MARKET DATA

Satu Lagi Tentara RI Gugur di Misi Perdamaian UNIFIL, Kemlu Buka Suara

Wilda Asmarini,  CNBC Indonesia
24 April 2026 21:25
A UNIFIL convoy rides through the town, as seen through the window of a vehicle, in Tyre, south Lebanon, April 15, 2026. REUTERS/Louisa Gouliamaki
Foto: REUTERS/Louisa Gouliamaki

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Republik Indonesia menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya Praka Rico Pramudia, prajurit Indonesia dalam misi perdamaian UNIFIL, yang mengalami luka berat akibat ledakan artileri dari tank Israel di dekat kota Adchit Al Qusayr pada 29 Maret 2026.

Mengutip akun resmi Kementerian Luar Negeri RI di X @Kemlu_RI, Jumat (24/4/2026), Kementerian Luar Negeri RI menjelaskan, sejak insiden tersebut, Pemerintah Indonesia melalui koordinasi erat dan intensif dengan pihak UNIFIL, Pemerintah Lebanon, serta tim medis di Beirut telah memastikan penanganan medis dilakukan secara cepat dan optimal.

"Berbagai langkah medis terbaik telah ditempuh, namun akibat luka berat yang dialami, nyawa almarhum tidak dapat diselamatkan," ungkap pernyataan yang dipublikasikan di akun X, Jumat (24/4/2026).

"Pemerintah menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan. Negara hadir untuk memberikan penghormatan terbaik bagi almarhum atas pengabdian dan pengorbanannya dalam menjaga perdamaian dunia. Pemerintah terus berkoordinasi dengan UNIFIL untuk memastikan proses repatriasi jenazah dapat dilakukan dengan segera dan penuh penghormatan," bunyi pernyataan resmi tersebut.

"Indonesia kembali mengutuk keras serangan Israel yang menyebabkan gugurnya peacekeeper Indonesia. Serangan terhadap personel pemelihara perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang," tulis pernyataan tersebut.

Indonesia terus mendesak PBB untuk melakukan investigasi yang menyeluruh, transparan, dan akuntabel guna mengungkap fakta serta memastikan pertanggungjawaban atas insiden ini.

"Keselamatan dan keamanan peacekeepers PBB tidak dapat ditawar. Oleh karenanya, Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan PBB dan negara-negara kontributor pasukan untuk memperkuat perlindungan bagi seluruh personel di lapangan, termasuk melalui evaluasi menyeluruh terhadap aspek keselamatan dan keamanan serta penguatan langkah mitigasi risiko di wilayah operasi UNIFIL," tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri RI tersebut.

(wia) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Geger Enam WNI Ditangkap di Singapura, Ini Respons Kemlu


Most Popular
Features