Kalah dalam Mosi Tidak Percaya, Pemerintahan Negara NATO Ini Runtuh
Jakarta, CNBC Indonesia - Stabilitas politik Rumania kembali diguncang prahara hebat setelah pemerintahan proreformasi pimpinan Perdana Menteri Ilie Bolojan resmi terjungkal melalui mosi tidak percaya di parlemen. Kejatuhan ini menandai sejarah baru yang kelam bagi demokrasi negara tersebut, di mana kelompok kiri-tengah justru "bermesraan" dengan kelompok sayap kanan untuk merebut kekuasaan.
Mengutip laporan Deutsche Welle, runtuhnya kabinet Bolojan ini terjadi pada Selasa (5/5/2026), setelah ia hanya menjabat selama 10 bulan.Â
Negara anggota NATOÂ tersebut memang dikenal sebagai negara dengan tingkat ketidakstabilan kronis, sejak krisis konstitusi tahun 2012, tercatat ada 11 perdana menteri terpilih, tujuh pemimpin interim, dan 19 kabinet yang berbeda di negara tersebut.
Pemerintah Kalah dalam Pemungutan Suara
Dalam pemungutan suara yang dramatis, mosi tidak percaya terhadap kabinet Ilie Bolojan dari Partai Liberal Nasional (PNL) berhasil lolos dengan dukungan mayoritas. Untuk pertama kalinya dalam sejarah pascakomunis Rumania, Partai Sosial Demokrat (PSD) yang selama ini dianggap pro-Eropa, bergabung dengan partai sayap kanan pro-Rusia, Aliansi untuk Persatuan Rumania (AUR).
Langkah kolaborasi ini secara otomatis meruntuhkan sekat politik terhadap kelompok ekstrem kanan yang sebelumnya telah disepakati oleh semua partai pro-demokrasi. Keberhasilan mosi ini membuka jalan bagi kelompok sayap kanan untuk mencicipi kursi kekuasaan jika pemilihan umum dipercepat benar-benar dilaksanakan.
Ilie Bolojan memberikan pidato yang cukup emosional di hadapan parlemen sesaat sebelum pemungutan suara dimulai. Ia memberikan peringatan keras bahwa kepergiannya tidak akan menyelesaikan tumpukan masalah yang melanda negara.
"Saya bisa pergi, tetapi masalah negara ini akan tetap ada," ujar Bolojan sebagaimana dikutip dari laporan tersebut pada Kamis (7/5/2026).
Mosi tidak percaya itu sendiri disahkan dengan angka yang cukup telak di gedung parlemen. Aliansi dadakan antara kaum sosialis dan sayap kanan berhasil mengumpulkan dukungan yang jauh melampaui batas minimal.
"Mosi tidak percaya tersebut lolos dengan 281 suara setuju dari total 464 kursi di dua kamar parlemen," tulis laporan tersebut.
Krisis yang Berlangsung Berbulan-bulan
Krisis politik ini sebenarnya telah memuncak sejak dua minggu lalu ketika para menteri dari Partai Sosial Demokrat menarik diri dari pemerintahan. Padahal, saat mulai menjabat pada Juni 2025, kabinet ini membawa mandat besar untuk melakukan reformasi ambisius di tengah defisit anggaran yang membengkak di atas 9%.
Langkah reformasi Bolojan memang berani namun menyakitkan bagi banyak pihak, termasuk menaikkan pajak penjualan dan memangkas puluhan ribu posisi di aparat birokrasi serta perusahaan milik negara yang tidak efisien. Meskipun memicu ketidakpuasan publik, jajak pendapat menunjukkan banyak warga Rumania merasa agenda reformasi Bolojan sebenarnya sangat diperlukan.
Reformasi Pensiun yang Kontroversial
Salah satu pemicu utama keretakan koalisi adalah reformasi skema pensiun khusus bagi anggota yudikatif. Di bawah sistem lama, para pejabat sipil ini bisa pensiun sebelum usia 50 tahun dengan uang pensiun rata-rata mencapai US$5.800 per bulan, bahkan dalam beberapa kasus mencapai US$15.000.
Sebagai perbandingan, rata-rata pensiun warga biasa di Rumania hanya berkisar antara US$540 hingga US$650. Pemerintah Bolojan berusaha menghapus hak istimewa ini dan menaikkan usia pensiun, sebuah langkah yang memicu ketegangan hebat dengan PSD.
Bolojan menuding bahwa mosi tidak percaya yang diajukan oleh PSD dan sayap kanan hanyalah sebuah sandiwara politik yang mengabaikan kepentingan ekonomi jangka panjang. Ia menyebut tindakan mantan rekan koalisinya itu sebagai bentuk pengkhianatan terhadap komitmen awal.
"Bolojan menggambarkan mosi tidak percaya terhadap pemerintahannya sebagai hal yang 'tidak jujur, sinis, dan buatan'," tulis laporan itu.
Apa yang Terjadi Selanjutnya?
Setelah penggulingan ini, kondisi politik Rumania berada di persimpangan jalan. Presiden Nicusor Dan memiliki kewenangan untuk menominasikan kandidat perdana menteri baru, namun jika beberapa upaya gagal, parlemen dapat dibubarkan untuk menggelar pemilu dini.
Partai sayap kanan AUR sangat mengharapkan adanya pemilu cepat untuk mendongkrak perolehan suara mereka yang pada pemilu 2024 lalu sudah mencapai 30%. Namun, Presiden Nicusor Dan mencoba mendinginkan suasana dan memastikan bahwa Rumania akan tetap berada di jalur pro-Barat.
Dalam pernyataan singkatnya pada Selasa malam, Presiden Dan meminta semua pihak untuk tetap tenang menghadapi hasil keputusan demokratis tersebut. Ia menegaskan keyakinannya terhadap masa depan arah politik negara.
"Dan menepis kemungkinan pemilihan umum dini dan menyatakan keyakinannya bahwa pada akhir semua konsultasi dan prosedur konstitusional, Rumania 'sekali lagi akan memiliki pemerintahan pro-Barat'," tutup laporan tersebut.
(tps/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]