MARKET DATA

Muncul 'Malapetaka' Bisnis Mal Usai Lebaran, Pengusaha Mulai Gelisah

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
15 April 2026 14:50
Suasana di dalam Pusat Perbelanjaan Gajah Mada Plaza, Jakarta Pusat, Selasa (17/6/2025). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Foto: (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri ritel Tanah Air bersiap menghadapi periode penjualan lemah yang diperkirakan berlangsung lebih panjang tahun ini. Kondisi ini dipicu oleh pergeseran waktu Ramadan dan Idulfitri yang jatuh lebih awal, sehingga fase low season datang lebih cepat dan berdurasi lebih lama dari biasanya.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menjelaskan, situasi ini membuat pelaku usaha harus bersiap menghadapi tekanan penjualan hingga pertengahan bahkan akhir tahun.

"Periode low season tahun ini juga relatif akan lebih panjang karena Ramadan dan Idulfitri datang lebih awal, yaitu pada triwulan pertama yang lalu. Triwulan kedua dan ketiga tahun ini akan menjadi periode low season yang panjang bagi industri usaha ritel di Indonesia," kata Alphonzus kepada CNBC Indonesia, Rabu (15/4/2026).

Menurutnya, kondisi ini semakin berat karena terjadi bersamaan dengan tekanan global, khususnya dampak konflik di Timur Tengah yang turut memengaruhi kondisi ekonomi berbagai negara, termasuk Indonesia.

Suasana di dalam Pusat Perbelanjaan Gajah Mada Plaza, Jakarta Pusat, Selasa (17/6/2025). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Foto: (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Suasana di dalam Pusat Perbelanjaan Gajah Mada Plaza, Jakarta Pusat, Selasa (17/6/2025). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

"Kondisi sulit saat ini akibat dampak perang di Timur Tengah bukan hanya dialami oleh Indonesia saja tetapi juga tentunya dialami oleh banyak negara lainnya. Dampak yang dialami oleh negara kita juga berpotensi mengalami tekanan lebih besar karena waktunya bersamaan dengan dimulainya periode 'low season' sebagaimana biasanya yang terjadi di Indonesia, yaitu pasca-Ramadan dan Idulfitri yang adalah merupakan puncak (peak season) penjualan ritel," jelasnya.

Dalam situasi tersebut, pelaku industri dihadapkan pada tantangan menjaga kinerja penjualan sekaligus menahan kenaikan harga agar tidak semakin menekan daya beli masyarakat.

Alphonzus menekankan pentingnya kolaborasi antara produsen dan pelaku ritel untuk mencari berbagai cara menekan biaya, mulai dari efisiensi hingga inovasi produksi.

"Para produsen bersama stakeholders industri usaha ritel lainnya harus berupaya secara maksimal mencari berbagai opsi atau alternatif untuk meminimalkan kenaikan harga," ucap dia.

Ia menambahkan, industri manufaktur, khususnya tekstil, perlu melakukan inovasi agar biaya produksi bisa ditekan. Di sisi lain, peritel juga dituntut lebih kreatif dalam menjaga harga jual tetap kompetitif.

"Industri manufaktur tekstil harus mengupayakan berbagai inovasi dalam produksi dan produsen bersama peritel harus juga melakukan berbagai kreativitas untuk menekan ataupun meminimalkan kenaikan harga jual," sebutnya.

Meski demikian, ia mengakui kenaikan harga tidak sepenuhnya bisa dihindari. Namun, pelaku industri di sisi hulu diharapkan dapat menahannya, agar tidak memperparah kondisi pasar di tengah low season yang panjang.

(wur) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Mal Jakarta Berubah: Tenant Baru Didominasi F&B, Outdoor Jadi Tren


Most Popular
Features