Tiga Lembaga Dunia Bikin Grup Khusus Cegah Krisis akibat Perang Trump
Jakarta, CNBC Indonesia - Para pemimpin tiga lembaga internasional telah sepakat untuk membentuk kelompok khusus yang dijadikan sebagai wadah koordinasi untuk merespons potensi krisis energi dan ekonomi akibat perang di Timur Tengah.
Tiga lembaga internasional itu ialah International Energy Agency, International Monetary Fund, and World Bank Group.
"Para pimpinan Badan Energi Internasional, Dana Moneter Internasional, dan Kelompok Bank Dunia telah sepakat untuk membentuk suatu kelompok koordinasi guna memaksimalkan respons lembaga masing-masing terhadap dampak energi dan ekonomi dari perang di Timur Tengah," dikutip dari pernyataan bersama ketiga pimpinan lembaga internasional itu, Kamis (2/4/2026).
Mereka menyebut, peperangan di Timur Tengah saat ini telah menyebabkan gangguan besar terhadap kehidupan dan mata pencaharian di kawasan tersebut serta memicu salah satu kekurangan pasokan terbesar dalam sejarah pasar energi global.
Peperangan yang dimulai oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Israel dengan menggempur Iran pada 28 Februari 2026 mereka anggap juga telah memberikan dampak signifikan aktivitas ekonomi dunia, tercermin dalam kenaikan harga minyak, gas, dan pupuk, serta menimbulkan kekhawatiran terhadap harga pangan.
"Dampaknya bersifat signifikan, global, dan sangat tidak merata, dengan beban yang secara tidak proporsional ditanggung oleh negara-negara pengimpor energi, khususnya negara berpendapatan rendah," sebagaimana termuat dalam joint statement pimpinan IEA, IMF, dan World Bank itu.
Mereka mengatakan, rantai pasok global-termasuk helium, fosfat, aluminium, dan komoditas lainnya-juga terdampak, demikian pula sektor pariwisata akibat gangguan penerbangan di sejumlah pusat penerbangan utama di kawasan Teluk.
Volatilitas pasar yang dihasilkan, pelemahan mata uang di negara-negara berkembang, serta kekhawatiran terhadap ekspektasi inflasi mereka tegaskan telah meningkatkan kemungkinan pengetatan kebijakan moneter dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
"Dalam kondisi ketidakpastian yang tinggi seperti saat ini, sangat penting bagi lembaga-lembaga kami untuk bersinergi dalam memantau perkembangan, menyelaraskan analisis, serta mengoordinasikan dukungan kepada para pembuat kebijakan dalam menghadapi krisis ini," tegas mereka.
Mereka juga menilai, penting bagi negara-negara yang paling terdampak oleh efek lanjutan dari perang serta negara-negara yang memiliki ruang kebijakan yang lebih terbatas dan tingkat utang yang lebih tinggi harus menyusun langkah-langkah antisipatif dari dampak makin buruk efek perang itu.
Untuk memastikan respons yang terkoordinasi, ketiga lembaga internasional itu menyebut telah sepakat untuk membentuk suatu kelompok yang akan:
1. Menilai tingkat keparahan dampak di berbagai negara dan kawasan melalui pertukaran data terkoordinasi mengenai pasar dan harga energi, arus perdagangan, tekanan fiskal dan neraca pembayaran, tren inflasi, pembatasan ekspor komoditas utama, serta gangguan rantai pasok.
2. Mengoordinasikan mekanisme respons yang dapat mencakup: pemberian saran kebijakan yang terarah, penilaian kebutuhan pembiayaan potensial serta penyediaan dukungan keuangan terkait (termasuk melalui pembiayaan bersyarat lunak), dan penggunaan instrumen mitigasi risiko sesuai kebutuhan.
3. Memobilisasi para pemangku kepentingan terkait, termasuk mitra multilateral, regional, dan bilateral lainnya, untuk memberikan dukungan yang terkoordinasi dan efisien kepada negara-negara yang membutuhkan.
Kelompok ini akan bekerja sama dengan, serta memanfaatkan keahlian, organisasi internasional lainnya sesuai kebutuhan.
"Kami berkomitmen untuk bekerja sama dalam menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan global, memperkuat ketahanan energi, serta mendukung negara dan masyarakat yang terdampak dalam mencapai pemulihan yang berkelanjutan, pertumbuhan ekonomi, dan penciptaan lapangan kerja melalui reformasi," ucap para pempimpin tiga lembaga itu dalam joint statement.
Sebagaimana diketahui, khusus harga minyak dunia, saat ini kembali berbalik arah dan melonjak tajam. Pada perdagangan Kamis (2/4/2026), setelah sebelumnya sempat tertekan, lonjakan ini terjadi di tengah eskalasi konflik geopolitik yang semakin memanas di Timur Tengah.
Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.30 WIB, harga minyak Brent berada di level US$106,16 per barel, naik dari posisi penutupan sebelumnya di US$101,16. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat di US$104,32 per barel, menguat dari US$100,12.
Kenaikan ini setara dengan lonjakan sekitar 4,9% untuk Brent dan 4,2% untuk WTI dalam sehari. Pergerakan tersebut terjadi setelah harga minyak sempat melemah pada sesi sebelumnya, bahkan jauh dari level tertinggi pekan ini.
Jika ditarik ke belakang, harga minyak sempat menyentuh US$118,35 per barel pada 31 Maret 2026 untuk Brent. Artinya, dalam waktu singkat pasar mengalami volatilitas ekstrem-dari lonjakan tajam, koreksi dalam, lalu kembali reli.
Sentimen utama datang dari perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa serangan terhadap Iran akan terus berlanjut, termasuk menyasar fasilitas energi dan minyak dalam beberapa pekan ke depan. Pernyataan ini langsung mengubah arah pasar yang sebelumnya cenderung wait and see.
Ketegangan di kawasan juga meningkat setelah sebuah kapal tanker minyak yang disewa QatarEnergy dilaporkan terkena rudal jelajah Iran di perairan Qatar. Insiden ini memperbesar kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi global, terutama di sekitar Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.
Dari sisi pasokan, International Energy Agency (IEA) telah memberi peringatan bahwa gangguan suplai mulai terasa, khususnya di Eropa pada April. Selama ini, kawasan tersebut masih relatif aman karena pasokan kontrak lama, namun kondisi itu mulai berubah seiring konflik yang berlarut.
(arj/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]