MARKET DATA
Internasional

Iran Akhirnya Jawab Tawaran Damai AS, Begini Respons Balik Trump

luc,  CNBC Indonesia
11 May 2026 05:30
U.S. President Donald Trump looks on at the White House in Washington, D.C., U.S., May 8, 2026. REUTERS/Elizabeth Frantz
Foto: REUTERS/Elizabeth Frantz

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menolak respons terbaru Iran atas proposal perdamaian yang diajukan Washington untuk mengakhiri perang, di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz meski dua kapal akhirnya berhasil melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.

Trump secara terbuka mengecam tanggapan Teheran melalui unggahan di platform Truth Social pada Minggu (10/5/2026) waktu setempat. Ia menilai jawaban Iran sama sekali tidak dapat diterima, tanpa menjelaskan lebih rinci isi penolakan tersebut.

"Saya baru saja membaca respons dari apa yang disebut 'Perwakilan' Iran. Saya tidak menyukainya - SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA," tulis Trump.

Pernyataan itu muncul setelah Iran mengirimkan respons resmi terhadap proposal AS yang sebelumnya menawarkan penghentian perang terlebih dahulu sebelum pembicaraan mengenai isu-isu lebih sensitif, termasuk program nuklir Iran, dimulai.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa respons tersebut menitikberatkan pada penghentian perang di semua front, terutama di Lebanon, serta keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Namun televisi pemerintah Iran tidak menjelaskan bagaimana maupun kapan jalur pelayaran vital itu akan kembali dibuka secara penuh.

Kantor berita semi-resmi Tasnim menyebut proposal Iran mencakup beberapa tuntutan utama, yakni penghentian perang secara langsung di seluruh front, penghentian blokade angkatan laut AS, jaminan tidak akan ada lagi serangan terhadap Iran, serta pencabutan sanksi terhadap Teheran, termasuk larangan AS atas penjualan minyak Iran.

Laporan The Wall Street Journal yang mengutip sumber anonim juga menyebut Iran menawarkan pengenceran sebagian uranium yang telah diperkaya tingkat tinggi serta pemindahan sisa stoknya ke negara ketiga.

Pakistan, yang selama ini menjadi mediator dalam pembicaraan konflik tersebut, dilaporkan telah meneruskan respons Iran kepada pihak AS. Seorang pejabat Pakistan mengonfirmasi langkah tersebut, sementara Washington belum memberikan komentar resmi.

Meski gencatan senjata telah berlangsung sekitar satu bulan dan kawasan Teluk relatif tenang dalam 48 jam terakhir, ancaman keamanan masih terasa nyata. Drone-drone bermusuhan dilaporkan terdeteksi di beberapa negara Teluk pada Minggu, memperlihatkan bahwa risiko eskalasi masih membayangi kawasan.

Di tengah situasi tersebut, kapal pengangkut gas alam cair milik QatarEnergy, Al Kharaitiyat, berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman dan menuju Pelabuhan Qasim di Pakistan, berdasarkan data perusahaan analitik pelayaran Kpler. Kapal itu menjadi kapal Qatar pertama yang membawa LNG melewati selat sejak perang dimulai pada 28 Februari lalu setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran.

Sumber-sumber menyebut pelayaran tersebut mendapat persetujuan Iran sebagai langkah membangun kepercayaan dengan Pakistan dan Qatar, yang juga berperan sebagai mediator.

Selain itu, kapal kargo berbendera Panama yang menuju Brasil juga berhasil melintasi selat menggunakan jalur yang telah ditentukan angkatan bersenjata Iran. Tasnim melaporkan kapal tersebut sebelumnya sempat mencoba melewati selat pada 4 Mei.

Adapun tekanan terhadap Trump untuk segera mengakhiri perang terus meningkat menjelang kunjungannya ke China pekan ini. Konflik tersebut telah memicu krisis energi global dan menambah ancaman terhadap perekonomian dunia.

Iran sendiri masih membatasi sebagian besar pelayaran non-Iran di Selat Hormuz, jalur sempit yang sebelum perang menjadi rute sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Jalur ini kini berubah menjadi salah satu titik tekanan utama dalam konflik.

Saat ditanya apakah operasi militer terhadap Iran telah berakhir, Trump memberikan jawaban ambigu.

"Mereka sudah dikalahkan, tetapi itu tidak berarti mereka sudah selesai," katanya dalam wawancara yang ditayangkan Minggu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga menegaskan perang belum usai. Menurutnya, masih ada pekerjaan besar yang harus dilakukan terkait uranium Iran, fasilitas pengayaan, kelompok proksi, dan kemampuan rudal balistik Teheran.

"Ada lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan," ujar Netanyahu.

Dalam wawancara dengan program CBS, Netanyahu mengatakan cara terbaik untuk menghilangkan uranium yang diperkaya adalah melalui jalur diplomasi, meski ia tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan tunduk terhadap tekanan musuh.

"Iran tidak akan pernah tunduk kepada musuh," tulis Pezeshkian di media sosial. Ia juga menegaskan negaranya akan "membela kepentingan nasional dengan kuat".

Sementara itu, rencana pembentukan misi internasional untuk menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz juga memicu peringatan keras dari Teheran.

Meski Washington telah memberlakukan blokadenya sendiri terhadap kapal-kapal Iran sejak bulan lalu, Teheran dinilai masih memainkan waktu sebelum memberikan respons penuh terhadap tuntutan penghentian perang yang mulai tidak populer di mata pemilih AS akibat lonjakan harga bensin.

Kurang dari enam bulan menjelang pemilu Kongres AS, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pemerintahan Trump terus mencari berbagai cara untuk menurunkan harga bahan bakar.

"Kami terus mencari berbagai ide berbeda," kata Wright dalam wawancara dengan NBC.

Namun AS juga menghadapi minimnya dukungan internasional. Sekutu NATO menolak permintaan Washington untuk mengirim kapal guna membuka Selat Hormuz tanpa adanya kesepakatan damai penuh dan mandat internasional resmi.

Di dalam negeri, Trump juga harus menghadapi tekanan dari Partai Demokrat yang berupaya menghentikan perang melalui legislasi War Powers Act.

Senator Demokrat senior Jack Reed bahkan menilai situasi memburuk akibat kebijakan Trump sendiri.

"Ini adalah situasi yang menjadi jauh lebih buruk karena tindakan Donald Trump, dan sekarang dia kelabakan mencoba mencari cara untuk keluar dari situasi ini," kata Reed kepada Fox News.

Inggris, yang tengah bekerja sama dengan Prancis untuk menyiapkan proposal keamanan pelayaran setelah situasi stabil, pada Sabtu mengumumkan pengerahan kapal perang ke Timur Tengah. Langkah serupa sebelumnya juga dilakukan Prancis.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi memperingatkan bahwa pengerahan kapal perang Inggris, Prancis, atau negara lain di sekitar Selat Hormuz dengan dalih "melindungi pelayaran" akan dianggap sebagai eskalasi dan dibalas dengan kekuatan.

Menanggapi hal tersebut, Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan negaranya siap membantu misi internasional, namun menepis adanya rencana pengerahan militer untuk membuka kembali Selat Hormuz.

"Kami tidak pernah membayangkan pengerahan militer untuk membuka kembali Hormuz," kata Macron.

 

(luc/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Usai Terima Ancaman Iran, Trump Cari Dukungan dari Israel


Most Popular
Features