Perang di Iran Makin Tak Terkendali, Trump Pusing Sendiri
Jakarta, CNBC Indonesia - Perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan risiko tekanan besar terhadap perekonomian AS. Dampaknya terhadap ekonomi global kini sangat bergantung pada seberapa cepat jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kembali normal.
Presiden AS Donald Trump menyatakan konflik tersebut sebagai kemenangan cepat bagi Washington. Jika menurut Trump, "Kita menang, dalam satu jam pertama semuanya berakhir," tetapi pasar energi menunjukkan kekhawatiran berbeda karena gangguan terhadap pengiriman minyak dari kawasan Teluk masih terjadi.
Lonjakan ketegangan di Timur Tengah telah mendorong harga minyak global melonjak hingga di atas US$100 (Rp1,69 juta) per barel. Eskalasi konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Para analis menilai tekanan terhadap ekonomi AS akan sangat ditentukan oleh lamanya konflik berlangsung. Jika perang berkepanjangan dan lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz terus terganggu, harga energi berpotensi naik lebih tinggi dan memicu tekanan inflasi.
Peneliti senior di Center for a New American Security, Rachel Ziemba, mengatakan konflik yang berlarut-larut dapat membuat harga energi semakin mahal dan bergejolak bagi konsumen.
"Jika perang ini berlarut-larut dan terutama jika intensitasnya tetap seperti ini, harga akan lebih tinggi dan lebih fluktuatif bagi konsumen," ujarnya, seperti dikutip Al Jazeera.
Menurutnya, harga minyak bisa kembali stabil lebih cepat jika konflik berakhir dalam waktu singkat dan situasi kawasan kembali kredibel serta stabil.
Lonjakan harga energi juga meningkatkan risiko resesi bagi ekonomi AS. Kepala Institut Kebijakan Energi Universitas Chicago, Sam Ori, mengatakan dalam sejarah ekonomi modern, resesi sering terjadi ketika harga minyak mencapai sekitar 4-5% dari produk domestik bruto (PDB) dan bertahan tinggi dalam waktu lama.
Ia memperkirakan resesi bisa terjadi jika harga minyak bertahan di kisaran US$140 (sekitar Rp2,37 juta) per barel sepanjang tahun ini. Risiko tersebut bahkan bisa muncul lebih cepat jika Selat Hormuz, jalur yang menyalurkan lebih dari seperlima pasokan minyak dunia, ditutup dalam waktu lama.
Dampak kenaikan harga minyak juga mulai dirasakan langsung oleh konsumen AS. Analis GasBuddy, Patrick DeHaan, mengatakan harga rata-rata bensin nasional telah naik menjadi sekitar US$3,59 per galon, meningkat sekitar 65 sen sejak Februari.
Menurut DeHaan, harga bensin dapat turun kembali dalam beberapa minggu jika konflik segera berakhir. Namun setiap minggu perang berlanjut berpotensi mendorong kenaikan harga tambahan sekitar 25 hingga 40 sen per galon.
Tekanan inflasi akibat lonjakan energi juga meningkatkan risiko munculnya kembali "stagflasi", yaitu kondisi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang stagnan dan pengangguran tinggi.
Direktur fakultas Energy Institute di Haas School of Business University of California Berkeley, Severin Borenstein, mengatakan situasi tersebut akan menjadi tantangan besar bagi bank sentral AS. "Tentu ada kekhawatiran tentang stagflasi lagi," ujarnya.
Jika inflasi meningkat, Federal Reserve (The Fed) akan menghadapi dilema kebijakan. Menurunkan suku bunga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi namun berisiko memperburuk inflasi, sementara menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi justru dapat memperlambat perekrutan tenaga kerja.
(tfa/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]