MARKET DATA
Internasional

Saling Tembak di Selat Hormuz, Ini 6 Perkembangan Baru Perang AS-Iran

tfa,  CNBC Indonesia
05 May 2026 09:40
Serangan baru iran ke kapal as di selat Hormuz. (Tangkapan Layar CCTV+ via Reuters)
Foto: Ketegangan terjadi kembali antara AS dan Iran di Selat Hormuz. (Tangkapan Layar CCTV+ via Reuters)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali membara dengan serangkaian eskalasi terbaru yang mengguncang kawasan Timur Tengah, khususnya di jalur vital energi dunia, Selat Hormuz.

Berikut enam perkembangan terbaru yang merangkum panasnya konflik tersebut, seperti dihimpun CNBC Indonesia, Selasa (5/5/2026).

1. AS  Tembak Jatuh Rudal Iran, 6 Kapal Dihancurkan

AS mengatakan telah menembak jatuh sejumlah rudal dan drone Iran yang mengarah ke kapal perang serta kapal komersial di kawasan Selat Hormuz, Senin. Dalam operasi itu, militer AS juga mengklaim menghancurkan enam kapal kecil milik Teheran.

Kepala Komando Pusat Amerika Serikat, Brad Cooper, mengatakan serangan terjadi saat AS menjalankan misi pengamanan pelayaran bertajuk "Proyek Kebebasan". Operasi itu terkait pengawalan kapal-kapal melewati Selat Hormuz yang diumumkan Presiden Donald Trump, Minggu.

"Helikopter Apache dan Seahawk menghantam enam kapal kecil Iran yang mengancam pengiriman komersial," ujarnya, seperti dikutip AFP.

Ia menambahkan, pasukan AS juga "secara efektif menghadapi semua rudal dan drone yang ditembakkan ke arah kami dan kapal-kapal komersial". Menurut Cooper, sebagian rudal jelajah memang diarahkan ke kapal Angkatan Laut AS, namun mayoritas serta sejumlah drone justru menargetkan kapal komersial.

"Kami membela diri kami sendiri dan, sesuai komitmen, kami juga melindungi semua kapal komersial," tegasnya.

Sementara itu, Trump dalam unggahan di platform Truth menyebut total tujuh kapal Iran terdampak serangan. Ia menegaskan belum ada kerusakan besar di Selat Hormuz selain satu kapal Korea Selatan (Korsel) yang terkena dampak.

Di sisi lain, media pemerintah Iran mengutip pejabat militernya yang membantah klaim tersebut. Pejabat Teheran mengatakan "klaim AS bahwa mereka menenggelamkan sejumlah kapal perang Iran adalah salah".

Ketegangan di jalur vital energi dunia ini meningkat sejak konflik terbuka AS dan Israel dengan Iran pada akhir Februari. Meski AS tidak mengawal langsung kapal, Cooper menyebut pihaknya menerapkan "payung pertahanan berlapis" mulai dari kapal perang, helikopter, pesawat, hingga sistem peringatan dini dan perang elektronik guna memastikan pelayaran tetap berjalan aman di kawasan tersebut.

2. Minyak Melonjak, Bursa AS Terseret Tegangan Hormuz

Harga minyak dunia melonjak tajam di tengah memanasnya situasi di Selat Hormuz. Kenaikan dipicu serangan pesawat tak berawak yang memicu kebakaran di fasilitas energi Uni Emirat Arab (UEA), sekaligus memperburuk gencatan senjata rapuh antara AS dan Iran.

Kontrak minyak mentah acuan global Brent untuk pengiriman Juli tercatat melonjak lebih dari 5% usai serangan di Fujairah. Kementerian Pertahanan UEA menyebut serangan tersebut melibatkan drone dan rudal yang diarahkan dari Iran. 

Di pasar saham, reli Wall Street mulai kehilangan tenaga. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite yang sebelumnya mencetak rekor tertinggi, berbalik melemah karena investor melakukan aksi ambil untung.

"Ketegangan di Timur Tengah menjadi alasan yang sangat baik untuk menarik sebagian uang," ujar analis Briefing.com, Patrick O'Hare.

Meski demikian, pelaku pasar dinilai belum sepenuhnya mengantisipasi skenario terburuk. Ia mengatakan di titik ini, pasar tidak khawatir terhadap eskalasi penuh perang Iran.

Sentimen tetap ditopang kinerja solid raksasa teknologi seperti Apple, Google, Microsoft, dan Samsung. Saham-saham itu yang mendorong optimisme terhadap sektor kecerdasan buatan.

Di Asia, bursa Seoul dan Taipei justru melesat ke rekor tertinggi, dipimpin lonjakan saham chip seperti SK hynix dan TSMC. Sementara itu, bursa Eropa seperti Paris dan Frankfurt ditutup melemah lebih dari 1%, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak geopolitik yang kian memanas.

3. UEA Murka, Serangan Baru Picu Eskalasi di Selat Hormuz

Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Uni Emirat Arab (UEA) mengecam "eskalasi berbahaya" menyusul serangan baru yang dituduhkan kepada Iran. Insiden ini terjadi bersamaan dengan aksi militer Amerika Serikat yang mengklaim telah menghancurkan sejumlah kapal Iran di Selat Hormuz, memperburuk situasi pasca gencatan senjata rapuh sejak 8 April.

Trump menyebut Iran sempat "melepaskan beberapa tembakan" tanpa menimbulkan kerusakan besar, kecuali pada kapal Korea Selatan. Ia menambahkan militer AS telah "menembak jatuh" tujuh kapal kecil Iran meski laim ini dibantah Teheran.

"Klaim AS bahwa mereka menenggelamkan sejumlah kapal perang Iran adalah salah," ujar seorang pejabat militer senior Iran, dikutip televisi pemerintah.

Di sisi lain, UEA melaporkan serangan yang menyasar fasilitas energi di Fujairah dan melukai tiga warga India. Kementerian Pertahanan UEA menyebut empat rudal jelajah diluncurkan dari Iran, dengan tiga berhasil dicegat.

"Ini adalah eskalasi berbahaya dan kami berhak untuk merespons," tegas otoritas UEA. Namun Iran membantah tuduhan tersebut dan justru menyalahkan operasi militer AS di kawasan. "Militer AS harus bertanggung jawab atas hal ini," kata pejabat Iran.

Situasi juga berdampak langsung pada keamanan kawasan. Dua orang dilaporkan terluka akibat serangan di Bukha, Oman, sementara militer Israel menyatakan tetap dalam siaga tinggi. CENTCOM menyebut kapal perusak rudal berpemandu kini beroperasi di Teluk sebagai bagian dari operasi maritim "Proyek Kebebasan" untuk mengawal kapal dagang keluar dari kawasan.

Memanasnya konflik turut mendorong lonjakan harga minyak global, di tengah terganggunya jalur distribusi energi dunia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan negaranya ingin mengakhiri perang, namun menyalahkan AS atas mandeknya negosiasi.

"Pihak lain harus berkomitmen pada pendekatan yang wajar dan meninggalkan tuntutan yang berlebihan," ujarnya.

4. Iran Bantah Rencana Serang UEA, Tuding Ulah AS

Pemerintah Iran menegaskan tidak memiliki rencana sebelumnya untuk menyerang fasilitas minyak di Uni Emirat Arab. Pernyataan ini disampaikan televisi pemerintah Iran, menyusul tudingan UEA atas serangan drone di instalasi energi di Fujairah yang melukai tiga warga India.

Seorang pejabat militer Iran menyebut insiden tersebut bukan bagian dari operasi terencana Teheran. Ia justru menuding langkah militer Amerika Serikat sebagai pemicu eskalasi di kawasan, khususnya terkait aktivitas di Selat Hormuz.

"Republik Islam tidak memiliki program yang direncanakan sebelumnya untuk menyerang fasilitas minyak tersebut. Apa yang terjadi merupakan hasil dari petualangan militer AS," ujar pejabat tersebut seperti dikutip media pemerintah Iran.

Iran juga mendesak Washington menghentikan pendekatan militer dalam proses diplomasi. Menurutnya, aktivitas militer AS di kawasan energi sensitif berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global.

Sementara itu, Presiden Donald Trump sebelumnya mengumumkan rencana mengawal kapal-kapal negara netral keluar dari Teluk sebagai misi kemanusiaan. Di sisi lain, ketegangan meningkat setelah Iran mengklaim menembakkan tembakan peringatan ke kapal perang AS, sementara Trump menyebut pasukan AS telah menembak jatuh tujuh kapal militer kecil Iran, klaim yang kemudian dibantah Teheran.

5. Trump Ajak Korsel Ikut Misi Hormuz

Presiden AS Donald Trump menyatakan situasi di Selat Hormuz relatif terkendali meski terjadi insiden tembakan oleh Iran. Ia menegaskan "tidak ada kerusakan" signifikan di jalur vital tersebut, sambil mendorong Korseluntuk bergabung dalam misi pengamanan pelayaran.

Melalui unggahan di Truth Social, Trump menyebut Iran telah "melepaskan beberapa tembakan" ke kapal-kapal yang tidak terkait konflik. Salah satu yang terdampak adalah kapal kargo Korsel, yang kemudian menjadi alasan Trump mendesak Seoul ikut serta dalam operasi militer tersebut.

"Iran telah melepaskan beberapa tembakan ke negara-negara yang tidak terkait... termasuk Kapal Kargo Korea Selatan. Mungkin sudah saatnya Korea Selatan datang dan bergabung dalam misi!" tulis Trump.

"Selain Kapal Korea Selatan, saat ini, tidak ada kerusakan yang terjadi di Selat tersebut."

Situasi ini mengguncang gencatan senjata yang sebelumnya sudah rapuh, di tengah meningkatnya ketegangan kawasan dan lonjakan harga minyak global. Trump juga tidak menyinggung laporan serangan yang diduga menyasar Uni Emirat Arab dan Oman, yang dinilai sebagai upaya meredam eskalasi lebih lanjut.

Di sisi lain, Trump mengklaim pasukan AS telah menembak jatuh tujuh kapal militer kecil Iran. Pernyataan ini sedikit berbeda dengan keterangan pejabat militer AS sebelumnya yang menyebut enam kapal hancur, sementara Teheran membantah tidak ada kapal mereka yang tenggelam.

6. Hezbollah Bentrok Lagi dengan Israel di Lebanon

Kelompok militan Hezbollah mengklaim terjadi bentrokan sengit dengan pasukan Militer Israel di wilayah Lebanon selatan, Senin (4/5/2026) waktu setempat, meski gencatan senjata rapuh telah berlaku sejak 17 April. Insiden ini terjadi di dekat perbatasan, tepatnya di sekitar kota Deir Seryan.

Dalam pernyataannya, Hezbollah menyebut pasukannya melepaskan tembakan setelah tentara Israel mencoba maju ke wilayah tersebut.

"Para pejuang kami melepaskan tembakan ke arah pasukan musuh dan terlibat dalam bentrokan hebat dengan mereka," demikian pernyataan resmi kelompok itu. Sementara itu, pihak militer Israel mengonfirmasi adanya kontak senjata jarak dekat.

Militer Israel menyatakan dua tentaranya mengalami luka sedang akibat bentrokan tersebut. "Sebelumnya hari ini, dua tentara IDF terluka akibat bentrokan jarak dekat dengan teroris Hezbollah di Lebanon selatan," tulis pernyataan resmi, seraya menambahkan bahwa para korban telah dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

Ketegangan juga meningkat setelah media pemerintah Lebanon, National News Agency, melaporkan lebih dari 20 serangan udara Israel menghantam sejumlah lokasi di Lebanon selatan, termasuk wilayah yang sebelumnya diperintahkan untuk dikosongkan. Militer Lebanon menyebut seorang perwira dan satu tentara mengalami luka ringan akibat serangan di kota Kafra.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon, sejak konflik terbaru pecah pada 2 Maret, hampir 2.700 orang tewas dan lebih dari 8.200 lainnya terluka. Meski ada kesepakatan gencatan senjata, Israel menyatakan tetap berhak mengambil tindakan terhadap ancaman yang dianggap akan terjadi atau sedang berlangsung.

(tfa/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article 14 Perkembangan Gencatan Senjata AS-Iran, Bisa Batal karena Israel


Most Popular
Features