MARKET DATA

Ekspor Tambang RI Turun 2,15% Jadi US$ 3 M di Maret, Efek Perang?

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
04 May 2026 14:12
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Ateng Hartono saat rilis BPS, Senin (4/5/2026). (Tangkapan layar youtube BPS)
Foto: Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Ateng Hartono saat rilis BPS, Senin (4/5/2026). (Tangkapan layar youtube BPS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai ekspor non migas sektor pertambangan dan lainnya mengalami penurunan 2,15% (year-on-year/yoy) menjadi US$3 miliar pada Maret 2026.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik Ateng Hartanto mengungkapkan penyebab pelemahan ekspor pertambangan tersebut oleh menurunnya nilai ekspor beberapa komoditas tambang.

Komoditas tambang yang nilai ekspornya turun pada Maret 2026 antara lain, lignite, bijih tembaga, bijih zirconium, niobium, tantalum, serta bahan mineral lainnya dan juga aspal.

"Nilai ekspor pertambangan dan lainnya itu turun tadi 2,15% ini secara year on year, disebabkan menurunnya nilai ekspor beberapa komoditasnya yaitu yang pertama komoditas lignite. Kemudian bijih tembaga, bijih zirconium, kemudian niobium, dan juga tantalum serta bahan mineral lainnya dan juga aspal," ucapnya saat Konferensi Pers Rilis Data Statistik di Gedung BPS, Jakarta pada Senin (4/5/2026).

Secara keseluruhan, BPS mencatat kinerja ekspor US$22,53 miliar pada Maret 2026. Angka ini turun 3,10% (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ateng mengatakan bahwa ekspor migas mencapai US$ 1,28 miliar atau turun 11,84%. Sedangkan ekspor nonmigas turun 2,52% dengan nilai US$ 21,25 miliar.

"Penurunan nilai ekspor Maret didorong penurunan ekspor nonmigas yaitu komoditas lemak dan minyak hewan nabati turun 27,02% andil penurunan 3,52%," kata Ateng.

Adapun, ekspor kumulatif pada Januari-Maret mencapai US$ 66,85 miliar atau naik 0,34% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, ekspor minyak dan gas tercatat US$ 3,25 miliar atau turun 10,58%.

Sedangkan ekspor nonmigas, naik 0,98% dengan nilai US$ 63,65 miliar. Menurut BPS, peningkatan terjadi pada sektor industri pengolahan. Sektor ini menjadi pendorong utama kinerja sektor nonmigas dengan andil 3,15%. Komoditas penggeraknya, kata Ateng, a.l. nikel, kimia dasar organik, CPO, kimia dasar organik dan semi konduktor.

(rob/haa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ekspor RI Ambles Januari-November 2025, Batu Bara Jadi Pemicu!


Most Popular
Features