MARKET DATA

BMKG & BRIN Ungkap Prediksi Idulfitri 2026 atau 1 Syawal 1447 Hijriah

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
14 March 2026 14:30
Ilustrasi Melihat Hilal. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki/File Foto)
Foto: Ilustrasi Melihat Hilal. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki/File Foto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perayaan Idul Fitri 1447 H diperkirakan akan berbeda. Hal ini sama seperti penetapan awal puasa tahun 2026 lalu.

Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1447 H pada 20 Maret 2026. Sementara pihak pemerintah baru mengumumkannya usai sidang isbat pekan depan.

Lalu bagaimana prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk lebaran tahun ini?

Peneliti BRIN, Thomas Djamaluddin mengatakan kemungkinan 1 syawal jatuh pada Sabtu (21/3/2026). Dia menjelaskan posisi hilal pada Kamis (19/3/2026) secara astronomis pada Magrib di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi kriteria Menteri Agam Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Sebagai informasi, kriteria MABIMS menetapkan awal hijriah seperti Ramadhan dan Syawal berdasarkan visibilitas tinggi hilal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat.

"Pada saat Maghrib 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara posisi hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS, maka 1 Syawal 1447 = 21 Maret 2026," kata Thomas dikutip dari CNN Indonesia, Sabtu (14/3/2026).

Namun hasil berbeda bisa didapatkan jika menggunakan kriteria lain seperti yang digunakan Turki, yakni lebaran akan jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026.

Sementara BMKG mengungkapkan datya pengamatan hilal penentuan awal bulan Hijriah. Disebutkan posisi hilal 19 Maret 2026 diperkiakan belum memenuhi kriterian MABIMS.

Sebab saat itu, ketinggian hilal saat Matahari terbenam berkisar 0,91 derajat di Merauke Papua hingga 3,13 derajat di Sabang, Aceh. Untuk elongasi geosentris saat Matahari terbenam diperkirakan berada pada rentang 4,54 derajat di Waris, Papua hingga 6,1 derajat di Banda Aceh.

BMKG juga mengingatkan adanya objek astronomi yang berpotensi mengganggu pengamatan hilal. Dalam proses rukyat, pengamat perlu mempertimbangkan kemungkinan munculnya planet atau bintang terang yang berdekatan dengan Bulan, kemudian disalahartikan menjadi hilal.

Dari data dan mengacu pada kriteria MABIMS, kemungkinan hilal belum terlihat pada 19 Maret 2026. Saat kondisi ini terjadi, Idul Fitri tahun ini pada 21 Maret 2026.

(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article BRIN Jelaskan Fenomena Hot Spell, Bongkar Nasib Jakarta-Semarang


Most Popular
Features