MARKET DATA

RI-China Diam-Diam Makin Mesra, Sepakat Tinggalkan Dolar AS

Arrijal Rachman ,  CNBC Indonesia
06 May 2026 10:50
U.S. Dollar and Chinese Yuan banknotes are seen in this illustration taken January 30, 2023. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: REUTERS/DADO RUVIC

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia tengah menggencarkan transaksi keuangan hingga investasi menggunakan Yuan China, demi mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan pola transaksi tanpa dolar AS ini didukung oleh layanan local currency transaction alias LCT. Layanan itu pun didominasi oleh transaksi Indonesia menggunakan Yuan China.

"Termasuk di dalam negeri itu adalah pasar Yuan, Chinese Yuan dengan Rupiah sudah berkembang di dalam negeri karena local currency kita dengan Cina sama Rupiah itu sangat tinggi," kata Perry di kawasan Istana Negara, Jakarta, dikutip Rabu (6/5/2026).

Berdasarkan catatan terakhir BI, nilai transaksi LCT per Februari 2026 sudah mencapai nilai yang setara US$ 4,1 miliar. Dari nilai itu, mayoritas disumbang dari transaksi dengan China yang per bulannya mencapai US$ 3,02 miliar.

"Dan sekarang sudah mulai terbentuk pasar domestik Yuan sama Rupiah, termasuk ini local currency sehingga itu mengurangi atau melakukan diversifikasi dari dolar sehingga itu bisa memperkuat rupiah," paparnya.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pemerintah Indonesia sebetuknya juga sudah terlibat aktif mengurangi dominasi dolar sebagai mata uang transaksi global Indonesia. Caranya dengan mendiversifikasi pasar surat utang, yang kini tengah difokuskan dengan denominasi Yuan China, melalui penerbitan Panda Bond.

"Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan bond dalam bentuk Panda Bond di Cina dengan bunga yang lebih rendah sehingga kita tidak tergantung terlalu banyak ke dolar lagi," tuturnya di kawasan Istana Negara.

Di berbagai kesempatan ia sebelumnya juga telah mengungkapkan bahwa imbal hasil atau yield yang dimintakan investor China hanya sekitar 2,3%, jauh lebih rendah dari yield surat berharga negara (SBN) tenor acuan 10 tahun selama ini yang di kisaran 6%.

Oleh sebab itu, ia percaya diri penerbitan Panda Bonds ini akan membuat keberagaman pasokan valuta asing atau valas di Indonesia. Tak lagi didominasi dolar AS.

"Jadi diversifikasi kita akan lebih baik lagi ke depan. Jadi prospek kita bagus, teman-teman semua nggak usah takut. Tadi Pak Presiden juga bilang sama saya suruh sampaikan pesan bahwa uang saya cukup, duitnya banyak, jadi Anda enggak usah takut," paparnya.

Sebelum penerbitan Panda Bond, pemerintah Indonesia bahkan sudah menerbitkan Dim Sum Bond pada Oktober 2025. Penerbitan Dim Sum Bonds menarik minat investor onshore (domestik) Cina dengan total final orderbook mencapai 18 miliar yuan (Rp39,6 triliun).

Utang luar negeri (ULN) Indonesia yang bersumber dari China pun sudah naik pada Februari 2026 dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Di saat yang sama, utang Indonesia dari Amerika Serikat (AS) juga meningkat, sementara utang berdasarkan mata uang yuan ikut menembus level tertinggi baru.

Berdasarkan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi April 2026 yang dirilis Bank Indonesia pada Rabu (15/4/2026), posisi ULN Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar US$437,9 miliar atau tumbuh 2,5% secara tahunan (year on year/yoy).

Bila dikonversi ke rupiah, nilai utang luar negeri Indonesia hingga Februari 2026 mencapai sekitar Rp7.501,22 triliun (asumsi kurs Rp17.130/US$1). Nilai ini lebih tinggi dibandingkan Januari 2026 yang sebesar US$434,9 miliar dengan pertumbuhan 1,7% yoy.

Dari sisi negara kreditur, posisi utang luar negeri Indonesia kepada China pada Februari 2026 tercatat mencapai US$25,574 miliar. Angka ini naik dari Januari 2026 yang sebesar US$25,123 miliar. Kenaikan ini sekaligus membuat utang Indonesia dari China mencetak rekor tertinggi baru.

Sebelumnya, rekor tertinggi utang Indonesia dari China sempat berada di kisaran US$25,048 miliar pada Agustus 2025. Artinya, posisi Februari 2026 sudah melampaui level tertinggi sebelumnya dan menegaskan bahwa peran China sebagai salah satu kreditur utama Indonesia masih terus membesar.

Jika ditarik lebih jauh, kenaikan utang dari China ini juga menunjukkan tren yang masih cukup kuat dalam beberapa tahun terakhir. Dalam lanskap kreditur global Indonesia, China tetap menjadi salah satu pemberi utang terbesar dan kini posisinya makin dekat dengan AS.

Di sisi lain, utang luar negeri Indonesia dari AS juga ikut naik. Pada Februari 2026, nilainya mencapai US$27,803 miliar, naik dari US$27,066 miliar pada Januari 2026. Dengan angka tersebut, AS masih menjadi kreditur dengan nilai pinjaman lebih besar dibandingkan China.

Meski demikian, jarak antara posisi utang Indonesia ke AS dan China kini semakin menyempit. Per Februari 2026, selisih keduanya tinggal sekitar US$2,23 miliar. Ini menunjukkan bahwa meskipun AS masih berada di atas China, laju kenaikan utang ke China terlihat semakin signifikan dan terus mendekati posisi AS.

(arj/haa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article RI-China Makin Lengket, Teken Proposal 16 Proyek Investasi Rp36,7 T


Most Popular
Features