MARKET DATA
Internasional

Kerugian Minyak dalam Perang Iran Tembus Rp860 T, Semua Menderita

luc,  CNBC Indonesia
20 April 2026 08:03
A vessel at the Strait of Hormuz, off the coast of Oman’s Musandam province, April 12, 2026. REUTERS     TPX IMAGES OF THE DAY
Foto: REUTERS/Stringer

Jakarta, CNBC Indonesia - Dampak ekonomi dari perang Iran mulai terlihat dalam skala yang jarang terjadi sebelumnya. Dalam waktu kurang dari dua bulan, gangguan pasokan energi global telah menghapus ratusan juta barel minyak dari pasar dan menimbulkan kerugian puluhan miliar dolar.

Para analis dan perhitungan Reuters menunjukkan bahwa dunia telah kehilangan lebih dari US$50 miliar atau hampir Rp860 triliun nilai minyak mentah yang tidak sempat diproduksi sejak perang Iran dimulai hampir 50 hari lalu. Dampaknya pun diperkirakan tidak berhenti dalam waktu dekat, melainkan akan terasa berbulan-bulan hingga bertahun-tahun ke depan.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, pada akhir pekan lalu menyatakan bahwa Selat Hormuz telah dibuka kembali setelah adanya kesepakatan gencatan senjata di Lebanon. Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan dirinya yakin kesepakatan untuk mengakhiri perang Iran akan tercapai "segera", meski belum jelas kapan waktunya.

Sejak krisis dimulai pada akhir Februari, lebih dari 500 juta barel minyak mentah dan kondensat telah hilang dari pasar global, menurut data Kpler. Angka ini disebut sebagai gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern.

Untuk menggambarkan besarnya angka tersebut, kehilangan 500 juta barel minyak setara dengan berbagai skenario ekstrem.

Analis utama Wood Mackenzie, Iain Mowat, menjelaskan bahwa volume tersebut setara dengan penghentian seluruh permintaan aviasi global selama 10 minggu, atau tidak adanya perjalanan kendaraan di seluruh dunia selama 11 hari, bahkan setara dengan tidak adanya pasokan minyak bagi ekonomi global selama lima hari.

Perhitungan Reuters juga menunjukkan angka itu hampir setara dengan kebutuhan minyak Amerika Serikat selama hampir satu bulan, atau lebih dari satu bulan konsumsi minyak seluruh Eropa. Bahkan, jumlah tersebut setara dengan konsumsi bahan bakar militer AS selama sekitar enam tahun, berdasarkan penggunaan tahunan sekitar 80 juta barel pada tahun fiskal 2021.

Selain itu, volume yang hilang tersebut cukup untuk menjalankan seluruh industri pelayaran internasional dunia selama sekitar empat bulan.

Dari sisi produksi, negara-negara Teluk Arab kehilangan sekitar 8 juta barel per hari pada Maret, angka yang hampir setara dengan produksi gabungan dua raksasa minyak dunia, Exxon Mobil dan Chevron.

Gangguan juga terlihat pada ekspor bahan bakar penerbangan. Data Kpler menunjukkan ekspor bahan bakar jet dari Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman anjlok dari sekitar 19,6 juta barel pada Februari menjadi hanya 4,1 juta barel untuk gabungan Maret dan April sejauh ini.

Menurut perhitungan Reuters, penurunan tersebut setara dengan bahan bakar untuk sekitar 20.000 penerbangan pulang-pergi antara Bandara JFK New York dan Heathrow London.

Dengan harga minyak rata-rata sekitar US$100 per barel sejak konflik dimulai, volume yang hilang itu berarti sekitar US$50 miliar pendapatan yang lenyap, menurut analis senior Kpler, Johannes Rauball. Nilai tersebut setara dengan pemangkasan sekitar 1% produk domestik bruto tahunan Jerman, atau bahkan setara dengan seluruh PDB negara kecil seperti Latvia atau Estonia.

Meski ada sinyal pembukaan kembali Selat Hormuz, pemulihan pasokan diperkirakan tidak akan cepat. Stok minyak mentah global di daratan telah turun sekitar 45 juta barel sepanjang April, sementara gangguan produksi sejak akhir Maret mencapai sekitar 12 juta barel per hari.

Rauball memperkirakan ladang minyak berat di Kuwait dan Irak bisa membutuhkan waktu empat hingga lima bulan untuk kembali ke tingkat operasi normal. Kondisi ini berpotensi memperpanjang tekanan pada stok hingga musim panas.

Lebih jauh lagi, kerusakan pada kapasitas kilang serta kompleks gas alam cair Ras Laffan di Qatar menunjukkan bahwa pemulihan penuh infrastruktur energi kawasan tersebut bisa memakan waktu bertahun-tahun.

 

(luc/luc) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Ekonom Ingatkan Perang Iran Jadi Ujian Ketahanan Fiskal & Energi RI


Most Popular
Features