Industri Logam RI Lagi Ekspansif Efek Food Tray MBG? Ini Penjelasannya
Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja industri barang logam bukan mesin dan peralatannya (KBLI 25) menunjukkan tren ekspansi pada Maret 2026. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) sektor ini tercatat berada di level 54,04, artinya aktivitas manufaktur yang masih tumbuh di tengah dorongan permintaan dari berbagai sektor hilir.
Permintaan dari sektor otomotif hingga program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis menjadi penopang, salah satunya pada permintaan food tray. Namun, Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief menekankan, cakupan industri logam dalam KBLI 25 sangat luas dan tidak hanya terfokus pada satu jenis produk tertentu.
"Industri barang logam, (yang) bukan mesin dan peralatannya itu contoh besi cor ya, besi baja, terus untuk permesinan, terus juga untuk otomotif dan segala macam. Jadi food tray itu hanya sebagian kecil dari itu," kata Febri di kantor Kemenperin, Selasa (31/3/2025).
Ia juga menjelaskan kemunculan isu food tray belakangan ini berkaitan dengan regulasi baru yang diterbitkan pemerintah untuk mendorong standar produk di dalam negeri.
"Kenapa ini ada muncul food tray ini? Ya ini karena kita kemarin sudah menerbitkan Permenperin 1 tahun 2026. Food tray hanya bagian kecil dari komoditas atau barang di KBLI 25 itu ya," ujarnya.
Regulasi yang dimaksud adalah Permenperin No 1 Tahun 2026 yang mengatur pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib untuk wadah makanan berbahan baja tahan karat atau food tray. Kebijakan ini diharapkan mampu melindungi konsumen dari produk impor yang tidak memenuhi standar sekaligus memberi ruang bagi produsen lokal untuk berkembang.
Di sisi lain, pemerintah juga mengakui adanya peningkatan kebutuhan produksi food tray dalam negeri, meski bukan menjadi faktor utama yang mendorong ekspansi industri secara keseluruhan.
Sekretaris Direktorat Jenderal ILMATE (Kemenperin) Sri Hastuti Nawaningsih mengungkapkan, produksi tersebut disiapkan untuk mendukung kebutuhan program tertentu.
"Untuk yang bahan food tray memang, Pak, dipersiapkan beberapa produksi untuk itu dalam rangka kebutuhan untuk MBG," kata Hastuti.
Kinerja sektor logam tidak semata-mata dipicu oleh produksi food tray, melainkan ditopang oleh permintaan yang lebih luas dari berbagai sektor industri.
"Terkait 54 persen ini menunjukkan nilai IKI-nya Mas, nilai IKI-nya bahwa masih pada fase ekspansi. Nah, di sini kan kita bisa melihat bahwa hal ini didukung oleh meningkatnya permintaan domestik terkait untuk sektor konstruksi, pemesinan otomotif, dan industri alat angkut lainnya. Memang ini nggak hanya MBG, tapi semua yang ada di situ," ujarnya.
Foto: Jubir Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief (tiga dari kiri) dalam Rilis IKI di kantor Kemenperin, Selasa (31/3/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)Jubir Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief (tiga dari kiri) dalam Rilis IKI di kantor Kemenperin, Selasa (31/3/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi) |
source on Google [Gambas:Video CNBC]
Foto: Jubir Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief (tiga dari kiri) dalam Rilis IKI di kantor Kemenperin, Selasa (31/3/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)