MARKET DATA
Internasional

Perang Iran Telan Korban Baru, Industri Minuman Terancam Kolaps

tps,  CNBC Indonesia
26 March 2026 05:00
Customers drink beers at a cafe terrace in Paris, Wednesday, May, 19, 2021. It's a grand day for the French. Cafe and restaurant terraces reopened Wednesday after a six-month coronavirus shutdown deprived residents of the essence of French
Foto: Ilustrasi Bir (AP/Lewis Joly)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dampak perang Iran semakin meluas dan kini mulai menghantam sektor industri, termasuk industri minuman di India. Produsen global memperingatkan potensi lonjakan harga hingga gangguan pasokan besar-besaran akibat krisis energi di Timur Tengah.

Tekanan langsung dirasakan pelaku industri. Asosiasi Produsen Bir India (BAI), yang mewakili perusahaan global seperti Heineken, Anheuser-Busch InBev, dan Carlsberg, melaporkan lonjakan signifikan biaya produksi.

Harga botol kaca tercatat naik sekitar 20%, sementara harga karton kertas melonjak hingga dua kali lipat. Kenaikan juga terjadi pada berbagai bahan kemasan lain seperti label dan selotip.

Direktur Jenderal BAI, Vinod Giri, mengatakan industri saat ini berada di bawah tekanan berat dan tengah mengajukan kenaikan harga. "Kami meminta kenaikan harga dalam kisaran 12-15%," ujarnya, dikutip Kamis (26/3/2026).

Ia menambahkan, lonjakan biaya produksi membuat sejumlah aktivitas operasional menjadi tidak berkelanjutan.

Dari sisi hulu, tekanan juga tak kalah besar. CEO Fine Art Glass Works, Nitin Agarwal, mengungkapkan pihaknya terpaksa memangkas produksi akibat kekurangan pasokan gas. "Kami telah memotong produksi sebesar 40% dan menaikkan harga 17-18%," katanya.

Kondisi ini berdampak langsung pada pasokan botol kaca untuk berbagai industri, mulai dari minuman beralkohol hingga produk konsumsi lainnya.

Situasi tersebut mengancam industri bir India yang bernilai sekitar US$7,8 miliar atau setara Rp124,8 triliun pada 2024 dan diperkirakan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan. Namun, kenaikan harga tidak mudah dilakukan karena sektor alkohol di India diatur ketat dan membutuhkan persetujuan pemerintah negara bagian.

Asosiasi industri memperingatkan produsen berpotensi kesulitan mempertahankan pasokan di wilayah yang tidak mengizinkan penyesuaian harga, sehingga risiko kelangkaan produk di pasar semakin besar.

Dampak krisis kini mulai merembet ke sektor lain. Pasar air minum dalam kemasan di India yang bernilai sekitar US$5 miliar atau Rp80 triliun turut terdampak, dengan sejumlah produsen telah menaikkan harga sekitar 11% akibat lonjakan biaya bahan baku seperti botol plastik dan tutupnya.

Kelangkaan gas menjadi pemicu utama tekanan ini. Gangguan ekspor dari Qatar, yang menyumbang sekitar 40% pasokan gas India, mendorong biaya produksi, khususnya untuk pembuatan botol kaca. Di saat yang sama, keterlambatan pengiriman aluminium untuk kaleng turut memperparah rantai pasok.

India sendiri berada dalam posisi rentan sebagai importir gas alam terbesar keempat di dunia. Ketergantungan tinggi terhadap pasokan energi dari Timur Tengah membuat industri domestik sangat sensitif terhadap gejolak geopolitik.

(tps) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran Nyatakan Perang Skala Penuh Lawan AS-Israel Cs


Most Popular
Features