Bye Perang AS-Iran! Washington-Teheran Mau Teken MOU Damai
Jakarta, CNBC Indonesia - Perdamaian perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Timur Tengah sepertinya bisa menjadi kenyataan. Dalam laporan laman AS, Axios, sejumlah pejabat Gedung Putih mengungkapkan bahwa Washington dan Teheran tengah membahas sebuah nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU), satu halaman, yang bertujuan mengakhiri perang.
Memo ini sekaligus menjadi dasar bagi negosiasi lebih rinci terkait program nuklir Iran. Menurut dua pejabat AS dan dua sumber lain yang mengetahui proses tersebut, tanggapan Iran atas sejumlah poin kunci diharapkan diterima dalam 48 jam ke depan.
Meski belum ada kesepakatan final, sumber-sumber tersebut menyebut situasi ini sebagai titik terdekat menuju kesepakatan sejak konflik dimulai. Dalam rancangan yang tengah dibahas, Iran akan berkomitmen pada moratorium pengayaan uranium, sementara AS akan melonggarkan sanksi serta mencairkan miliaran dolar dana Iran yang selama ini dibekukan.
Selain itu, kedua pihak juga akan mencabut pembatasan terkait lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Namun, sebagian besar ketentuan dalam MoU ini bersifat bergantung pada tercapainya kesepakatan final, sehingga masih terbuka kemungkinan konflik kembali memanas atau memasuki fase "menggantung" di mana perang berhenti tetapi masalah inti belum terselesaikan.
Di sisi lain, Gedung Putih menilai kepemimpinan Iran saat ini terpecah, sehingga sulit mencapai konsensus internal. Sejumlah pejabat AS bahkan masih meragukan apakah kesepakatan awal sekalipun dapat benar-benar tercapai, mengingat optimisme serupa juga pernah muncul dalam putaran negosiasi sebelumnya tanpa hasil konkret.
Dua pejabat AS menyebut keputusan Presiden Donald Trump untuk menahan diri dari operasi militer baru di Selat Hormuz, yang sebelumnya diumumkan, serta menjaga gencatan senjata yang rapuh, dipengaruhi oleh kemajuan dalam pembicaraan ini.
Berisi 14 Poin
Adapun negosiasi MoU berisi 14 poin tersebut dilakukan oleh utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, bersama sejumlah pejabat Iran, baik secara langsung maupun melalui mediator.
Dalam bentuk saat ini, MoU akan menyatakan berakhirnya perang di kawasan dan memulai periode negosiasi selama 30 hari untuk menyusun kesepakatan yang lebih rinci. Pembahasan tersebut kemungkinan berlangsung di Islamabad atau Geneva.
Selama periode itu, pembatasan Iran terhadap pelayaran di Selat Hormuz serta blokade laut AS akan dicabut secara bertahap. Namun, jika negosiasi gagal, AS disebut dapat kembali memberlakukan blokade atau melanjutkan aksi militer.
Salah satu poin paling sensitif adalah durasi moratorium pengayaan uranium. Tiga sumber menyebut durasi minimal akan mencapai 12 tahun, sementara satu sumber lain menyebut angka 15 tahun sebagai kemungkinan kompromi. Iran sebelumnya mengusulkan moratorium lima tahun, sedangkan AS menginginkan 20 tahun.
Washington juga mendorong klausul tambahan yang memungkinkan perpanjangan moratorium jika Iran melanggar ketentuan tersebut. Setelah masa moratorium berakhir, Iran diperbolehkan melakukan pengayaan uranium hingga tingkat rendah 3,67%.
Dalam MoU, Iran juga akan berkomitmen untuk tidak pernah mengembangkan senjata nuklir atau melakukan aktivitas yang berkaitan dengan persenjataan. Selain itu, kedua pihak tengah membahas kemungkinan klausul yang melarang Iran mengoperasikan fasilitas nuklir bawah tanah.
Iran juga diharapkan menyetujui rezim inspeksi yang diperketat, termasuk inspeksi mendadak oleh inspektur PBB.
Sebagai imbalannya, AS akan secara bertahap mencabut sanksi terhadap Iran dan membuka akses terhadap miliaran dolar dana Iran yang dibekukan di berbagai negara.
Dalam perkembangan yang cukup mengejutkan, dua sumber menyebut Iran kemungkinan akan menyetujui pemindahan uranium yang telah diperkaya tinggi ke luar negeri, sebuah tuntutan utama AS yang sebelumnya ditolak Teheran. Salah satu opsi yang sedang dibahas bahkan mencakup kemungkinan pemindahan material tersebut ke Amerika Serikat.
Kompleks dan Teknis
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengakui kompleksitas proses negosiasi tersebut. "Kami tidak harus memiliki perjanjian yang benar-benar tertulis dalam satu hari," ujarnya.
"Ini sangat kompleks dan teknis. Tetapi kita harus memiliki solusi diplomatik yang sangat jelas mengenai isu-isu yang bersedia mereka negosiasikan dan sejauh mana konsesi yang bersedia mereka berikan di awal agar itu layak dilakukan," tambahnya.
Namun, Rubio juga melontarkan kritik keras terhadap sebagian pemimpin Iran. Ia menyebut beberapa di antaranya "gila di otak" dan mempertanyakan apakah mereka benar-benar bersedia mencapai kesepakatan
Harga Minyak
Sementara itu, harga minyak turun tajam setelah Axios melaporkan bahwa AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Patokan internasional Brent berjangka anjlok hampir 8% dan ditutup pada US$101,27 per barel sementara itu, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS urun sekitar 7% dan ditutup pada US$95,08.
(sef/sef) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]