Israel Kumat Lagi di Gaza, Anak Bos Hamas Tewas Dibunuh
Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan militer Israel di Gaza kembali memakan korban dari keluarga petinggi Hamas. Putra pejabat senior Hamas sekaligus kepala negosiator kelompok tersebut, Khalil al-Hayya, dilaporkan meninggal dunia akibat luka-luka yang dideritanya usai serangan udara Israel.
Rumah Sakit Al-Shifa pada Kamis mengonfirmasi bahwa Azzam Khalil al-Hayya (23 tahun) meninggal. Ini setelah ia menjalani perawatan intensif akibat serangan yang terjadi sehari sebelumnya di Kota Gaza.
"Azzam Khalil al-Hayya meninggal dunia setelah menyerah pada luka-luka yang diderita dalam serangan udara Israel yang menargetkannya kemarin," demikian pernyataan rumah sakit tersebut, seperti dikutip AFP, Jumat (8/5/2026).
Sebelumnya, Rumah Sakit Al-Ahli dan sumber keamanan Gaza menyebut serangan Israel di lingkungan Al-Daraj, Kota Gaza, pada Rabu malam menewaskan satu orang dan melukai 10 lainnya, termasuk Azzam. Militer Israel belum memberikan komentar resmi terkait insiden tersebut meski Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu dalam video yang dirilis Kamis mengatakan pasukan Israel terus menargetkan "sel-sel teroris" di Gaza.
"Kami menghilangkan sel-sel teroris di Gaza, termasuk kemarin," kata Netanyahu tanpa menjelaskan lebih rinci target serangan tersebut.
Menurut sumber Hamas, Azzam merupakan putra keempat dari tujuh anak laki-laki Khalil al-Hayya yang tewas akibat serangan Israel. Dua anak Khalil al-Hayya disebut telah meninggal sebelum perang Gaza pecah pada Oktober 2023 sementara putra ketiganya, Hammam, tewas dalam serangan Israel yang menargetkan para pemimpin Hamas di Doha pada September lalu.
Khalil al-Hayya sendiri merupakan kepala Hamas di Gaza yang kini tinggal di pengasingan di Qatar. Ia diketahui menjadi salah satu tokoh utama dalam negosiasi gencatan senjata dan disebut tengah berupaya memperkuat posisinya dalam kepemimpinan Hamas.
"Pembunuhan Azzam Khalil al-Hayya terjadi dalam kerangka upaya untuk memberikan tekanan pada kepemimpinan perlawanan dan delegasi negosiasinya," demikian pernyataan Hamas.
"Israel gagal memaksakan syarat maupun mencapai tujuan militernya di Gaza," tambahnya.
Meski gencatan senjata yang dimediasi AS mulai berlaku sejak Oktober lalu, kekerasan di Gaza masih terus berlangsung hampir setiap hari. Israel dan Hamas saling menuduh melakukan pelanggaran kesepakatan.
Pada Kamis, militer Israel mengklaim telah menyerang "pusat komando Hamas" di wilayah utara Gaza yang disebut berisi sejumlah pejuang Hamas. Tak lama setelah itu, Kementerian Dalam Negeri Gaza mengumumkan tiga anggota "pasukan keamanan internal" Hamas tewas dalam serangan Israel di Kota Gaza.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 840 warga Palestina telah tewas sejak gencatan senjata diberlakukan, dinilai kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sementara itu, militer Israel menyebut lima tentaranya tewas di Gaza selama periode yang sama.
source on Google [Gambas:Video CNBC]