang melalui pengaturan khusus yang melibatkan Iran dan Pakistan.
Meski perang skala penuh mereda sejak awal April, bentrokan sporadis di sekitar Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir terus menguji ketahanan gencatan senjata tersebut.
Di tengah situasi itu, Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan dijadwalkan menggelar pembicaraan di Qatar pada Selasa terkait konflik Iran dan keamanan navigasi di Selat Hormuz. Sumber diplomatik Turki mengatakan Ankara terus berkoordinasi dengan AS, Iran, dan Pakistan sejak perang pecah.
Sementara itu, langkah diplomatik dan militer berikutnya masih belum jelas. Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu, dan isu Iran diperkirakan menjadi salah satu agenda utama dalam pembicaraannya dengan Presiden China Xi Jinping.
Trump disebut berupaya menekan China agar menggunakan pengaruhnya untuk mendorong Iran menerima kesepakatan dengan Washington.
Namun Baghaei justru mengisyaratkan bahwa China bisa menggunakan momentum kunjungan tersebut untuk menentang kebijakan AS di kawasan Teluk.
"Teman-teman Tiongkok kita sangat tahu bagaimana menggunakan kesempatan ini untuk memperingatkan tentang konsekuensi dari tindakan ilegal dan intimidasi AS terhadap perdamaian dan keamanan regional," kata Baghaei.
Dalam pernyataan yang disiarkan Minggu lalu, Trump juga menegaskan bahwa Iran memang telah terpukul, tetapi belum benar-benar selesai.
"Mereka telah dikalahkan, tetapi itu tidak berarti mereka sudah selesai," ujarnya.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan perang belum berakhir karena masih ada "pekerjaan yang harus diselesaikan" untuk menghilangkan uranium yang diperkaya Iran, membongkar fasilitas pengayaan, dan menangani pasukan proksi serta kemampuan rudal balistik Teheran.
Dalam wawancara dengan program "60 Minutes" CBS News, Netanyahu menyebut diplomasi sebagai jalur terbaik, tetapi tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer.
Â
(luc/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]