Perang Iran Picu Retakan Besar, Ramai-Ramai Sekutu Menjauh dari AS
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan baru antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutu tradisionalnya mulai mencuat di tengah perang Iran yang belum sepenuhnya mereda. Langkah Presiden AS Donald Trump menarik sebagian pasukan dari Jerman, ancaman pengurangan militer di negara-negara Eropa lain, hingga sikapnya yang dinilai meremehkan serangan Iran terhadap mitra Teluk memicu kekhawatiran bahwa Washington makin sulit diprediksi dalam menghadapi krisis global.
Sejumlah analis menilai perang selama 10 pekan antara AS-Israel melawan Iran tidak hanya mengguncang pasar energi dunia, tetapi juga memperlebar retakan hubungan AS dengan NATO, negara-negara Teluk, hingga sekutu di Asia. Di tengah upaya menuju kemungkinan kesepakatan damai dengan Teheran, banyak negara sahabat Washington mulai mempertimbangkan langkah untuk mengurangi ketergantungan strategis terhadap AS.
Mengutip analisis Reuters, Senin (11/5/2026), situasi itu muncul ketika Trump terus mengubah pendekatan kebijakan luar negerinya sejak kembali ke Gedung Putih, termasuk terhadap perang Iran, yang menurut para pengamat telah mengguncang tatanan global berbasis aturan dan memperbesar ketidakpastian di antara sekutu lama Amerika.
Keputusan Trump menarik 5.000 dari total 36.400 tentara AS yang ditempatkan di Jerman menjadi salah satu pemicu terbaru ketegangan dengan Eropa. Langkah itu diumumkan setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz membuat Trump marah karena menyatakan secara terbuka bahwa Iran telah mempermalukan Amerika Serikat.
Tak lama setelah itu, Pentagon juga membatalkan rencana penempatan rudal jelajah Tomahawk di Jerman. Trump bahkan mengatakan dirinya tengah mempertimbangkan pengurangan pasukan AS di Italia dan Spanyol, dua negara yang disebut berbeda pandangan dengannya terkait perang Iran.
Trump sendiri sejak lama mempertanyakan relevansi NATO, aliansi yang dibentuk AS pasca-Perang Dunia II. Dalam beberapa kesempatan, ia juga menyinggung kemungkinan Washington tidak lagi terikat penuh pada Pasal 5 NATO mengenai pertahanan kolektif apabila sekutu dianggap tidak cukup membantu AS selama perang.
"President Trump has made his disappointment with NATO and other allies clear," kata juru bicara Gedung Putih Anna Kelly.
Ia menyebut beberapa pemerintah Eropa menolak permintaan penggunaan pangkalan militer mereka untuk operasi perang Iran. Namun Kelly tetap menegaskan bahwa Trump telah "Memulihkan kedudukan Amerika di panggung dunia dan memperkuat hubungan di luar negeri."
Meski begitu, ia menambahkan Trump "tidak akan pernah membiarkan Amerika Serikat diperlakukan tidak adil dan dimanfaatkan oleh apa yang disebut sebagai 'sekutu.'"
Keretakan dengan sekutu sebenarnya sudah muncul bahkan sebelum perang Iran pecah. Trump lebih dulu memicu keresahan melalui kebijakan tarif besar-besaran, dorongan mengambil alih Greenland dari Denmark, hingga penghentian bantuan militer untuk Ukraina.
Hubungan dengan Inggris juga sempat memanas ketika Trump menyerang Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada Maret lalu dengan menyebutnya "bukan Winston Churchill" dan mengancam tarif besar untuk impor Inggris.
Bahkan Pentagon disebut sempat mengusulkan hukuman terhadap sekutu NATO yang dianggap tidak mendukung operasi AS terhadap Iran, termasuk opsi menangguhkan keanggotaan Spanyol dan meninjau kembali pengakuan Washington atas klaim Inggris terhadap Kepulauan Falkland.
Analis menyebut perang Iran memperburuk ketegangan yang sudah lama terpendam antara Trump dan sekutu-sekutu tradisional Amerika.
"Kecerobohan Trump terkait Iran mengakibatkan beberapa perubahan dramatis," kata Brett Bruen, mantan penasihat pemerintahan Barack Obama yang kini memimpin konsultan strategis Situation Room.
"Kredibilitas AS dipertaruhkan," lanjutnya.
Ketegangan dengan Eropa makin tajam setelah AS bergabung dengan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu. Trump mengeklaim tanpa bukti bahwa Teheran hampir mengembangkan senjata nuklir. Sebagai balasan, Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital yang sebelumnya dilalui seperlima pasokan minyak dunia.
Penutupan selat tersebut memicu guncangan energi global dan membuat negara-negara Eropa menjadi salah satu pihak yang paling terdampak secara ekonomi dari perang yang sebenarnya tidak mereka kehendaki.
Di tengah situasi itu, negara-negara Eropa mulai meningkatkan kerja sama pertahanan di antara mereka sendiri, memperkuat industri persenjataan regional, dan mengurangi ketergantungan terhadap perlindungan AS.
Seorang diplomat Eropa menyebut ancaman Trump menjadi sinyal jelas bahwa Eropa harus lebih mandiri dalam menjaga keamanan kawasan.
Namun para analis menilai proses menuju kemandirian strategis Eropa tidak akan mudah karena mereka masih sangat bergantung pada payung pertahanan AS untuk menghadapi potensi ancaman Rusia.
Jeff Rathke, Presiden American-German Institute di Johns Hopkins University, mengatakan Kanselir Merz kini mulai lebih terbuka dalam mengkritik langkah Washington.
Menurutnya, Merz "tidak berusaha menyembunyikan penilaian kritis terhadap situasi yang telah dihadapi Amerika Serikat."
Ketegangan juga merembet ke kawasan Teluk. Ketika Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke Uni Emirat Arab, salah satu sekutu dekat AS, Trump dinilai tidak memberikan respons tegas.
Trump bahkan menyebut serangan pekan lalu itu sebagai insiden kecil, meski serangan tersebut memicu kebakaran di pelabuhan minyak Fujairah dan membuat pemerintah UEA menutup sekolah.
Sikap Trump memicu kekhawatiran baru di negara-negara Teluk yang sebelumnya sudah terdampak besar akibat perang dan krisis energi.
Sejumlah negara Arab Teluk disebut khawatir Trump pada akhirnya akan mencapai kesepakatan dengan Iran yang tetap menyisakan ancaman keamanan regional.
Dampak perang juga dirasakan di Asia, terutama negara-negara yang sangat bergantung pada pasokan energi melalui Selat Hormuz seperti Jepang dan Korea Selatan.
Negara-negara tersebut sebelumnya sudah terguncang oleh tarif tinggi Trump dan kritiknya terhadap aliansi tradisional AS. Kini muncul pertanyaan baru apakah Trump akan benar-benar membantu sekutu apabila terjadi konflik besar dengan China, termasuk kemungkinan invasi Taiwan.
Mantan Menteri Luar Negeri Jepang Takeshi Iwaya mengatakan kepercayaan terhadap AS mulai menyusut.
"Yang paling mengkhawatirkan kami adalah kepercayaan, rasa hormat, dan harapan terhadap Amerika Serikat, mitra inti dalam aliansi yang paling dihargai Jepang, telah menyusut,"katanya kepada Reuters.
"Hal itu bisa memberikan dampak buruk yang besar bagi seluruh wilayah," lanjutnya.
Mantan Menteri Perdagangan Jepang Yasutoshi Nishimura juga mengatakan Tokyo kini semakin perlu mempererat hubungan dengan "kekuatan menengah yang sepaham" seperti Inggris, Kanada, Australia, dan negara-negara Eropa.
Sementara itu, Rusia dan China disebut ikut memanfaatkan situasi. Rusia diuntungkan oleh lonjakan harga minyak dan gas akibat perang Iran serta teralihkan fokus AS dan Eropa dari perang Ukraina.
China sendiri dinilai mempelajari bagaimana AS harus memindahkan aset militer dari Indo-Pasifik ke Timur Tengah dan bagaimana militer paling kuat di dunia dapat ditekan melalui taktik asimetris seperti penggunaan drone murah.
Beijing juga mencoba memposisikan diri sebagai mitra global yang lebih stabil dibandingkan Trump yang dinilai sulit diprediksi. Trump sendiri dijadwalkan mengunjungi China pekan depan.
Meski demikian, Victoria Coates, mantan deputi penasihat keamanan nasional Trump periode pertama, menilai China akan sulit sepenuhnya memanfaatkan perang Iran untuk menggambarkan AS sebagai sumber ketidakstabilan global.
"Mereka sebenarnya bukanlah mitra yang kuat bagi sekutu mereka, Iran, selama ini," kata Coates, yang kini menjabat wakil presiden lembaga pemikir konservatif Heritage Foundation di Washington.
Â
(luc/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]