MARKET DATA
Internasional

Survei Terbaru: Dukungan untuk Trump "Terjun Bebas" ke Titik Terendah

luc,  CNBC Indonesia
29 April 2026 14:30
Presiden AS Donald Trump bericara saat konferensi pers di Ruang Briefing Pers James S. Brady di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 6 April 2026. (REUTERS/Kevin Lamarque)
Foto: Presiden AS Donald Trump bericara saat konferensi pers di Ruang Briefing Pers James S. Brady di Gedung Putih di Washington, D.C., AS, 6 April 2026. (REUTERS/Kevin Lamarque)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penurunan dukungan publik terhadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump kian terlihat di tengah tekanan ekonomi dan dampak konflik luar negeri, dengan survei terbaru menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat berada di titik terendah sepanjang masa jabatannya saat ini.

Berdasarkan jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos yang dirilis awal pekan ini, hanya 34% warga AS yang menyatakan puas terhadap kinerja Trump di Gedung Putih. Angka ini turun dari 36% pada survei sebelumnya yang dilakukan pada pertengahan April. Survei tersebut dilakukan selama empat hari dan rampung pada Senin.

Mayoritas respons dikumpulkan sebelum insiden penembakan pada Sabtu malam di acara makan malam White House Correspondents' Association, di mana Trump hadir. Dalam insiden itu, seorang pria bersenjata dihentikan sebelum memasuki ruangan tempat Trump sedang makan malam.

Jaksa federal telah mendakwa pelaku dengan tuduhan percobaan pembunuhan terhadap presiden. Namun, belum diketahui apakah peristiwa ini akan memengaruhi persepsi publik terhadap Trump.

Sejak kembali menjabat pada Januari 2025, tingkat persetujuan terhadap Trump memang terus menunjukkan tren penurunan. Saat awal masa jabatan, sekitar 47% warga AS memberikan penilaian positif terhadapnya.

Penurunan ini makin tajam sejak AS bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu lonjakan harga energi global.

Dampaknya langsung terasa di dalam negeri, terutama pada biaya hidup masyarakat. Hanya 22% responden yang menyatakan puas terhadap kinerja Trump dalam menangani biaya hidup, turun dari 25% pada survei sebelumnya.

Lonjakan harga bahan bakar menjadi salah satu faktor utama yang membebani persepsi publik. Harga bensin di AS melonjak lebih dari 40% menjadi sekitar US$4,18 per galon sejak konflik dengan Iran dimulai. Kenaikan ini dipicu oleh terganggunya sekitar seperlima perdagangan minyak dunia akibat penutupan jalur energi utama.

Kondisi tersebut menekan rumah tangga AS dan memicu kekhawatiran di kalangan Partai Republik bahwa mereka bisa kehilangan kendali atas Kongres dalam pemilu paruh waktu November mendatang.

Meski demikian, basis pendukung Trump di Partai Republik masih cukup solid. Sekitar 78% responden dari partai tersebut tetap menyatakan dukungan terhadapnya. Namun, bahkan di dalam partainya sendiri, 41% responden menyatakan tidak puas terhadap penanganan biaya hidup oleh Trump.

Sementara itu, pemilih independen, yang sering menjadi penentu dalam pemilu, cenderung lebih memilih Partai Demokrat dengan selisih 14 poin, yakni 34% berbanding 20% dalam preferensi pemilu Kongres. Sekitar seperempat responden dalam kelompok ini masih belum menentukan pilihan.

Trump sebelumnya memenangkan pemilu presiden 2024 dengan janji menurunkan harga setelah periode inflasi tinggi di era Joe Biden. Namun kini, tingkat persetujuan terhadap kinerja ekonominya hanya berada di angka 27%, lebih rendah dibandingkan periode pemerintahannya pada 2017-2021, bahkan di bawah titik terendah Biden dalam isu ekonomi.

Meski konflik antara AS dan Iran mulai mereda setelah kedua pihak menyepakati gencatan senjata awal bulan ini, ketegangan belum sepenuhnya hilang. Ancaman dari Iran masih menghambat sebagian besar pengiriman minyak dari Teluk Persia, yang pada gilirannya terus mendorong kenaikan harga energi global di tengah penurunan cadangan minyak.

Dukungan publik terhadap konflik tersebut juga terus menurun. Hanya 34% warga AS yang menyatakan setuju dengan keterlibatan AS dalam konflik dengan Iran, turun dari 36% pada pertengahan April dan 38% pada pertengahan Maret.

Sebagai perbandingan, selama masa jabatan pertamanya, popularitas Trump cenderung stabil di kisaran 40% untuk waktu yang cukup lama. Angka terbaru ini hanya sedikit di atas titik terendah sepanjang masa jabatan pertamanya, yakni 33%.

Survei Reuters/Ipsos ini dilakukan secara daring di seluruh wilayah AS, melibatkan 1.269 responden dewasa, termasuk 1.014 pemilih terdaftar, dengan margin of error sebesar 3 poin persentase.

 

(luc/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Trump Pening Harga Barang AS Naik: Semua Mahal-Warga Ngamuk


Most Popular
Features