MARKET DATA

PMI Manufaktur RI Turun ke 50,1, Begini Analisa Kantor Purbaya

Zahwa Madjid,  CNBC Indonesia
02 April 2026 08:30
Kemenkeu Akui Manufaktur RI Terdampak Perang Dagang
Foto: CNBC Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Maret tercatat di 50,1 lebih rendah jika dibandingkan pada Februari di 53,8.

Penurunan tersebut dipengaruhi oleh penyusutan n permintaan baru dan ekspor, serta meningkatnya biaya input seiring kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok global, termasuk keterlambatan pengiriman bahan baku yang menahan aktivitas produksi.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu dalam keterangan resminya menjelaskan secara fundamental, industri manufaktur domestik tetap terjaga, didukung permintaan domestik yang stabil serta optimisme pelaku usaha terhadap prospek ke depan.

Dengan adanya beberapa tantangan seperti kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok internasional akibat eskalasi geopolitik global, serta libur dalam rangka Hari Besar Keagamaan Nasional, PMI tetap di zona ekspansi.

"Hal ini menegaskan ketahanan fundamental sektor manufaktur nasional dan upaya Pemerintah untuk terus antisipatif terhadap risiko ke depan," ujar Febrio dalam keterangan resminya dikutip Kamis (2/4/2026).

Sementara dari sisi eksternal sentimen bisnis tetap terjaga, didukung oleh ekspektasi permintaan global yang tercermin dari PMI manufaktur negara mitra dagang yang masih berada pada zona ekspansif

Sejumlah mitra dagang utama Indonesia menunjukkan level PMI manufaktur yang ekspansif, seperti Vietnam (51,2), Filipina (51,3), Thailand (54,1), India (53,8), dan Amerika Serikat (52,4), serta perbaikan di kawasan Eropa dengan Eurozone yang kembali ekspekspansif (51,4), menjadi sinyal positif bagi prospek ekspor manufaktur nasional.

Dari sisi domestik, Indeks Penjualan Riil (IPR) Februari 2026 yang tumbuh 6,9% (yoy), didorong oleh meningkatnya permintaan selama Ramadan dan menjelang Idulfitri 1447 H.

Pada sektor otomotif, penjualan mobil tumbuh tinggi 12,2% (yoy) dan penjualan sepeda motor masih tumbuh positif. Aktivitas sektor riil juga menunjukkan ekonomi tetap kuat. Seperti penjualan semen yang tumbuh 5,3% serta konsumsi listrik sektor bisnis dan industri yang tetap positif.

Optimisme masyarakat tetap kuat, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Februari yang berada pada level 125,2. Hal ini didukung oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang meningkat menjadi 115,9 dari 115,1 pada bulan sebelumnya, serta Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang tetap berada pada levelmoptimis sebesar 134,4.

Dari sisi harga, di tengah tekanan permintaan di masa Ramadan dan Idulfitri, inflasi IHK Maret 2026 tetap terkendali pada 3,5% (yoy), menurun dibandingkan Februari 4,8% (yoy), dipengaruhi penurunan inflasi pada seluruh komponen, terutama administered price dan volatile food.

"Terjaganya inflasi selama periode Ramadan dan Idul Fitri turut didukung upaya Pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan, seperti insentif diskon transportasi, bantuan pangan, serta pengendalian inflasi dengan operasi pasar, intervensi harga, dan pengawasan distribusi," ujarnya.

(mij/mij) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Airlangga Bawa Kabar Baik, Ekonomi RI Mulai Bangkit


Most Popular
Features