MARKET DATA

Bos Konstruksi-Properti Merapat! Harga Semen Sudah Mulai Naik Segini

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
14 April 2026 16:40
Sayup suara ombak menyusup hingga ke ruang-ruang sempit Kapal yang tengah bersandar di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, Rabu (29/7/2020) petang itu. Sejumlah anak dengan berani tengah asik melompat bergantian dari atas kapal, sambil berteriak.
Sunda Kelapa adalah nama pelabuhan yang berada di ujung utara Jakarta. Pelabuhan ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Pada zaman kerajaan, Sunda Kelapa adalah pusat perdagangan. Kini, meski telah dimakan usia, pelabuhan ini masih tetap ramai.
Banyak orang mengais rezeki di Pelabuhan Sunda Kelapa. Ada pedagang, nelayan, Anak Buah Kapal (ABK), pemberi jasa sampan, hingga buruh angkut. Semua tumpah ruah menjadi satu. Namun bagi anak-anak sunda kelapa adalah tempat paling asik untuk bermain.

Pelabuhan Sunda Kelapa lambat laun tidak terlihat sesibuk saat masa jayanya. Kini, pelabuhan tersebut dikelola oleh PT Pelindo II dan tidak mengantongi sertifikasi International Ship and Port Security karena sifat pelayanan jasanya hanya untuk melayani kapal antar pulau di dalam negeri.

Dari sisi ekonomi pelabuhan ini masih cukup strategis, mengingat berdekatan dengan pusat-pusat perdagangan di Jakarta seperti Glodok, Pasar Pagi, Mangga Dua, dan lain-lainnya. Menjadi buruh kuli angkut mungkin bukan hal yang dicita-citakn oleh banyak orang. Namun ketika tidak ada lagi keahlian yang bisa ditawarkan selain tenaga kasar maka menjadi buruh kasar sebagai kuli angkut pun harus dijalani.

Setidaknya ini yang tertangkap saat melihat potret para kuli angkut di Pelabuhan Sunda Kelapa Jakarta Utara. Dalam sehari para pekerja kuli angkut ini mampu membongkar muatan dengan berat total 300ton. Beban sebesar ini dikerjakan oleh 20an orang pekerja.  (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)
Foto: Ilustrasi Semen (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan biaya energi mulai terasa langsung di industri semen nasional. Tekanan ini tidak hanya berasal dari sisi bahan bakar, tetapi juga menjalar ke seluruh rantai produksi dan distribusi.

Ketua Pengawas Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) Christian Kartawijaya, mengungkapkan bahwa kondisi saat ini memaksa pelaku industri melakukan penyesuaian, termasuk pada harga jual produk.

Kenaikan biaya operasional terjadi seiring naiknya harga BBM industri yang menjadi tulang punggung berbagai aktivitas produksi, mulai dari penambangan hingga distribusi.

"Jadi memang saat ini beberapa pabrikan di asosiasi perusahaan semen ini kita lagi mengalami kekurangan batu bara. Kenapa? Karena kan RKAB-nya baru dikeluarkan," katanya usai Halal Bihalal, Selasa (14/4/2026).

Dampak dari kondisi tersebut meluas ke berbagai lini biaya. Aktivitas operasional menjadi lebih mahal karena hampir seluruh alat berat dan proses logistik bergantung pada BBM industri.

"BBM industri ini yang naik banyak, nah ini yang membuat satu mining cost, biaya mining naik. Kemudian alat-alat berat kita seperti dump truck, wheel loader, semuanya pakai BBM industri," ujar Christian.

Tidak hanya di dalam pabrik, tekanan biaya juga terjadi pada sektor logistik. Kenaikan harga bahan bakar kapal dan tongkang membuat biaya distribusi melonjak signifikan.

Kondisi ini membuat perusahaan harus menghitung ulang strategi operasional agar tetap bisa bertahan di tengah tekanan biaya yang meningkat.

"Bunker, shipping, barging naik. Jadi tongkang-tongkang, kita bawa semen dan batu bara pakai tongkang dan kapal, itu mengalami kenaikan yang cukup banyak."

Akumulasi dari berbagai kenaikan biaya tersebut akhirnya mendorong penyesuaian harga di pasar, terutama untuk distribusi di luar Pulau Jawa yang memiliki biaya logistik lebih tinggi.

"Ya, jadi saat ini kami sendiri mau nggak mau sudah mulai naik. Jadi sudah mulai naik karena ongkos semua naik banget," ujarnya.

Penyesuaian harga dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan daya beli pasar, meskipun tekanan biaya terus meningkat.

Industri juga harus menghadapi tekanan tambahan dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang berdampak pada komponen biaya produksi.

"Jadi di kita ya, Indocement, naik kurang lebih sekitar 1.500 sampai 2.000 per bag 50 kilo," kata Christian yang juga Presiden Direktur Indocement.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Harga Material Bangunan Dilaporkan Naik, Begini Kondisinya di Penjual


Most Popular
Features