MARKET DATA
Internasional

Kondisi Warga Iran, Penuh Ketakutan dan Tekanan Setelah Perang

Redaksi,  CNBC Indonesia
18 April 2026 20:10
Keramaian warga Iran mengunjungi Grand Bazaar di Teheran, Selasa (31/3/2026) di tengah konflik antara Amerika Serikat, Israel dengan Iran. (AFP/ATTA KENARE)
Foto: Keramaian warga Iran mengunjungi Grand Bazaar di Teheran, Selasa (31/3/2026) di tengah konflik antara Amerika Serikat, Israel dengan Iran. (AFP/ATTA KENARE)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang di Timur Tengah melunak setelah Iran mengumumkan pembukaan Selat Hormuz dengan beberapa syarat dan ketentuan. Kendati demikian, ketidakpastian masih menyelimuti wilayah tersebut, terutama setelah Amerika Serikat (AS) menegaskan akan tetap memblokade pelabuhan Iran.

Iran juga mengancam akan kembali menutup Selat Hormuz jika AS tetap melakukan blokade. Di saat bersamaan, Presiden AS Donald Trump menyebut kemungkinan tidak akan memperpanjang gencatan senjata antara AS dan Iran yang ditetapkan selama dua pekan.

Di tengah ketidakpastian tersebut, warga Iran berupaya mempertahankan kehidupan normal setelah berminggu-minggu dibom AS dan Israel. Bukan cuma itu, penindakan brutal terhadap para demonstran pada Januari 2026 menjadi bayang-bayang suramnya masa depan di negara tersebut.

Dikutip dari Reuters, Sabtu (18/4/2026), pembicaraan lebih lanjut antara AS-Iran diharapkan akan menghasilkan perpanjangan masa gencatan senjata. Kondisi terkini, toko-toko, restoran, dan kantor pemerintah tetap buka di Iran.

Taman-taman kota ramai dengan keluarga yang berpiknik dan anak muda yang bermain olahraga, sementara yang lain berkumpul di kafe-kafe pinggir jalan.

Namun, di balik pemandangan damai tersebut, ekonomi Iran hancur lebur. Masyarakat ketakutan menghadapi tindakan keras pemerintah yang baru. Mereka juga marah dan sedih dengan serangan udara bertubi-tubi yang telah merusak rumah mereka. Kesulitan yang memicu kerusuhan massal pada Januari 2026 diprediksi akan memburuk.

Menteri Luar Negeri Iran pada Jumat (17/4) mengatakan Selat Hormuz telah dibuka menyusul kesepakatan gencatan senjata untuk Lebanon, sementara Presiden AS Donald Trump mengatakan dia yakin kesepakatan untuk mengakhiri perang Iran akan segera tercapai.

"Perang akan berakhir, tetapi justru saat itulah masalah nyata kita dengan sistem dimulai. Saya sangat khawatir jika rezim mencapai kesepakatan dengan AS, hal itu akan meningkatkan tekanan pada rakyat biasa," kata seorang pria berusia 37 tahun bernama Fariba yang ikut serta dalam demonstrasi Januari lalu kepada Reuters melalui telepon dari Iran, dikutip Sabtu (18/4/2026).

"Rakyat belum melupakan kejahatan rezim pada Januari lalu, dan sistem belum melupakan bahwa rakyat tidak menginginkannya. Mereka menahan diri sekarang karena mereka tidak ingin berperang di dalam negeri juga," katanya.

Serangan AS-Israel terhadap Iran telah menewaskan ribuan orang, menurut jumlah korban resmi, termasuk banyak orang di sebuah sekolah pada hari pertama konflik. Serangan itu juga telah menghancurkan infrastruktur di seluruh negeri, meningkatkan prospek PHK massal.

Teokrasi revolusioner Iran tampak makin kuat setelah bertahan dari serangan intensif selama berminggu-minggu dan menegaskan kendali atas pasokan minyak global.

"Rakyat Iran memahami bahwa perang ini tidak akan menggulingkan rezim, tetapi pada saat yang sama, perang ini akan membuat kehidupan mereka jauh lebih buruk secara ekonomi," kata Omid Memarian, analis Iran di lembaga think tank independen yang berbasis di AS, Dawn, dikutip dari Reuters.

"Militer tidak akan meletakkan senjata mereka. Mereka akan tetap di sini dan akan terjadi pertumpahan darah. Ini akan sangat mahal tanpa prospek masa depan yang lebih baik," tambahnya.

Di Teheran utara, Reuters juga mewawancarai warga Iran tentang perang dan kekhawatiran mereka. Media asing di Iran beroperasi di bawah pedoman yang ditetapkan oleh Kementerian Kebudayaan dan Bimbingan Islam, yang mengatur aktivitas dan izin pers.

Mehtab, yang bekerja di sebuah perusahaan swasta dan meminta agar nama keluarganya tidak disebutkan, mengatakan bahwa keadaan bisa lebih buruk bagi warga Iran, mengingat dampak perang dan sanksi serta isolasi selama bertahun-tahun.

Warga Iran lainnya yang dihubungi Reuters melalui telepon, menyuarakan kecemasan yang jauh lebih besar saat berbicara secara anonim.

"Ya, orang-orang menikmati gencatan senjata untuk saat ini, tetapi apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa yang seharusnya kita lakukan dengan rezim yang menjadi maka kuat?" kata Sara, 27 tahun, seorang guru privat, yang menolak menyebutkan nama keluarga atau lokasinya.

Amerika Tak Niat Bantu Warga Iran

Ribuan orang tewas ketika pihak berwenang menumpas protes selama berminggu-minggu pada Januari lalu. Hal ini mendorong Trump sesumbar ia akan membantu rakyat Iran.

Namun, meskipun Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sama-sama mengatakan di awal perang bahwa mereka berharap perang itu akan menggulingkan ulama yang berkuasa, tujuan itu memudar seiring berjalannya perang.

Kemarahan atas penindakan tersebut membuat banyak warga Iran menginginkan penguasa baru, tetapi segera merasa kecewa dengan perang tersebut, kata Memarian.

"Saya pikir menjadi lebih jelas bagi banyak warga Iran bahwa perang ini tidak dirancang, atau tidak bertujuan, untuk membantu rakyat Iran," katanya.

Beberapa sumber Reuters merupakan perempuan yang tidak mengenakan hijab. Aturan berpakaian yang lebih longgar di tempat umum adalah hasil dari protes massal pada 2022 lalu, termasuk tentang hak-hak perempuan, yang ditindas secara brutal oleh pihak berwenang sambil secara diam-diam mengurangi penegakan beberapa aturan berpakaian.

Analis politik Iran independen yang berbasis di Inggris, Hossein Rassam, mengatakan insiden pada Januari lalu menunjukkan bahwa pihak berwenang tidak akan mudah mundur.

Perang dengan AS membuat warga Iran makin terpolarisasi, tetapi hanya sedikit pilihan yang mereka miliki.

"Ini adalah momen perhitungan bagi warga Iran karena pada akhirnya warga Iran, terutama warga Iran di dalam negeri, menyadari bahwa mereka perlu hidup bersama. Tidak ada tempat untuk pergi," katanya.

Ketakutan Ditindas Rezim

Banyak warga Iran khawatir penindasan kini bisa memburuk. "Di jalanan, perempuan berkeliaran tanpa hijab, tetapi tidak jelas apakah kebebasan semacam ini akan berlanjut setelah kesepakatan dengan AS. Tekanan akan meningkat 100%, karena begitu ada perdamaian dengan Washington, rezim tidak akan lagi menghadapi tekanan eksternal yang sama," kata Arjang, seorang ayah dua anak berusia 43 tahun, kepada Reuters melalui telepon dari Teheran utara.

Protes pada Januari lalu tidak membawa perubahan nyata pada kehidupan masyarakat. Justru insiden itu menyebabkan pihak berwenang membatasi penggunaan internet secara ketat.

Hal ini menjadi pukulan bagi bisnis dan orang biasa yang sangat membutuhkan informasi selama perang.

"Bahkan hal-hal terkecil seperti berhubungan dengan anggota keluarga kami yang tinggal di luar negeri pun tidak mungkin," kata Faezeh, 47, saat bermain voli dengan teman-temannya di sebuah taman di Teheran utara.

(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: Ratusan Warga Iran Mulai Menyeberangi Perbatasan Turki


Most Popular
Features