Qatar Bantah Mainkan Gas Dunia, Tuduh Israel Tebar Fitnah
Jakarta, CNBC Indonesia - Qatar menepis tuduhan sejumlah media Israel yang menyebut negara itu sengaja menghentikan produksi gas alam cair (LNG) untuk memengaruhi harga energi di Amerika Serikat (AS). Pemerintah Qatar menyebut klaim tersebut sebagai upaya untuk menciptakan perpecahan antara Doha dan Washington.
Seorang pejabat senior Qatar mengatakan keputusan terkait sektor energi tidak didorong oleh kepentingan politik.
"Qatar akan selalu memprioritaskan keselamatan rakyat di atas keuntungan politik atau ekonomi," ujar pejabat tersebut kepada Al Jazeera dalam pernyataan resmi, Kamis (12/3/2026).
Ia juga menyinggung tudingan yang beredar dari kalangan media Israel. Menurutnya, klaim tersebut merupakan bagian dari narasi yang mencoba memanfaatkan situasi ketidakstabilan global untuk memicu ketegangan baru di kawasan.
"Tidak mengherankan bahwa juru bicara tidak resmi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mencoba memanfaatkan periode ketidakstabilan global ini untuk menabur ketegangan dan perpecahan lebih lanjut di seluruh wilayah," kata pejabat itu.
Sebelumnya, perusahaan energi negara QatarEnergy menghentikan sementara produksi LNG pekan lalu setelah serangan drone Iran yang menargetkan fasilitas energi di Qatar. Langkah tersebut sempat menekan pasar LNG global, mengingat Qatar merupakan pemasok sekitar 20% kebutuhan LNG dunia.
Kementerian Pertahanan Qatar menyebut drone Iran menyerang dua lokasi, yakni sebuah tangki air di pembangkit listrik di Kota Industri Mesaieed serta fasilitas energi di Ras Laffan yang dioperasikan oleh QatarEnergy, produsen LNG terbesar di dunia.
Pejabat Qatar juga menanggapi pernyataan yang diunggah di platform X oleh analis politik Israel Amit Segal dari N12News. Segal sebelumnya menyebut penghentian produksi gas sebagai indikasi "koordinasi antara Iran dan Qatar untuk menutup fasilitas tersebut guna menekan agar perang berakhir."
Menurut pejabat Qatar, klaim tersebut tidak berdasar dan justru berupaya menciptakan kesan adanya perpecahan antara AS dan Qatar. Ia juga menilai tudingan itu merupakan bagian dari pola laporan yang menyesatkan dalam beberapa hari terakhir.
"Tuduhan ini adalah yang terbaru dalam pola laporan palsu yang dibuat Segal, termasuk klaim yang sangat tidak bertanggung jawab bahwa Qatar menyerang Iran," ujarnya.
Pemerintah Qatar menegaskan narasi semacam itu berpotensi memperburuk situasi di kawasan yang saat ini membutuhkan upaya de-eskalasi. Menurutnya, penyebaran informasi yang tidak akurat dapat menciptakan preseden berbahaya bagi stabilitas regional.
(tfa/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]