Gas RI Melimpah Tapi Kenapa Masih Impor LPG? Ini Kata Bahlil
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan alasan di balik masih tingginya impor Liquefied Petroleum Gas (LPG), meskipun Indonesia dikenal memiliki cadangan gas bumi yang melimpah.
Menurut Bahlil, persoalan utama bukan pada ketersediaan gas secara umum, melainkan pada jenis kandungan gas yang dimiliki Indonesia. Setidaknya, LPG membutuhkan komponen spesifik berupa propana (C3) dan butana (C4), sementara mayoritas gas alam Indonesia didominasi oleh metana (C1) dan etana (C2).
"Masalahnya adalah pertanyaan yang selalu saya dapat informasi kenapa kita tidak membuat LPG dalam negeri? Padahal kita gas melimpah. Gas kita nggak pernah impor lagi lho. Gas itu sudah semuanya industri dalam negeri. Yang kita bahkan kita ekspor 30% dari total lifting gas kita. Cuman kenapa LPG kita impor? Karena LPG itu bahan bakunya C3, C4... C3, C4 itu berbeda dengan kebanyakan gas kita, gas kita itu C1, C2. C3, C4 ini kecil, makanya kita membangun industri dalam negerinya kecil," kata Bahlil dalam acara Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa, Sabtu (2/4/2026).
Bahlil menjelaskan, keterbatasan kandungan C3 dan C4 membuat produksi LPG dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional. Saat ini, kebutuhan LPG Indonesia mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi domestik hanya berada di kisaran 1,6 hingga 1,7 juta ton.
Dengan kesenjangan tersebut, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 7 juta ton LPG setiap tahun. Ia lantas menyoroti besarnya beban yang ditanggung negara akibat impor LPG.
Bahlil membeberkan devisa yang dikeluarkan untuk impor LPG mencapai Rp137 triliun per tahun, dengan porsi subsidi sekitar Rp80 triliun hingga Rp87 triliun.
"Dari 137 triliun rupiah itu yang disubsidi oleh negara 80 sampai 87 triliun rupiah per tahun Bos. Jangan, jangan tepuk tangan ini sedih bagi saya. Sedih ini. Saya sampai duduk pikir-pikir ini kita pintar atau kita setengah pintar gitu," ujarnya.
source on Google [Gambas:Video CNBC]