Rupiah Tembus 17.320/US$, Airlangga Buka Suara
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah buka suara terkait nilai tukar rupiah yang terus melemah. Seperti yang diketahui, merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda dibuka di zona merah dengan depresiasi sebesar 0,09% ke level Rp17.320/US$ pada perdagangan awal pekan, Senin (4/5/2026). Posisi tersebut sekaligus menjadi level penutupan terlemah rupiah sepanjang masa.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga dialami oleh berbagai negara lain.
"Ya Pemerintah tentu akan melihat, tetapi juga terkait dengan pelemahan kurs kan bukan hanya monopoli Indonesia, tetapi berbagai negara menghadapi hal yang sama," ujar Airlangga saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Senin (4/5/2026).
Airlangga menjelaskan, pemerintah akan terus memantau perkembangan nilai tukar, termasuk membandingkannya dengan pergerakan mata uang di negara-negara tetangga atau peer countries.
"Jadi kita monitor terhadap peer country juga," ujarnya.
Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan penyebab kurs rupiah mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga melemah di level atas Rp 17.300/US$.
Menurut Destry, tekanan yang terjadi terhadap kurs rupiah hari ini tidak terlepas dari tingginya ketidakpastian global. Makanya, ia menekankan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebetulnya tidak melemah sendiri.
"Tekanan pada Rupiah yang terjadi sejak pagi tadi lebih banyak karena meningkatnya ketidakpastian global, sehingga mata uang regional mengalami tekanan yang sama," kata Destry kepada CNBC Indonesia.
Oleh sebab itu, ia pun memastikan, Bank Indonesia akan terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat struktur suku bunga instrumen pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik, di tengah berlanjutnya dampak perang Timur Tengah.
"Intervensi yang berkesinambungan akan terus kami lakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder," kata Destry.
Ia menekankan, pelemahan rupiah masih sejalan dengan regional. Secara tahun berjalan atau year to date, kurs rupiah ia anggap telah melemah dengan minus 3,54% dan cadangan devisa tetap terjaga di level US$ 148,2 miliar pada akhir Maret 2026.
(haa/haa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]