MARKET DATA
Internasional

Perundingan AS-Iran Buntu Terus, Ternyata Kuncinya Dipegang China

tfa,  CNBC Indonesia
23 April 2026 22:00
China’s President Xi Jinping attends a meeting with Russia’s Foreign Minister Sergei Lavrov (not pictured) at the Great Hall of the People in Beijing, China April 15, 2026. Iori Sagisawa/Pool via REUTERS   REFILE - QUALITY REPEAT
Foto: via REUTERS/Iori Sagisawa

Jakarta, CNBC Indonesia - China kian menegaskan perannya sebagai aktor penting dalam upaya meredakan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Hal ini terjadi di tengah situasi gencatan senjata yang masih rapuh dan penuh ketidakpastian.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengungkap adanya peran Beijing di balik tercapainya gencatan senjata sementara antara Washington dan Teheran. Bahkan, China disebut ikut mendorong Iran agar bersedia masuk ke meja perundingan.

Seiring berjalannya waktu, peran tersebut makin terbuka. Pemerintah China secara aktif menyerukan penghentian konflik dan menekankan pentingnya menjaga momentum gencatan senjata yang sudah tercapai. Menteri Luar Negeri China Wang Yi menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah mencegah konflik kembali pecah dan menjaga stabilitas kawasan.

Beijing juga menunjukkan dukungan terhadap jalur diplomasi setelah AS memperpanjang masa gencatan senjata guna memberi waktu bagi Iran menyusun proposal bersama.

"Situasi saat ini berada pada tahap krusial. Prioritas mendesak adalah mencegah konflik kembali terjadi," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, seperti dikutip Newsweek, Kamis (23/4/2026).

Di sisi lain, kepentingan ekonomi menjadi faktor kuat di balik manuver China. Negeri Tirai Bambu memiliki ketergantungan besar terhadap pasokan energi dari kawasan Teluk, termasuk Iran. Gangguan di Selat Hormuz berpotensi menekan pasokan energi global dan berdampak langsung pada ekonomi China.

Bahkan, ketegangan terbaru menunjukkan risiko tersebut semakin nyata. Iran menegaskan pembukaan Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan selama konflik dan blokade masih berlangsung, memperburuk gangguan terhadap perdagangan global.

Selain kepentingan energi, China juga memiliki hubungan strategis dengan Iran, termasuk dalam sektor ekonomi dan politik. Hubungan ini memberi Beijing posisi unik sebagai salah satu pihak yang masih memiliki akses komunikasi kuat dengan Teheran, sekaligus tetap menjaga hubungan dengan Washington.

Analis China dari Planet Nine, Tuvia Gering, menilai kedekatan Beijing dengan struktur kekuasaan Iran, khususnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menjadi keuntungan tersendiri.

"Dengan tokoh-tokoh yang dekat dengan IRGC, China kemungkinan melihat organisasi tersebut tetap menjadi kekuatan dominan dalam politik Iran," ujarnya.

Ia menambahkan, hubungan ekonomi melalui pembelian minyak membuat China secara tidak langsung menopang struktur kekuatan di Iran. "Ini menjadi keuntungan bagi Beijing karena hubungan tersebut sudah terinstitusionalisasi," katanya.

Presiden China Xi Jinping pun mulai mengirim sinyal lebih tegas dengan mendorong stabilitas kawasan dan menyerukan pembukaan kembali jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz.

Sementara itu, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, menegaskan negaranya akan terus mengambil peran aktif dalam meredakan konflik.

"China telah memegang posisi objektif dan adil serta berupaya membantu mewujudkan gencatan senjata dan mengakhiri konflik," ujarnya. "Untuk menyelesaikan masalah, konflik harus dihentikan sesegera mungkin dan semua pihak perlu menahan diri."

(tfa/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Perang Tetangga RI Menggila, Trump Turun Gunung Tak Mempan


Most Popular
Features