MARKET DATA
Internasional

Ditinggal UEA, OPEC Naikkan Produksi Minyak Jadi 188 Ribu Bpd

tps,  CNBC Indonesia
04 May 2026 20:50
Ditinggal UEA, OPEC Naikkan Produksi Minyak Jadi 188 Ribu Bpd
Foto: Ilustrasi Produksi Minyak OPEC (Infografis/Ilham)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kartel minyak paling berpengaruh di dunia, OPEC+, dilaporkan telah mengambil keputusan produksi pertama mereka tepat setelah Uni Emirat Arab (UEA) resmi mengundurkan diri. Keputusan ini diambil di tengah ketegangan perang antara AS-Israel dengan Iran yang masih terus mengganggu pasokan minyak global di kawasan Teluk.

Mengutip laporan data Reuters, sebanyak tujuh negara anggota utama eksportir minyak mentah telah sepakat untuk menaikkan target produksi minyak sekitar 188.000 barel per hari (bpd) untuk bulan Juni mendatang. Langkah ini diambil guna menjaga stabilitas pasar energi global meskipun salah satu produsen terbesarnya baru saja hengkang.

Keputusan penambahan produksi ini merupakan respon lanjutan setelah UEA, yang memegang pangsa pasar sekitar 13,5% di organisasi tersebut, menarik diri dari OPEC dan aliansi OPEC+ pada 1 Mei 2026. Pihak Abu Dhabi menyebut keputusan tersebut sebagai pilihan strategis yang berdaulat untuk memberikan fleksibilitas lebih besar atas produksi minyak nasional mereka.

"Langkah ini menandakan bahwa OPEC+ terus mengambil pendekatan bisnis seperti biasa meskipun ada keputusan Abu Dhabi," ujar salah satu sumber internal, dikutip Senin (4/5/2026).

Sumber tersebut menambahkan bahwa kenaikan produksi bulan Juni ini akan serupa dengan kenaikan bulan lalu sebesar 206.000 bpd, namun kali ini dikurangi dengan jatah pangsa milik UEA. Saat ini, OPEC masih beranggotakan Arab Saudi, Irak, Iran, Kuwait, Aljazair, Libya, Nigeria, Gabon, Guinea Khatulistiwa, Republik Kongo, dan Venezuela, dengan Rusia sebagai sekutu utama dalam format OPEC+.

Namun, kenaikan produksi sebesar 188.000 bpd ini dinilai sebagian besar pengamat masih bersifat simbolis. Hal ini dikarenakan jalur pengiriman melalui Selat Hormuz masih terganggu parah akibat konflik Iran, yang secara otomatis memangkas ekspor dari anggota kunci seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait.

Kampanye pengeboman oleh AS-Israel terhadap Iran dan penutupan jalur air yang biasanya menangani seperlima perdagangan energi global tersebut telah memukul telak angka produksi. Pada Maret lalu, total produksi minyak semua anggota rata-rata hanya 35,06 juta bpd, anjlok sebesar 7,7 juta bpd dibandingkan level pada Februari.

Menanggapi keluarnya Emirat dari kartel, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan bahwa Moskow menghormati keputusan kedaulatan negara tersebut. Peskov juga menegaskan bahwa Rusia tidak memiliki niat untuk meninggalkan grup dan membantah spekulasi bahwa langkah UEA akan menjadi akhir bagi eksistensi OPEC+.

"Rusia tidak memiliki niat untuk meninggalkan kelompok ini," tegas Peskov menanggapi kekhawatiran pecahnya aliansi produsen minyak tersebut.

(tps/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article OPEC+ Sepakat Naikkan Produksi, Harga Minyak Bakal Jinak?


Most Popular
Features