Bahlil Lapor Prabowo RI Tak Impor Produk BBM dari Timur Tengah
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meleporkan status ketahanan energi nasional kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Dalam laporannya, Bahlil menegaskan bahwa Indonesia sama sekali tidak mengimpor produk Bahan Bakar Minyak (BBM) jadi dari kawasan Timur Tengah.
Laporan tersebut disampaikan Bahlil dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026).
Bahlil menjelaskan bahwa pasokan energi yang didatangkan dari Timur Tengah hanyalah berupa minyak mentah (crude oil), dengan porsi sekitar 20% dari total impor. Sementara itu, untuk produk BBM jadi seperti bensin, pemerintah mendatangkannya dari negara-negara tetangga di Asia Tenggara.
"Yang kita impor sebenarnya dari Middle East itu apa. Kita tidak melakukan impor produk jadi dari Middle East. Nah yang kita impor dari Middle East itu Bapak adalah crude-nya. Jadi minyak mentahnya itu 20% memang dari Middle East," ujar Bahlil dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026).
Bahlil menjelaskan, kebutuhan produk jadi seperti solar saat ini sudah bisa dipenuhi dari dalam negeri. Hal ini didukung oleh program pencampuran biodiesel serta beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan yang baru saja diresmikan.
Proyek RDMP tersebut diklaim mampu mengurangi impor bensin sebesar 5,5 juta ton dan solar sebesar 3,5 juta ton.
Saat ini, produk BBM jadi yang masih diimpor oleh Indonesia hanya tersisa jenis bensin. Bahlil menyebut pasokan bensin tersebut didatangkan dari negara tetangga, yakni Malaysia dan Singapura.
Sementara untuk kebutuhan minyak mentah selain dari Timur Tengah dengan porsi 20%, pemerintah mendatangkan dari berbagai negara lain seperti Angola, Nigeria, Brasil, Amerika Serikat, dan Malaysia.
Ke depannya, Bahlil menargetkan pengembangan kilang di dalam negeri agar seluruh produk BBM jadi bisa diproduksi secara domestik.
"Ke depan memang Bapak tidak ada cara lain kita harus mengembangkan refinery kita, kilang-kilang kita untuk semua kita produksi dalam negeri. Nanti kalau lifting kita nggak mencapai 1,6 juta, selisih antara kebutuhan crude dan kemampuan kita lifting itulah yang kita impor. Jadi ke depan itu tinggal impor crude aja Bapak," tandasnya.
(wur) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]